Sunday, February 25, 2024
HomeOpiniJacob Ereste :Rekreasi Menuju Rumah Tuhan
spot_imgspot_img

Related Posts

Featured Artist

Jacob Ereste :
Rekreasi Menuju Rumah Tuhan

globalcybernews.com -Sesungguhnya dia sudah menyerah untuk menghadapi hidup ini. Tapi kepasrahan telah menyelamatkannya sehingga masih mampu bertahan untuk hidup, meski dengan kecukupan yang sangat minim. Karena itu, setiap bangun pagi pun, dia selalu terperangah kaget. Seakan-akan dia menemukan kembali dirinya yang sudah renta itu masih hidup.

Usianya sendiri terbilang telah melebihi takaran umum. Apalagi bila dipadankan dengan kawan seangkatannya yang sejak 12 tahun silam sudah gugur satu persatu. Yang tragis, memang tak sedikit diantaranya yang tidak meninggalkan jejak apapun, misalnya untuk sekedar dikenang lantaran telah membuat sesuatu yang patut diingat karena jasa dan nilainya banyak memberi manfaat pada banyak orang yang masih hidup sampai sekarang.

Diam-diam, dia merasakan ujung dari usianya semakin dekat. Karena itu, meskipun kecil dia terus berusaha memberikan yang terbaik. Sebab dia tak ingin dilupakan oleh banyak orang — setidaknya dari kawan-kawannya sendiri yang pernah asyik menikmati kehidupan di dunia ini.

Sejumlah karya seni yang lahir dari tangan dan pemikiran serta ide cemerlangnya memang tidak banyak. Tetapi dia tetap berharap dari jumlah yang sedikit itu, bisa tersampir pada memori beberapa kawan, setidaknya tidak lantas semerta-merta melupakan setelah jasad dan rohnya tidak lagi bersama mereka itu.

Puisi pendek pun sudah dia tulus tentang “Kisah Penyair Yang Gigih Mengukir Batu Nisan Dirinya Sendiri”. Meski begitu, toh tidak sedikit cemooh dan kecaman yang harus dia terima dalam beragam nada termasuk yang paling sinis sekalipun, tak pernah ingin dia simpan di dalam hati. Sebab kebebasan mengapresiasi suatu karya seni itu sangat dia pahami sebagai bagian dari hak asasi yang tak boleh diintervensi oleh siapa pun.

Itu sebabnya dia merasa berhak untuk bersedih, ketika pilihan rakyat harus dimanipulasi, karena cara itu merupakan tindakan perampasan hak terhadap rakyat yang tidak berdaya melakukan apa-apa, kecuali pasrah karena tidak mempunyai otoritas dan kekuasaan yang dapat mencegahnya. Kendati suara rakyat atas nama kedaulatan itu telah disampaikan, bukankah yang namanya kebebasan itu tidak mungkin diperoleh begitu saja tanpa perjuangan dan kegigihan atau bahkan perlawanan.

Dalam perenungan terhadap tema kemerdekaan inilah dia semakin percaya bahwa petuah tentang hidup dan kehidupan itu adalah suatu perjuangan yang harus terus dilakukan terus menerus, mulai dia camkan pada lubuk hatinya yang paling dalam tadi pagi. Bahkan, hidup dan kehidupan itu sendiri acap harus menjadi semacam pertaruhan untuk memperoleh kemenangan, jika sungguh tak ingin mengalami suatu kekalahan. Maka itu, dia pun mulai menggunakan rumus yang baru, bahwa sesungguhnya hidup dan kehidupan itu tidak boleh dilihat darip perspektif kekalahan dan kemenangan, tetapi dapat lebih bijak dilihat semacam rekreasi menuju rumah Tuhan, meski tempat sangat jauh, berada di lapisan langit yang ketujuh.

Pantai Dadap, 10 Desember 2023

Red

Latest Posts