
Global Cyber News.Com|-Medan I Perekonomian Sumatera Utara (Sumut) tahun 2022 diprakirakan tumbuh lebih tinggi dengan kisaran 3,5-4,3%. Itu karena konflik geopolitik yang masih terus belanjut dan koreksi Purchasing Manager’s Index (PMI) negara mitra dagang utama seperti Tiongkok, USA, dan Uni Eropa menjadi hal yang perlu diwaspadai. Namun demikian, kian pulihnya mobilitas dan membaiknya daya beli akan mendorong konsumsi masyarakat. Selain itu tetap tingginya harga komoditas utama serta berlanjutnya program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) juga diprakirakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Sumut tahun 2022 lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Hal tersebut disampaikan Kepala KPw (Kantor Perwakilan) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumut, Doddy Zulverdi saat Bincang Bareng Media (BBM) BI bulan Mei di gedung BI, Jalan Balai Kota Medan, Selasa, (31/5/2022). Doddy saat itu didampingi pejabat BI lainnya, Ibrahim dan Aska.
Menurut Doddy Zulverdi, Inflasi Sumatera Utara pada bulan April 2022 meningkat sebesar 3,63% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mencatatkan angka 3,26% (yoy) namun masih dalam rentang target inflasi nasional 3±1%.
“Komoditas minyak goreng menjadi faktor utama pembentukan inflasi di Sumatera Utara pada bulan April 2022 disebabkan oleh masih berlanjutnya dampak pencabutan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng kemasan dan harga minyak goreng curah yang belum sesuai dengan HET,” ujarnya.
Pada Mei 2022, lanjut Doddy Zulverdi, inflasi bulanan Sumatera Utara diprakirakan lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya meskipun secara tahunan mengalami peningkatan. Kondisi tersebut diprakirakan dipengaruhi oleh normalisasi konsumsi masyarakat pasca HBKN Idul Fitri.
Disebutkan, secara umum inflasi Sumut pada tahun 2022 diprakirakan akan lebih tinggi dari tahun 2021, namun masih dalam rentang sasaran 3%±1%. Peningkatan inflasi didorong meningkatnya pendapatan masyarakat seiring dengan kian pulihnya perekonomian, penanganan pandemi COVID-19 yang semakin baik dan mendorong mobilitas masyarakat, serta permintaan yang meningkat.
“Potensi risiko kenaikan inflasi di Tahun 2022 sudah menjadi perhatian bersama. Seluruh TPID, baik provinsi maupun Kab/Kota, di Sumut akan terus berupaya menjaga tingkat inflasi di Sumatera Utara tetap berada dalam rentang sasaran,” ujarnya.
Dikatakan, pasca Idul Fitri, arus kas Bank Indonesia di Sumut mencatatkan net-inflow sebagaimana pola setiap tahunnya. Perkembangan tersebut juga menandakan kembalinya uang yang beredar di masyarakat ke sistem perbankan pasca ramadhan dan HBKN Idul Fitri. Di tengah upaya BI memenuhi kebutuhan uang rupiah di masyarakat, risiko peredaran uang Palsu tetap perlu diwaspadai masyarakat.
Lebih jauh Doddy Zulverdi menyampaikan, sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, pengembangan UMKM juga menjadi perhatian Bank Indonesia. Melalui berbagai upaya pengembangan usaha dan fasilitasi promosi, para pelaku UMKM diharapkan dapat semakin tumbuh dan dapat turut mendorong pemulihan ekonomi.
“Berbagai kegiatan secara rutin dilaksanakan guna mendukung para pelaku UMKM dan Ekonomi Syariah seperti penyelenggaraan Karya Kreatif Indonesia (KKI) dan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) di tingkat nasional dan daerah, serta program KPw BI Provinsi Sumut melalui Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU) dan Road to FESyar tahun 2022,” pungkasnya. (pl)
Red. Pandi Lubis









