Sunday, March 29, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeOpiniJacon Ereste :Mekanisme Kerja Intelektual dan Laku Spiritual
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Related Posts

Featured Artist

Jacon Ereste :
Mekanisme Kerja Intelektual dan Laku Spiritual

Global Cyber News.Com|Laku spiritual atau kaum sufi itu menelan obyek telaahnya untuk kemudian dicerna, dipahami, dihayati dan dinikmati hingga kemudian diimplementasikan atau diekspresikan dalam laku atau karya nyata entah dalam bentuk apapun, sesuai dengan selera dan suka citanya.

Sedangkan kaum intelektual hanya mendekat pada obyek, tidak menelan obyek itu untuk maduk ke dalam ruh dirinya.

Karena itu kaum sufi atau pelaku spuritual lebih mengutamakan laku — praktek — seakan mengabaikan teori. Ibarat seorang ahli mekanik, ia sangat tahu persis bagaimana mengatasi mesin kendaraannya yang macet. Tetapi bagi seorang ilmuwan, ia akan menganalis berdasarkan teori, apa yang menjadi penyebab dari mesin yang mogok itu.

Dalam ilmu linuih seorang pendekar dari kampung saya, ia bisa melipat musuhnya sekaligus bertekuk lutut. Tapi jangan pernah bertanya, bagaimana teorinya untuk melakukan semua itu, karena sejak mula segalanya dipelajari secara otodidak, tanpa pernah membaca satu buku pun tentang seluk beluk silat.

Begitulah kira-kira proses dari kesadaran dan pemahaman spuritual yang dilakukan oleh Eko Sriyanto Galgendu sejak 25 tahun silam semasa masih tinggal di kota kelahirannya, Bengawan Solo.

Datuk saya dulu ketika mengajarkan keahlian bela diri dengan menggunakan trisula, beliau hanya mampu mempraktekkan langsung dihadapan kami secara bertahap. Lantas berlanjut mendemonstrasikan kapada kami sebagai anak cucunya yang tertarik belajar di halaman rumah itu setiap malam Jum’at.

Semua warga sekitar termasuk kerabat dan sahabat keluarga kami boleh ikut, tanpa paksaan dan tanpa bayaran.

Jadi memang, laku spiritual itu mengedepan keterpanggilan hati. Tak bisa dipaksakan oleh Pesirah sekalipun yang ada di kampung kami itu dahulu.

Konsepsi dari laku spiritual Eko Sriyanto Galgendu untuk membangkitkan gerakan kesadaran dan pemahaman spiritual anak bangsa untuk menjemput kehadiran jaman kejayaan suku bangsa Nusantara — yang kini telah bersatu menjadi Negara Kesatuan Repunlik Indonedia — juga mengedepankan laku (praktek) spiritual dengan cara menularkan secara manual pandemi spiritual itu, tanpa teori.

Karenanya, sebagaimana kaum sufi dan pelaku spiritual pada umumnya akan senantiasa gagap ketika diminta untuk menjabarkan secara teori. Sebab laku spuritual serta apa yang dilakukan kaum sufi itu, seperti proses mekanis dari kebiasaan membuat tape singkong yang cukup ditunggu hingga esok pagi hingga singkong tadi telah menjadi panganan yang enak.

Atau yang lebih rumit lagi amsal dari laku spiritual itu semacam perbedaan keahlian seorang driver dengan seorang mekanik mesin. Kedua jenis pekerjaan yang berbeda ini bisa dilakukan oleh seseorang yang sangat tangguh keahlian maupun pemahaman serta pengetahuannya untuk menjadi driver sekalikus mekanik yang tangguh. Namun umumnya untuk mereka yang jago dalam melakukan pratek akan sangat lemah dalam teori.

Kerja ilmuan dan kerja praktisi itu sungguh sangat ideal bisa dilakukan seorang diri. Namun dalam laku spiritual serta kaum sufi yang harus mampu menekan egosentrisitas dirinya, akan sangat sulit — jika tidak bisa dikatakan mustahil — untuk diharap mencapai kesempurnaan yang maksimal.

Jadi bila suatu obyek hendak diolah dari segi keilmuan, maka sang ilmuwan itu cukup melakukan pendekatan sedekat-dekat mungkin terhadap obyek tersebut. Namun bagi seoran sufi atau pelaku spiritual akan menelan obyek yang hendak diolahnya hingga merasuk ke seluruh pembuluh kalbu. Karenanya, ketika hendak hasil percercapannya itu hendak disosialisasikan atau diekspresikan dalam karya apapun, ia merasa sudah lebih dari cukup dengan mempraktekkan laku spiritualnya itu seperti Datuk saya yang memiliki ilmu bela diri. Tentang dasar-dasar teorinya tetap dianggap tidak menjadi penting, bila tidak boleh dikatakan tidak diperlukan sama sekali. Begitulah laku spiritual dan laku kaum sufi.

Jakarta, 17 Februari 2022

Red.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts