
globalcybernews.com-Sejarah awal sepak bola di Indonesia berawal saat Gymnastiek Vereeniging didirikan pada tahun 1887 di Medan sebagai perkumpulan olahraga pertama yang mengakomodir sepak bola, kriket, tenis, balap sepeda, atletik, dan senam. Namun, tim sepak bola pertama Victoria di Surabaya baru dibentuk pada tahun 1894 oleh John Edgar, seorang mahasiswa dari HBS.
Hal ini mendorong pembentukan tim sepak bola baru di Surabaya dan pembentukan Oost Java Voetbal Bond (OJVB) atau Federasi Sepak Bola Jawa Timur yang mengadakan pertandingan mingguan. Kompetisi sepak bola pertama di Hindia Belanda diselenggarakan oleh surat kabar Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie pada tahun 1904 di Batavia, dan diikuti oleh tim STOVIA. Baru pada tahun 1914 di Semarang diadakan kompetisi antarkota di bawah Pameran Kolonial, yang juga menampilkan kelompok kriket dan teater. Dengan diizinkannya anak-anak pribumi untuk bersekolah di sekolah yang sebelumnya diperuntukkan bagi orang Eropa, mereka mulai memahami dan memainkan olahraga yang dimainkan oleh orang Eropa, termasuk sepak bola.
Sepak bola telah menjadi olahraga populer di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Awalnya olahraga ini hanya dimainkan oleh orang Belanda yang tinggal di Indonesia. Namun, lama kelamaan menyebar ke penduduk asli dan menjadi semakin populer. Tim sepak bola lokal mulai bermunculan di berbagai daerah, termasuk Soekaboemi.
Kota Soekaboemi sendiri memiliki sejarah panjang dalam gairah persepakbolaan Indonesia dimana team Sepakbola Soekaboemi menjadi unggulan dalam setiap pertandingan melawan team-team dari kota besar laiinya semisal Batavia dan Bandoeng serta hampir dalam setiap pertandingan selalu menjadi juara laga.
Tim sepak bola Soekaboemi saat itu terdiri dari beberapa pemain hebat seperti Brosky, Dorst, Soekiman, Moningka, Reygers, Tjoan Lok, Bseten, Tunuluhulima, Lontoh, dan M. Koesoema Laktoef. Sedangkan pemain cadangan mereka antara lain Blom, Schippers, Van Bommel, Toonsen, dan D. Saltzmann. Pada tahun 1935, mereka juga menghadapi tim BVB Bandoeng dalam pertandingan yang tergabung dalam VOETBAL WEST-JAVA-FEDERATIE.
Selain itu, Soekaboemi juga memiliki tim sepak bola yang beranggotakan siswa-siswi SVBB (Soekaboemiche Voetbal Bond) Soekaboemi dimana SVBB kemudian bergabung dengan Voetbal West Java Federatie atau Perserikatan Sepak Bola Jawa Barat. Lalu Tim SVB yang berlatih di lapangan milik sekolah polisi atau Politie School kemudian berubah menjadi “Soekaboemi Voetbal Vereeniging der Politie School Soekaboemi” dimana saat terbentuk, tim ini kemudian memiliki pemain yang disegani lawan seperti Biswi Minan, Tjeng Ke, Philippus Soleman, Kim Tan Long Hui, Oedjang, Soen Tjay, Hong Liong, dan Jajang serta sebagai penjaga gawang adalah Meijer yang memiliki darah campuran Belanda serta Jerman.
Pada tahun 1926 dan 1928, Soekaboemi menang dalam menghadapi tim-tim Batavia dalam pertandingan di lapangan Banteng. Kemudian pada tahun 1930, mereka bertanding melawan tim Garut dan Cianjur di Garut dan Cianjur dengan nama Team Soekaboemi Voetbal Vereeniging der Politie School Soekaboemi meski tak sepopuler tim-tim besar di Batavia dan Bandoesng serta Soerabaja, namun Soekaboemi memiliki sejarah yang mengagumkan dalam persepakbolaan Indonesia atu Hindia Belanda saat itu. Tim-tim sepak bola dari daerah kecil seperti Soekaboemi juga membuktikan bahwa sepak bola adalah olahraga yang bisa dimainkan oleh siapa saja, tanpa memandang latar belakang atau tempat asalnya.
Kemudian pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1943, Lapang Sepak Bola Danalaga selesai dibangun dengan biaya lebih dari 3.000 f (NLG) dan tanah tersebut berdasarkan kepemilikan dari Patih Soekaboemi R. Soeria Natapamekas . Stadion ini diresmikan dengan nama Lapang Olah Raga “INADA”.
Beberapa bagian lahan di kawasan Odeon, termasuk lapangan sepak bola, sudah menjadi milik pemerintah sejak zaman gemeente. Pada sekitar tahun 1938, Dewan Kota pernah membahas berbagai alternatif penggunaan lahan tersebut, seperti lokasi stanplas (terminal angkutan), penjualan atau penyewaan untuk menutup defisit APBK, dan pembangunan lapangan sepak bola untuk disewakan.
Ketua pengurus pertama dari Persatuan Sepak Raga Indonesia Soekaboemi (disingkat “Perssi”) adalah R.W. Danoeasmoro, didirikan tak lama setelah stadion diresmikan pada bulan Mei 1943. Setelah itu, pengelolaan Lapang Inada diberikan kepada Pengurus Perssi dan Perssi mengalami kemajuan setelah menjadi 8 besar club Sepak Bola di Indonesia dan sejak kepengurusannya dipimpin oleh Ahmad Haiqazen Keshishian, atau Amir Hamzah Pengusaha Kaya berasal dari Turki keturunan Armenia. pada era 1970 hingga 1980 an dimana tercatat pemain PERSSI pernah bertanding dengan Team Sepakbola Denmark tahun 1972 di lapangan Danalaga Sukabumi.
Pada tahun 2006, lapangan Danalaga Sukabumi dipindahkan ke wilayah Pabuaran Kota Sukabumi dan menjadi Lapangan Suryakencana serta lapangan Danalaga yang berada di Odeon atau Jalan Pajagalan kini menjadi area pertokoan modern dengan nama Danalaga Town Square (DTS).
Insert Foto: Para pemain PERSSI tahun 1950
Red.









