Tuesday, March 3, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeOpiniJacob Ereste : Melalui Laku Spiritual Lintas Agama Warga Masysrakat Bisa Rukun...
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Related Posts

Featured Artist

Jacob Ereste : Melalui Laku Spiritual Lintas Agama Warga Masysrakat Bisa Rukun & Guyub Menuju Rumah Tuhan

Global Cyber News.Com|Cipta (pikiran), rasa (keinginan), karsa (gagasan) dan karya (sebagai hasil perbuatan yang nyata) adalah landasan dasar dari sikap dan sifat dari pilihan hidup manusia. Lalu adakah semua itu diorientasikan pada larangan dan perintah Tuhan yang diturunkan dari langit ?

Jika pikiran yang dikedepankan maka akan melahirkan banyak gagasan, sehingga akan mendorong karsa (keinginan atau kemauan) untuk mewujudkannya dalam bentuk karya yang nyata dengan rincian sebanyak-banyak mungkin untuk memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Namun jika terlalu kencang jalan pemikiran itu bisa membuat pongah seperti keangkuhan akademisi yang sering menganggap kecerdasan itu hanya milik para akademisi semata.

Katena itu dacin penimbang rasa harus difungsikan agar takaran baik dan buruk dari apa yang dilakukan itu bisa senantiasa dalam kontrol yang terkendali.

Yang terparah memang bila hasil dari perbuatan yang dilakukan oleh seseorang itu jadi sangat mengganggu atau bahkan merugikan pihak lain. Baik langsung maupun tidak langsung, seperti misalnya merusak alam. Menghalangi upaya dan usaha orang lain. Apalagi sampai merusak rencana kerja atau bidang pekerjaan yang sudah menjadi andalan hidup untuk keluarga. Biasanya yang bersangkutan bisa nekat mempertaruhkan segalanya, tidak kecuali harta dan nyawa.

Maka itu upaya untuk melakukan keseimbangan — hingga adanya tknbang rasa yang bijak — jadi wajib dan harus untuk dilakukan agar keinginan setiap orang senantiasa bisa ikut dipertimbangkan juga agar tidak terusik atas dasar rasa terhadap banyak hal yang baik dan patut bagi orang lain.

Jadi tak boleh ada keinginan untuk mementingkan keperluan sendiri, tanpa mempertimbangkan juga kepentingan orang lain. Sehingga dengan sikap yang bijak ini dapat memenuhi tata etika, moral dan akhlak manusia yang luhur, sesuai dengan ciptaan Tuhan bahwa manusia adalah khalifatullah di muka bumi.

Dan bumi ini serta seisi jagat raya jelas terkonsep dalam tatanan yang sangat ideal seperti disebutkan dalam pengertian rachmatan lil alamin. Artinya bumi dan seisinya berikut makhluk yang ada di dunia ini — sebagai karya ciptakan Tuhan — adalah rachmat bagi semua makhluk tanpa kecuali. Sehingga manusia serta makhluk lainnya termasuk alam dan lingkungan harus dapat untuk dinikmati secara bersama dalam tatanan kehidupan yang selaras dan harmoni sebagai anugrah Allah yang pantas dan patut dijaga bersama tanpa harus menguasai dan memonopoli seperti yang cenderung terjadi sekarang.

Maka itu sikap serakah, kemaruk dan rakus sangat tidak disukai oleh Allah, sehingga dalam semua agama yang ada dipercaya oleh para pengikutnya untuk mentaati larang dan melakukan anjuran yang diajarkan– atau bahkan diperintahkan — untuk melatih diri dengan berpuasa. Berlaku tertib dan tekun menunaikan ibadah sesuai dengan tuntunan agama. Agar jiwa atau ruh suci kemanusiaan tetap bisa terjaga untuk tidak pernah melakukan perilaku buruk, sikap tercela termasuk etika sopan santun sebagai manusia yang beradab dan bertaqwa pada tuntunan dan ajaran agama yang baik dan benar.

Laku seperti inilah yang menjadi dasar pemahaman dan kesadaran spiritual — tanpa harus mempersoalkan agama yang diyakini oleh masing-masing pihak, seperti yang telah jadi penuntun dalam Islam misalnya dalam surat All Kafirun yang menandaskan “lakum dinikum waliadin”. Artinya bisa dipahami tak ada masalah bagi agama yang lain bagi seorang Myslim yang baik. Karena yang penting tidak saling ganggu dan mengusik keyakinan bagi seseorang untuk meyakini agama yang diyakininya.

Agaknta, dengan cara yang paling sederhana ini memahami hakikat beragama maka kerukunan antar umat beragama di Indonesia tidak akan menjadi masalah. Sehingga kerukunan dan keguyuban serta tatanan hidup yang harmoni dapat selalu terjaga bersama. Utamanya dalam laku spiritual yang bisa berbarengan menuju rumah Tuhan yang indah dan teduh.

Kalau pun banyak orang yang cukup percaya bahwa Tuhan itu sesungguhnya tak jauh, karena keyakinan bahwa Tuhan itu sesungguhnya berada pada kedalaman lubuk hati setiap manusia, maka boleh jadi perjalan bersama menuju rumah Tuhan itu semacam rekreasi religius untuk mendapatkan suasana yang indah sebagai sebagai semangat maupun energi spiritual agar bisa lebih bergairah dan serius bercengkrama dengan Tuhan. Sebab Tuhan itu sendiri harus bisa dipahami sebagai sosok yang tidak angker, tidak menakutkan, namun harus dihormati dan ditaati semua larangan maupun anjurannya demi kemanusiaan diri kita juga.

Tanjung Karang, 27 Agustus 2022

Red.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts