Friday, March 1, 2024
HomeOpiniJacob Ereste :Egosentrisitas Kaum Pergerakan di Indonesia Yang Tidak Mampu atau Tak...
spot_imgspot_img

Related Posts

Featured Artist

Jacob Ereste :Egosentrisitas Kaum Pergerakan di Indonesia Yang Tidak Mampu atau Tak Mau Membangun Kebersamaan

Global Cyber News.Com|Membangun kesadaran warga masyarakat untuk berperan serta menjaga dan membangun bersama warga bangsa lainnya dalam bentuk apapun demi dan untuk kemajuan bersama segenap warga bangsa Indonesia lainnya menjadi bangsa dan negara yang maju dan kuat memang tidak mudah. Karena yang dominan terjadi adalah mengedepankan egosentriditasnya masing-masing.

Dari sejumlah kelompok kaum pergerakan sendiri misalnya dapat ditandai egosentriditas itu yang dominan mengedepankan sikap dan sifat akuismenya atau cuma untuk mengangkat populeritas krlompok atau institusinya masing,-masing, hingga nyaris tidak memberi kesempatan bagi kelompok lain untuk tampil. Apalagi hendak melakukan aksi solidaritas untuk kelompok yang lain. Namun harapan untuk memperoleh dikungan selalu saja dinyinyirkan dengan cara memberi kesan atau bahkan anggapan bahwa apa yang dilakukan oleh pihak lain itu tak sisinya yang benar.

Begitulah upaya untuk mendapat dukungan dengan caravmerendahkan pilihan sikap atau pilihan cara dari kelompok yang lain itu seperti tidak ada yang benar sefikit pun, kecuali ide dan gagassn yang fimiliki dan dilskukan oleh kelompoknya sendiri.

Realitas ini umumnya terjadi dalam semus kelompok, sehingga nagi datu kelompok yang tidak secara pulgar memberi dukungan, maka kelompok tersebut seketika itu bisa dianggap berseberangan dengan kelompok yang cenderung diyakininya adalah yang terbaik dan paling ideal dibanding dengan kelompok lain itu.

Egosentrisitas kelompok ini tampak jelas menjadi penyakit bawaan secara umum bagi kelompok maupun lembaga serta organisasi kemasyarakatan, meski visi dan missinya relatif sama dalam satu tujuan tertentu. Dari puluhan jumlah krganisasi buruh saja misalnya, sikap solidatitas terhadap organisasi yang datu kepada organisasi buruh yang lain saja seperti belum pernah terjadi dalam sejarah aktivitas dari pergerakannya di republik ini. Apalagi untuk organisasi yang memiliki muatan politik, seperti tak pernah bisa untuk diharapkan terjadi.

Agaknya, sebagai penyebabnya yang utama adalah rasa persaingan untuk tampil menjadi lembaga atau suatu kelompok agar dapat memperoleh kesan lebih unggul dari kelompok atau lembaga lain yang cenderung dianggap sebagai pesaing.

Artinya, kehadiran dari lembaga atau kelompok tersebut jelas tidak untuk berjuang guna nengatasi masalah yang tengah merundung orang seorang atau kelompok tertentu — seperti masalah krusial bagi kaum buruh yang termena PHK misalnya, tetapi sekedar demi dan untuk memperoleh keuntungan semata, meski bukan dalam bentuk materi, tapi bisa saja semacam akes politik, atau untuk mendapat jabatan tertentu semacam akses dan peluang datu usaha yang bisa mendatangkan lebih banyak keuntungan, tak cuma sebatas finansial belaka.

Tampaknya begitulah realitas sosial dan budaya politik di Indonesia dalam pencermatan langsung maupun keluhan dar sejumlah responden yang menjadi nara sumber langsung dari lapangan. Sikap tendah hati dan keinginan saling memberi dukungan kepada kelompok, utau organisasi maupun lembaga lain — kendatipun persis dan sama konstituennya– nyaris tak ada sikap solidaritas yang tersisa untuk diberikan kepada sesama organisasi atau lembaga yang sama tujuannya.

Inilah pertanyaan pokok yang patut dijawab oleh para tokoh atau ini penggerak dari pihak organisasi pergerakan yang pada umumnya mengatasnaman berjuang untuk rakyat Indonesia. Sikap eksklusif yang terbangun dengan sendirinya itu, justru terjadi tanpa disadari semakin membesar. Hingga menjadi pengukuh dari trade made yang mempunyai nilai tawar, meski akibatnya harus merendahkan nilai tawar bagi pihak yang lain.

Banten, 7 Juli 2021

Red.

Latest Posts