Friday, February 23, 2024
HomeOpiniJacob Ereste :Silaturrachmi GMRI Dengan Pangeran Djati Kusuma,Tokoh Sunda Wiwitan
spot_imgspot_img

Related Posts

Featured Artist

Jacob Ereste :
Silaturrachmi GMRI Dengan Pangeran Djati Kusuma,Tokoh Sunda Wiwitan

Global Cyber News.Com|Silaturrachmi GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) kepada sesepuh Sunda Wiwitan di Kuningan, Jawa Barat, langsung bertemu dengan Pangeran Djatikusuma, cucu dari Pangeran Madrais yang tekun meneruskan tradisi budaya lokal ini sampai sekarang. Berkenan ikut hadir bersama Letkol Makhdum Habiburrochman, Komandan Kodim 0604 Karawang, serta Dewi Kanthi, Komnas HAM Perempuan yang juga putri bontot dari Pangeran Djatikesuma.

Penganut ajaran Sunda Wiwitan ini bisa dijumpai di sejumlah desa Jawa Barat hingga Provinsi Banten di Kenekes Lebak, Ciptagelar Sukabumi. Dan menurut keyakinan masyarakat warga Jawa Barat, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu dapat dilakukan melalui ajaran Sunda Wiwitan, karena ajarannya sudah ada sejak lama, jauh sebelum datangnya ajaran Hindu maupun Islam.

Syahdan, dalam kitab Sanghyang Siksa Kandang Karesian — sebuah kitab yang sudah ada — sejak zaman Kerajaan Sunda berjaya dahulu, kitab tersebut telah mengajarkan tuntunan beragama, moral, etika atau budi pekerti. Hingga kitab itu disebut Kropak 630 dalam Perpustakaan Nasional. Nenurut versi lain, ajaran Sunda Wiwitan ini acap pula disebut ajaran “jatisunda”, seperti yang termuat dalam Carita Parahyangan.

Acara silaturrachmi dan ziarah spiritual GMRI dilakukan pada Rabu, 11 Mei 2022 di pesanggrahan Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.

Tokoh utama Sunda Wiwitan yang kini telah berusia 92 tahun ini, secara fisik tampak masih segar bugar meski duduk di korsi roda. Cuma indra pendengarannya sudah menurun.
Suaranya pun menjadi sangat lembut. Ritme penuturannya pun sidikit melambat.

Sungguh banyak tuntunan bijak dari Sunda Wiwitan yang patut untuk diketahui. Sebab ajaran dan tuntunan dari Sunda Wiwitan memiliki sejumlah kebijakan hidup bagi manusia, y
tidak cuma dapat diharap menjadi pegangan hidup, tetapi juga bisa me jadi tuntunan menata harmoni sesama makhluk hidup lainnya serta alam lingkungan agar dapat terus berkembang di sesuai sunnatulah di jagat raya demi kemulian nilai-nilai kemanusiaan dapat terus terjaga.

Dalam perspektif budaya salah satu kepercayaan yang tumbuh dan terus berkembang sampai sekarang yang digagas dan dirintis langsung oleh Pangeran Madrais yang lahir 27 September 1827 (9 Mulud 1755 Saka) dan wafat pada usia 112 tahun.

Dalam sejarah perlawanannya jaman penhajahan Madrais tercatat pernah melakukan pemberontakan hingga ditawan ke Digul, Irian Barat, atau Papua.

Sejarah perlawanan Pangeran Madrais juga pernah memimpin pemberontakan bersama petani untuk merebut kembali lahan dan tanah pertanian dari tangan Belanda. Begitulah strategi perlawanan hingga kemudian dikembangkan melalui jalan spritual seperti yang terus berkembang dan terpelihara cukup baik sampai sekarang dengan sebutan Sunda Wiwitan yang terus dilanjutkan oleh Pangeran Djatikusuma hingga usianya 92 tahun sekarang.

Budaya perlawanan dalam perjuangan yang kini berada di pundak Pangeran Djatikusuma sekarang ini, memang tak luput dari rintangan dan cobaan, paling tidak untuk sejumlah komunitas Sunda Wiwitan, setidaknya kecuali saatnya sudah harus dilanjutkan oleh generasi penerus, selanjutnya guna mwnjaga etos perjuangan yang penuh dengan nilai-nilai kearifan lokal, sebagaimana yang telah dilakulan oleh Uyut Madrais.

Lalu Pangeran Djatikusuma sekarang sebagai generasi ke 3 pada usianya yang nyaris seabab, sudah perlu dipersiapkan generasi penerus yang mewarisi segenap kearifan lokal suku bangsa Sunda, seperti kearifan lokal dari Parmalin untuk suku bangsa Batak dan Marapu di Sumba Nusa Tenggara Timur. Atau Kaharingan dari suku bangsa Dayak, Kalimantan.

Yang lebih relevan untuk kehidupan bangsa dan negara adalah upaya memberi keseimbangan dengan alam lingkungan seperti berkaitan aktivitas dan kepedulian Letkol Makhdum Habiburrachman yang bersemangat mendanpingi petani di Desa Wadas, Karawang. Bahkan giat pula membangun komuniras seniman dan budayawan di daerah yang dahulu terkenal sebagai lumbung beras itu. Tapi sekarang telah berubah menjadi kota Industri.

Jadi keunggulan dari budaya lokal yang memiliki nilai dan keunggulan serta kearifan dalam mensikapi makhluk ciptaan Allah maupun jagat raya dan seisi lainnya, bisa dijadikan pijakan, pedoman, maupun takaran dalam upaya membangun masa depan yang lebih baik dan lebih beradab, seperti Pancasila yang semakin dilupakan.

Kuningan – Jakarta, 11 Mei 2022

Red.

Latest Posts