
Global Cyber News.Com|Budaya kritik dan mengkritik serta dikritik itu sudah menjadi budaya suku bangsa Indonesia sejak jaman entah berantah.
Ya, memang kritik itu patut dilakukan dengan sopan dan santun. Cara yang sopan dan santun pun karena orang dikritik itu orang sopan dan santun pula. Jadi untuk mengkritik orang yang ndablek ya, harus agak keras. Seperti makan bakso Malang misalnya, kalau nggak pedes orang yang makan bisa jadi curiga keaslian dari bakso itu, apakah sungguh dibuat dengan menu dan Arek Malang sebdiri.
Kalau di kampung Kakek saya, ada tradisi kritik — bahkan kritik dan mengkritik itu menjadi keahlian yang bisa dibsnggakan juga. Karena budaya mengkritik — masuk sampai ke wilayah kesenian. Begitulah pada umumnya syair dari pantun bersaut dilakukan di Sumatra. Mulai dari Lampung sampai Aceh dan Sabang ada tradisi pantun bersahut. Hanya saja ada yang mati suri dan yang timbul tenggelam kayak kodok di sawah kekurangan air dari urigasi yang mampet.
Tradisi pantun bersaut itu sudah dimulai sejak anak-anak di Sumatra saat masih remaja. Sebab acara bujang gadis (Cangget, miyeh damar atau ngedio) seperti di Lampung, justru dilakukan sejak remaja ketika hendak menjalin cibta. Jadi budata kritik dan sindir menyindir pun dapat menjadi penakar ilmu dan pengetahuan serta wawasan hingga kepiawaian seseorang, apakah dia memang cedas, pemalu atau sering malu-maluin saja sebagai calon pasangan hidup yang sedang ditimbang-timbang kadar mutunya.
Jadi budaya kritik, dikritik dan mengkritik itu bagian dari budaya bangsa yang cerdas. Tak perlu cemas. Sebab etika dan moral mereka yang mengkritik pun akan dinilai oleh publik, bukan lembaga akreditasi apapun yang ada di muka bumi. Apalagi cuma perguruan tinggi yang memberi pengakuan atau pengesahannya seperti gelar Profesor sekali pun.
Agaknya, itulah sebabnya dulu ketika BPIP (Badan Pembina Ideoligi Pancasila) genit-genitan dibuat, komentar pedas pun terus dimuntahkan oleh berbagai pihak. Sebab ideologi itu sepatutnya dibina oleh partai politik, namun toh realitasnya semua parpol memble. Tak pernah melakukan kaderisasi lewat pelatihan maupun pendidikan.
Lalu Badan Pembina Ideologi Pancasila itu sendiri siapa. Janganlah sampai menambah kacau bagi banyak orang yang tengah bingung menghitung jumlah orang yang cuma mengaku-aku lebih Pancaila dari orang lain. Semenrara sikap ugahari bagi orang yang tak suka sesumbar justru yang paling ngelotok anak turunan dari sila-sila Pancasila.
Maka itu banyak orang menhadi iba dan sedih, lantaran Pancasila terkesan sudah babak belur ditenteng ke mana-mana jadi barang jualan.
Pendek cerita, kritik mengkritik itu hendaknya dilihat sebagai bagian dari seni. Sebab dijaman Raja-raja yang asli dahulu, rakyat melakukan aksi pepe di alun-alun cuma ditanya masalah apa oleh Raja. Terus selesailah masalahnya. Sebab sang Raja yang bijak terus menyelesaikan masalah yang dialami rakyat itu. Misalnya karena sawahnya tidak mendapat air dari urigasi seperti yang pernah dijanjikan oleh pamong setempat.
Aksi unjuk rasa seperti pepe fi alun-alun itu biasanya sudah dilakukan secara bertahap. Tapi karena Raja terlalu sibuk, ya jadi lupa menilik janjinya yang terabaikan itu. Makanya jadi unjuk pepe di alhn-alun — berjemur berhari-hari — seperti Emak-emak di depan Istana Merdeka Jakarta karena menuntut pengusutan anak-anak mereka yang dibunuh secara keji saat aksi unjuk rasa juga dulunya. Tentu lebih celaka lagi kalau protes dan unjuk rasa itu tak pernah digubris. Sehingga perlu buat sensasi membawa peralatan dapur sambil membuat aransemen musik sekenanya saja dari peralatan dapur itu di depanjang jalan menuju Istana Merdeka.
Tradisi kritik di Sumatra dan Sulawesi juga sudah menjadi tradisi dan budaya sejak jaman Raja dan Ratu yang terkenal dengan kesepakatan bila Raja alim, maka patut sembah (dihormati). Tapi kalau Raja zalim, harus disanggah. Bahkan bila perlu dilengserkan seperti tradisi yang telah berlaky sejak lama itu.
Lantas apa masalahnya sekarang kok tradisi dan budaya kritik mengkritik itu jadi begitu tabu ?
Sementara budaya korupsi, menipu dan berbohong terus dibiarkan berkembang biak, hingga semua sumber duit rakyat habis digasak. Contoh nyata semua asuransi — tidak kecuali milik ABRI (karena namanya masih Asabri sampai sekarang) habis. Puput put semua dana asuransi yang menyimpan duit rakyat dan para prajurii TNI kita itu. Begitu juga keji dan kejamnya penilep dana bantuan sosial bagi rakyat yang diembat pula. Lalu pernahkah para maling itu bertanya; makan apa rakyat yang tak pernah menerima bansos itu sekarang ?
Atau nilai bansos yang nilainya sedikit itu pun dientit juga ?
Alamak, bisa tak makan siang pula aku jadinya kalau kuteruskan cerita ini.
Serpong, 31 Juni 2021
Red.