
Penulis: Rusdianto Samawa, Pendiri Teluk Saleh Institute (TSI)
Global Cyber News.Com| Jangan tersinggung, jadikan tulisan ini nutrisi dan gizi untuk pengambil kebijakan. Tulisan ini catatan perjalanan traveling lokal. Dana keliling ini dari pribadi saya sendiri. Tidak meminta kepada siapapun.
Tulisan ini juga catatan penting dari perdebatan dan dialog antara Rusdianto dengan seorang pecinta lingkungan. Belakangan kelompok lingkungan menyerang saya, karena membela nelayan yang memakai kompresor dan snorkel.
Selama 5 hari di Pulau Moyo, pembangunan terasa tersendat dan mandeg. Padahal potensi ekonomi, wisata dan kegiatan pertanian cukup menjanjikan. Hal ini tinggal digali lebih jauh oleh pemerintah melalui akselerasi kebijakan dengan sumberdaya yang ada.
Pulau Moyo terancam kerusakan lingkungan. Pasalnya, investasi jagung mulai masuk, diberikan izin penanaman oleh pemerintah. Pulau Moyo terkenal eksotik. Kalau kita bahas perspektif lingkungan, Pulau Moyo yang berbahaya peradabannya di masa mendatang. Karena diretas oleh ancaman kerusakan lingkungan.
Sumbawa perlu ditata sumber aktivitas kegiatan ekonomi agar terdorong maksimal dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ekonomi Sumbawa menurun dari sisi indeks perolehan pendapatan. Namun, disektor UMKM dan IKM muncul cafe – cafe yang dikelola anak muda belia.
Artinya, Sumbawa sudah mulai berbenah. Ternyata, fakta mengejutkan; Sumbawa masih bagus dari sisi penataan pembangunan dan lingkungan. Sumbawa mulai menggeliat pada UMKM dan IKM dengan tumbuhnya gerai gerai Cafe yang digeluti anak muda.
Keluar dari Pulau Moyo, saya menuju Kabupaten Sumbawa Barat (KSB). Selama 6 hari 5 malam di KSB. Sepanjang penjalanan. Aktivitas ekonomi cukup bagus. Ritel, UMKM, IKM dan usaha makro sudah berjalan baik. Namun, usaha makro yang bersifat industri belum seimbang antara kegiatan produksi dengan penjagaan lingkungan.
Perjalanan pesisir dari Timur hingga Barat melalui pantai selatan KSB. Sangat miris. Sangat prihatin. Sangat tersenggukan. Bayangkan saja, berserakan sampah menimbun. Dipantai Maluk tempat ekowisata yang berpotensi mendatangkan ekonomi masyarakat, cukup kotor, rerumputan diatas pasir putih tumbuh tak beraturan.
Sampah perbotolan menghiasi pandangan para touris, pedagang, caffe-caffe. Belum ada kesadaran penuh masyarakat KSB memikirkan keberlangsungan akan pentingnya lingkungan.
Assesment Sumbawa dan Sumbawa Barat, sambil melihat potensi ekonomi, memang luar biasa. KSB ini lemah dalam pengelolaan sampah dan lingkungan. KSB sangat kotor disepanjang jalan dan pesisir pantai. Para pemangku kebijakan dan pengusaha retail, UMKM dan IKM belum ada komitmen menjaga lingkungan di wilayah KSB.
Malu sebetulnya menulis realitas itu. Karena sepanjang pesisir pantai KSB dari Barat hingga sekongkang, Tongo dan desa lainnya berbatasan dengan Lunyuk, sampah menghiasi pantai KSB. Mestinya, keberadaan perusahaan tambang dan lainnya bisa berpartipasi dalam pembangunan lingkungan yang berkelanjutan.
Pantas saja, lingkungan laut di KSB tidak diperhatikan. Karena Rencana Tata Ruang KSB dari tahun 2012 – 2031 tidak menjelaskan pembangunan lingkungan dari sisi sektor pesisir, kelautan dan perikanan. Kedepan, sangat penting menata proses pembangunan agar kesejahteraan itu seiring sejalan tanpa hambatan.
Revolusi Zero Waste dari pemerintah, mestinya menjadi acuan dalam pembangunan. Paling penting, harmonisasi regulasi RTRW antara Provinsi dengan Kabupaten/Kota sehingga kebijakan pembangunan lebih terarah.
Red.









