Wednesday, March 11, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeOpiniJacob Ereste :Jika Mengacu Pada Terminologi Agama BPIP Itu Bit'ah
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Related Posts

Featured Artist

Jacob Ereste :
Jika Mengacu Pada Terminologi Agama BPIP Itu Bit’ah

Global Cyber News.Com|Teguh dan taat berpegang pada tuntunan kitab suci dan sunnah Rasulullah dan ahli agama yang baok dan benar, sungguh dapat menjadi penuntun pada jalan yang lurus. Namun tidak kalah penting juga berupaya mencari jalan lain menuju Allah Yang Maha Kuasa terhadap alam jagat dan seisinya, termasuk kita manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan-Nya.

Semua jalan baru yang dapat lebih mendekatkan diri kepada Tuhan itu, tiada yang salah, asalkan tidak melanggar larangan serta tuntunan-Nya.

Upaya itu — sebagai ikhtiar — bisa saja dilakukan, selagi tidak mengurangi keyakinan pada kekuasaan Allah yang satu, tiada duanya itu. Karenanya pemahaman terhadap “manunggaling kawulo lan gusti” seperti sangat populer dalam pemahaman Jawa dapat dipahami sebagai penggambaran dari kedekatan diri seseorang pada Yang Maha Kuasa atas bumi dan langit serta planet lainnya yang ada.

Sebab dengan kedekatan diri yang nyaris tak berjarak itu, hanya bisa diungkapkan dalam narasi manunggaling semata. Hingga jagat raya dan seisinya pun mampu disadari serta dipahami sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, tiada duanya seperti yang dalam pandangan hidup bangsa Indonesia, yaitu Pancasila.

Oleh karena itu, memperingati hari kelahiran Pancasila sendiri yang diklaim pada 1 Juni — atau pada hari dan tanggal lainnya itu — tidak lebih penting dari merenungkan dan meresapi nilai-nilai dari Pancasila itu debdiri untuk kemudian diimplementasikan dalam kehidupan nyata berbangsa dan bernegara agar perikehidupan manusia Indonesia bisa lebih baik — tawadduk kepada Tuhan, berprikemanusiaan yang lebih beradab, dapat semakin sadar pentingnya persatuan dan kebersamaan dalam membangun dan bertenggang rasa untuk memilih jalan musyaearah dan mufakat demi keadilan sosial bagi seluruh warga bangsa Indonesia, bukan untuk kesejahteraan, kebahagiaan, ketenteraman bagi diri sendiri dan kolompok atau keluarga serta kerabat dekatnya saja.

Itulah sebabnya sikap nepotisme itu menjadi sangat tercela, hingga anak dan cucu sampai menantu jadi bagian dari upaya memonopoli kekuasaan dan beragam bentuk usaha dengan selara dan nafsu serakah.

Orientasi terhadap kekuasaan yang tidak sama sekali berdasarkan pada amanah — kegendak — rakyat — merupakan perilaku bit’ah yang sesungguhnya sangat tercela. Fenomen dari hasrat partai politik yang dominan menghalalkan semua cara untuk meraih kemenangan, adalah bentuk pemaksaan yang tersamar dan bertokak belakang dengan sijap dan sifat demokratis — jika tidak bisa digantikan dengan istilah musyawarah, seperti yang telah menjadi pakem dalam menata bangsa dan negara kita yang seharusnya mengedepan Pancasila.

Karena hakikat dari Pancasila sendiri sekedar ditandai dalam serimonial belaka. Itulah realitasnya, pada 1 Juni 2022 tahun ini, BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila) sekedar untuk pemerataan jabatan serta pengesahan bagi-bagi uang negara yang didulang dari keringat rakyat. Jadi dalam terminologi agama BPIP itu bisa dikatakan bit’ah.

Jakarta, 1 Juni 2022

Red.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts