
Global Cyber News.Com|-Langkat I Gubernur Sumut Edy Rahmayadi akan terus memacu produksi jagung Sumut. Menurutnya jagung memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian Sumut dan mensejahterakan petani.
Sumut diprediksikan mampu memproduksi jagung sekitar 1,7 juta ton dalam satu tahun dengan luas lahan 284.549 Ha. Sampai saat ini menurut keterangan Edy Rahmayadi usai acara Penen Jagung Nusantara di Desa Namukur Utara, Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat, produksi jagung di Sumut kurang lebih mencapai 1 juta ton dan masih surplus 35.986 ton.
“Indonesia masih butuh jagung dalam jumlah yang besar, kita upayakan sebagian dipenuhi Sumut. Tahun depan kita juga rencanakan pembangunan pabrik pakan ternak sehingga kebutuhan jagung akan meningkat. Kita perlu pacu produksi jagung kita,” kata Edy Rahmayadi, Rabu (29/9).
Hadir pada acara panen jagung nusantara tersebut diantaranya, Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin Angin dan Ketua DPRD Kabupaten Langkat Sribana Perangin Angin. Hadir juga Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Pemprov Sumut Bahruddin Siregar, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Irman Oemar, Kepala Dinas Perkebunan Lies Handayani Siregar serta OPD terkait Kabupaten Langkat.
Saat ini rata-rata petani di Sumut mampu memproduksi 7-8 ton jagung per Ha. Ke depannya Edy Rahmayadi berharap produksi jagung Sumut mampu mencapai 10 ton per Ha. “Kalau di desa ini (Namoukur) itu luas lahannya sekitar 540 Ha, jadi bisa memproduksi kurang lebih 4.300 ton. Kita upayakan ke depan bisa 10 ton per Ha karena itu kita perlu support petani, mengetahui kesulitan mereka. Tanah kita ini subur, saya rata itu bisa kita capai,” terang Edy Rahmayadi.
Panen Jagung Nusantara sendiri merupakan kegiatan memperingati Hari Tani Nasional. Kegiatan ini dilakukan serentak secara virtual dari berbagai daerah penghasil jagung di Indonesia. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menghadiri kegiatan ini dari desa sentra jagung nasional Banjarsari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Limpo mengatakan Indonesia harus mampu mengekspor jagung karena saat ini masih surplus dan dengan kualitas yang baik. Dia juga berharap tidak ada produksi jagung di bawah 6 ton per Ha karena itu akan sangat merugikan petani.
“Komoditi ini harus kita perlihara, dia bisa mendongkrak perekonomian kita. Jangan ada yang di bawah 6 ton produksinya, kalau ada berarti ada masalah di sana, Bupati, Gubernur lapor saya apa masalahnya, kalau anak buah saya yang main-main kita tindak,” terang Limpo dari desa Banjarsari melalui video teleconference.
Sementara itu, salah satu petani Desa Namoukur, Jasanton Sembiring saat dialog langsung dengan Gubernur menyampaikan keluh-kesah petani di desanya. Dia dan teman-teman sempat kesulitan bertani karena ketersediaan pupuk yang tidak konsisten. Ada juga permasalahan benih yang kualitasnya tidak merata dan alat sistem pertanian (alsintan) yang kurang jumlahnya. (pl)
Red. Pandi Lubis









