
Global Cyber News.Com|Meski terkesan lagi pada perayaan Aidul Adha tahun 2022 ini umut Islam menjadi tidak kompak, karena hari raya jadi berlangsung pada dua hari yang berbeda, Sabtu 9 Juli 2022 dan Minggu, 10 Juli 2022, namun telah membangunkan kesadaran baru dalam berpikir itu tidak harus linier, karena bisa saja ada kepentingan politik yang justru sangat memperhitungkan dakhsyatnya potensi dan kekuatan umat Islam bila bersatu dan kompak.
Gucangan dalam berbagai masalah — misalnya terkait masalah jemaah haji serta kuota yang tidak dipenuhi karena berbagai alasan– toh bisa diterima dengan lapang dada. Sebab kesadaran terhadap mereka — sekiranya memang sengaja memperlakukan umat Islam seperti itu — toh sudah diyakini juga kelak akan mendapat ganjaran yang setimpal.
Sikap penerimaan Umat Islam — jika sungguh memang ingin dipecah belah — justru telah membangun kesadaran baru, bila kesabaran itu memang sangat diperlukan sebagaimana ketulusan Nabi Ibrahim harus berkorban yang kemudian mendapat mukzisat dari Allah SWT atas ketaqwaannya yang tak goyah itu. Agaknya, demikian juga essensi dari Aidul Adha kali ini, semakin tangguh dan kuat dilakoni oleh Umat Islam dengan taqwa — seperti bersikap menentukan pilihannya sendiri pada hari apa yang diyakini terbaik, paling tepat menjadi pilihan untuk merayakan Aidul Adha.
Lebaran haji atau Aidul Qurban sengingat penulis belum pernah seheboh perayaan tahun ini — 2022– karena terkesan sangat dipaksa agar berbeda hari kesepakatan dari pelaksanaannya. Meski sebetulnya umat bisa menentukan sendiri waktunya yang dianggap paling tepat dan benar, misalnya berpatokan pada pelaksanaan ibadah haji yang berlangsung di Makkah Mukaromah. Tapi hikmahnya tetap saja dari perayaan Idhul Adha yang mendua di negeri kita ini. Minimal telah menjadi bukti kesabaran umat beragama — tak hanya Islam tentu saja — betapa pentingnya suatu aturan dan ketetapan perlu dibuat, padahal umat beragama itu bisa menentukan sendiri jadual rutin perayaan atau waktu peribadatan yang mereka anggap paling tepat.
Jadi semacam pengatur lalu lintas di perempatan pasar yang perlu diatur oleh mereka yang acap disebut Pak Ogah itu. Karena kalau lalu lintas tak kusut memang harus dibuat kusut, agar supaya ada kesan pekerjaan yang harus dilakukan dan medapatkan imbalan dari pekerjaan yang telah diciptakan itu. Walau sesungguhnya tak perlu.
Agaknya, akal-akalan serupa ini yang sering disebut para pengamat sosial di Indonesia untuk mereka yang salah urus, sementara urusan utama yang harus dan wajib dilakukannya tidak juga bisa dikerjakan.
Ya, biarlah. Toh, amal perbuatan mereka itu pun akan dibilang dengan ibadah mereka yang sangat erat dengan seluruh perlakuannya terhadap orang lain, termasuk institusi apapun. Sebab akibat turunan dari pengaruh perlakuan yang tidak baik itu, seiring dengan dampak terhadap umat yang ikut tergiring pada pilihan atau keputusan yang salah. Dan ganjarannya pun, akan ditanggung oleh mereka atau oleh instansi yang bersangkutan. Tiada kecuali bagi mereka yang berada dibalik kesalahan yang dilakukan dengan sengaja itu. Misalnya hanya demi dan untuk kepentingan tertentu, bukan untuk dan demi kemaslahatan umat.
Alhamdulillah di kampung kami takbir dan sholat Aidul Adha dapat dilakukan dengan riang gembira, meski dilakukan pada hari yang berbeda. Hingga dalam nada canda anak tetangga sebelah rumah yang memang jenaka dan periang itu mengatakan, bersekolah bahwa lebaran kali ini bisa semakin asyik, sebab bisa menikmati hari lebaran dua kali, pada hari Sabtu dan juga bisa ikut lebaran pada hari Minggu.
Kalau pun pada hari Sabtu sudah terlalu banyak makan sate kambing, maka pada hari lebaran berikutnya pada hari Minggu, cukup menyantap sate daging sapi saja. Karena lebaran di kampung kami memang — kecuali menunaikan ibadah wajib — juga dinikmati sebagai upaya menjalin persaudaraan dan kerukunan sesama tetangga agar tidak sampai merenggang. Apalagi kemudian, tidak sedikit anak remaja dan tetangga yang non Muslim berkenan ikut serta untuk menikmati suasana lebaran ala masyakat urban di perkotaan — dengan cara mengumpulkan perolehan daging yang dibagikan panitia Idhul Qurban itu untuk dimasak dan disate bareng agar bisa disantap dan dinikmati bersama di Pos Ronda.
Lalu nasi sedandang serta panganan lain terus dikeluarkan dari sejumlah rumah untuk digasak bersama di pos ronda yang dijadikan sebagai pusat perayaan lebaran bersama warga.
Bahkan dalam kegembiraan perayaan lebaran haji di kampung kami selama dua hari berturut ini, ada juga yang punya ide nakal, mungkin baik juga sekalian bisa diusulkan adanya lebaran keloter yang jetika, pada hari Senen misalnya. Sebab hari libur mungkin bisa ikut membuat iklim panas dapat sedikit mendingan dengan liburan dan beristirahat agak lebih panjang, hingga t
Acara bersuka ria bisa melupakan penat dan kerunyaman yang sudah terlalu banyak menjadi beban kita.
Banten, 10 Juli 2022
Red.








