
Rusdianto Samawa
Global Cyber News.Com| Mengamati kritik kosong dari aktivis, LSM, Kelompok study, dan legislator memerlukan sikap dan pemikiran objektif menilai pemerintahan provinsi NTB itu gagal. Memang kritik itu piramida demokrasi yang harus dijunjung tinggi. Tetapi, alangkah objektif melihat program pembangunan pemerintah provinsi NTB itu dilihat secara all the best (semua terbaik). Karena orientasi pembangunan merupakan langkah antisipatif (mitigasi) kolektif dalam jangka panjang dan menengah.
Mengapa? trend bonus demografi sedang terjadi. Pengangguran meningkat. Tetapi, pemerintah antisipasi dengan program beasiswa luar negeri. Hubungannya, tentu penataan distribusi sumberdaya manusia. Jauh melampaui kualitas fisik. Beasiswa itu jalan pikiran membangun peradaban dan menuntaskan pengangguran. Provinsi Nusa Tenggara Barat tercatat penduduknya sebesar 5.320.092 Jiwa atau 1,97 persen tahun 2020 dari total populasi Indonesia.
Potret dan captionnya bahwa Provinsi NTB berada pada masa bonus demografi. Persentase penduduk produktif berusia 15-64 tahun mencapai 69,77 persen tahun 2020, berpotensi dilakukan akselerasi percepatan pembangunan. Hal bersyarat, pada kesiapan sumberdaya manusia yang berkualitas. Jika program pembangunan mandeg, maka bisa jadi ancaman dan masalah baru bagi pemerintah.
Beasiswa, industrialisasi, zero waste dan infrastruktur merupakan upaya redistribusi sumberdaya manusia untuk mendukung dan meretas problematika pengangguran sehingga arah kebijakan pembangunan terarah, terukur, dan berbasis pada keunggulan lokal yang dimiliki oleh daerah NTB. Beasiswa Gubernur NTB meretas keambiguan dan kelambatan pembangunan.
Bisa dibayangkan, 1000 mahasiswa dengan kualitas baik, maka pembangunan dapat terupgrade optimal. Beasiswa dalam kajian demografi sebagai momentum jangka waktu tertentu sehingga harus dimanfaatkan untuk percepatan pembangunan. Perlu di sikap secara arif dan bijaksana, bahwa penduduk NTB usia produktif yang berusia 25-39 tahun pada tahun 2020 mencapai 1.346.300 jiwa atau 25,31 persen. Pada rentang usia ini, umumnya penduduk sudah berkeluarga, mendidik anak, dan menekuni profesi tertentu sebagai pekerjaannya. Penduduk usia 25-39 tahun termasuk klasifikasi generasi Y yaitu penduduk yang lahir pada tahun 1981-1996 atau berusia 24-39 tahun pada tahun 2020.
Beasiswa merupakan investasi Sumberdaya Manusia sebagai faktor penentu pembangunan yang berperan sebagai subjek dan objek dalam perubahan sosial masyarakat. Karena itu, sangat penting data penduduk menurut jenis kelamin dalam merancang pembangunan. Selain itu, dapat mengukur dan mendorong pencapaian target strategis pembangunan.
Hasil Sensus Penduduk 2020 menunjukkan bahwa jumlah penduduk NTB berusia 15-24 tahun mencapai 893.041 jiwa atau 16,79 persen dari total penduduk. Penduduk pada usia tersebut pada umumnya sedang mengenyam pendidikan SMA/sederajat, melanjutkan pendidikan tinggi, atau sudah mulai bekerja. Merujuk pada klasifikasi generasi, penduduk usia 15-24 tahun sebagian besar termasuk klasifikasi โgenerasi Zโ. Generasi Z adalah istilah untuk penduduk yang lahir pada tahun 1997-2012 atau berusia 8-23 tahun di tahun 2020.
Menurut BPS NTB (2020) bahwa konsep kependudukan, usia produktif adalah pada usia 15-64 tahun. Pada umumnya telah mampu bekerja dan berpendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penduduk usia dibawah 15 tahun dan 65 tahun keatas disebut usia tidak produktif secara ekonomi. Indikator statistik yang digunakan untuk mengukur beban ekonomi yang ditanggung oleh penduduk usia produktif disebut rasio ketergantungan. Indikator tersebut diperoleh dengan membagi jumlah penduduk tidak produktif dengan jumlah penduduk produktif lalu dikalikan dengan 100. Pada tahun 2020 nilai rasio ketergantungan Provinsi NTB diproyeksikan mencapai 52,20. Penurunan tersebut diprediksi terus terjadi sampai tahun 2030.
Kondisi berlimpahnya penduduk usia produktif dengan rasio ketergantungan yang rendah dikenal dengan istilah โBonus Demografiโ. Lompatan pencapaian pembangunan ekonomi dengan memanfaatkan momentum Bonus Demografi hanya bisa dilakukan jika dibarengi peningkatan kualitas sumber daya manusia yang ada.
Dari itulah, Gubernur NTB berpikir maju dalam pembangunan, menciptakan generasi Y dan Z lebih produktif dengan mengirimkan mereka keluar negeri. Kedepan diharapkan ada percepatan pembangunan, baik secara fisik maupun non fisik. Lagi pula, mengurangi ketergantungan dan meningkatkan pendapatan. Beasiswa terhadap usia produktif yang berlimpah merupakan peluang emas untuk melakukan lompatan besar dalam pembangunan.
Pemerintah Provinsi NTB memiliki konsep bagus yang integrasikan tiga elemen utama, yaitu pertama, mengembangkan potensi ekonomi. Kedua, memperkuat konektivitas nasional dan lokal yang terhubung secara global. Ketiga, memperkuat kemampuan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, komunikasi, teknologi informasi untuk pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi melalui jejaring beasiswa luar negeri. Keempat, pemerintah memantapkan strategi โfull participationโ dalam rangka meningkatkan produktivitas penduduk.
Artinya, bonus demografi bisa digunakan peluang pembangunan secara ekonomi, industrialisasi dan zero waste. Saat ini boleh berfikir dan argumentasi bahwa beasiswa tidak berguna. Tetapi, 30 tahun mendatang akan dirasakan manfaatnya sebagai kekuatan sumberdaya manusia dalam menuntaskan pengangguran dan ketimpangan sosial ekonomi. Besar harapan anak – anak muda usia produktif NTB yang berangkat kuliah menggunakan beasiswa Gubernur NTB bisa kembali dengan bahagia untuk membangun NTB dimasa depan. Tentu saja harapan besar bagi kemajuan NTB berpeluang dapatkan bonus demografi yang mengantarkannya menjadi daerah Gemilang dari semua bidang.
Red.









