Sunday, April 14, 2024
HomeRegionalJawa BaratTINGKATAN PENDIDIKAN PADA TRADISI MASYARAKAT JAWA

Related Posts

Featured Artist

TINGKATAN PENDIDIKAN PADA TRADISI MASYARAKAT JAWA

globalcybernews.com  -Ngelmu Kasampurnan pada Ajaran Spiritualitas Jawa terdiri dari 5 (lima) tingkatan, yaitu Tingkat Kanoman, Tingkat Kanuragan, Tingkat Kadonyan, Tingkat Kasepuhan, dan Tingkat Kasampurnan.

1.Tingkatan Kanoman (Tingkat Bau Kencur)

(Bau Kencur. Pada umur bayi, balita, dan anak-anak, pada Tempo Doeloe, seorang bocah sering dibedaki dengan bedak beras yang diramu dengan empon-empon/herbal, terutama kencur. Sebagai penghangat badan setelah mandi. Juga dipercaya sebagai penolak balak. Sehingga anak selalu bau kencur)

Kanoman dari kata dasar, nom, anom, enom artinya muda, anak muda. Maka kanoman biasanya diartikan sebagai “ ngelmu muda” untuk anak muda. Anak Muda yang belajar ini disebut Santri atau Nyantrik (dari kata cantrik) yang artinya siswa yang berguru pada seorang begawan pendita resi, selain belajar, dipertapaan (padepokan atau Kolese atau Sekolah berasrama) dan biasanya ia tidak mempunyai tugas khusus.

Anak muda belajar dan berperilaku positif, sikap hidupnya dituntun oleh panduan Budi Pekerti, Tata Krama, dan atau Sopan Santun. Mencintai Alam atau Lingkungan kehidupan dan alam sekitarnya.

Pada jaman kuno, anak-anak muda belajar dengan cara nyantrik di padhepokan, berguru kepada seorang guru yang mumpuni. Diperguruan ditanamkan pelajaran-pelajaran seperti Budi Pekerti, Pengetahuan Umum, Kanuragan dan hal-hal yang mengarah ke Kebatinan atau spiritualitas.

Sambil melakukan pekerjaan praktis setiap harinya untuk menunjang kehidupan di padhepokan seperti : bertani, berkebun, berternak, mengambil air, membersihkan rumah dan halaman; para siswa juga belajar ilmu dan ngelmu sesuai dengan tingkatnya. Selain tetap diajarkan Budi Pekerti, tata krama, tata susila untuk pergaulan dimasyarakat, diajarkan pula pengetahuan umum dan berbagai ketrampilan untuk bekal menunjang keperluan hidupnya dikelak kemudian hari. .

2. Tingkat Kanuragan (Tingkat Macan)

Pada masyarakat Jawa, Macan melambangkan kekuatan, keberanian, kepercayaan diri, kepemimpinan dan kekuatan. Macan juga dikenal sebagai binatang yang mengusir segala kejahatan.)

Pada Tingkat Kanuragan, yang dilatih atau ditatar (digembleng) adalah raga/jasmaninya. Sehingga orang yang mempelajari dan mempraktekkan kanuragan memiliki tubuh yang atletis, sempurna, gagah, kuat, dan bahkan dibilang sakti karena dia menjadi antara lain kuat menerima pukulan, tidak mempan senjata tajam , tembakan peluru dan sebagainya. Dari olah Kanuragan ini, seorang anak muda memiliki kepercayaan diri, berani, mandiri, dan siap menghadapi tantangan dalam hidupnya.

Mereka memiliki misi hidup sebagai pengayom yang bisa diandalkan. Baik melindungi kaum yang lemah, membela kebenaran, juga bisa menjaga keamanan dan ketertiban di kampungnya dari gangguan orang-orang jahat ataupun dari hewan buas.

Untuk orang-orang tertentu kelebihan positif dari kanuragan, membuat mereka ingin mempelajari juga Kebatinan / Spiritualitas.

Kanuragan selain belajar seni bela diri terutama untuk mempertahankan diri bila diserang, juga untuk berlaga atau berperang.

Semakin dewasa umur seseorang dan juga cara berpikirnya, dia menjadi lebih sabar, lebih mampu mengendalikan diri, menyayangi dan melindungi kaum lemah.

3. Tingkat Kadonyan (Tingkat Kerbau)

(Kerbau melambangkan suka bekerja keras. Dengan fisik besar dan kuat, tak kenal lelah untuk bekerja. Hari-harinya hanya dihabiskan untuk bekerja dan bekerja)

Kadonyan atau Keduniaan, adalah tingkat kematangan fisik dan mental seseorang. Dalam tingkatan ini, seseorang mulai dituntut tanggungjawab yang lebih besar. Tanggung jawab sebagai kepala keluarga, yang harus bisa memberi penghidupan untuk istri dan anaknya. Atau tanggung jawab istri kepada suami dan mengasuh anak. Maka mereka berusaha dan berjuang dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, dan harus bisa menjadi pendidik atau pembimbing bagi anak-anaknya.

Selain mencukupi kebutuhan materi, seseorang yang telah mencapai Tingkat Kadonyan juga harus mampu menjadi guru dan motivator serta inspirator bagi anak muda.

Pada tingkatan ini ada dua dunia yang harus seimbang dilakukan, yaitu mengejar keduniaan atau materi, juga dunia spiritual agar mampu menjadi teladan. Mengejar materi harus mengedepankan etika, integritas, dan profesionalitas untuk mencapai kesuksesan optimal. Mengajukan diri dari kezaliman, ketidakjujuran, ketidakdisiplinan, dan kemalasan. Sebab, hidup dan kehidupannya selaku menjadi sorotan keluarga dan semua orang di sekitarnya. Sedikit kesalahan yang dilakukan akan berakibat fatal dan menjadi bahan cemoohan.

4. Tingkat Kasepuhan (Tingkat Garuda)

(Dalam mitologi Jawa, Garuda dipandang sebagai seekor burung raksasa yang memiliki kekuatan yang luar biasa dan dianggap sebagai kendaraan Dewa Wisnu. Garuda juga menyimbolkan kebebasan, yang mampu terbang tinggi. Tidak terkungkung dalam kurungan keduniaan)

Disebut Wong Sepuh atau Orang Yang Dituakan. Menginjak usia yang lebih tua, sepuh, emosi sudah stabil dan biasanya sudah lebih mudah untuk dikendalikan. Sudah banyak pengalaman hidup baik yang manis atau pahit, asin atau asam, bahagia atau susah, gagal atau sukses, sudah dilewati. Kebutuhan atau tuntutan materi sudah dilampaui. Segala keinginan sesaat atau nafsu sudah terkendali.

Misi hidupnya adalah berbagi, membuat orang lain bahagia. Tidak butuh lagi hiburan, sebaliknya kehadirannya adalah untuk menghibur atau membuat orang senang. Tidak lagi mengejar materi, tetapi berusaha untuk memberi. Hidupnya tidak lagi berpusat pada dirinya, tetapi cair mengalir seperti air yang menyejukkan dan menyegarkan siapapun yang kehausan. Selalu memikirkan dan memperhatikan orang lain, tetangga, masyarakat, dan bangsanya. Agar kehidupan semakin baik, sejahtera, dan penuh keadilan. Orang yang sudah di tingkat ini, sangat disenangi dan dibutuhkan oleh masyarakat. Bahkan didukung untuk menjadi Sesepuh atau pemimpin. Baik di lingkungan masyarakat atau juga di bidang keagamaan atau spiritualitas.

Tahap Kasepuhan sudah mampu berlaku bijak dan penuh kebajikan. Menolong mereka yang dalam kesulitan. Menyembuhkan orang yang sakit. Memotivasi mereka yang putus asa.

5. Tingkat Kasampurnan (Tingkat Wijayakusuma)

(Wijayakusuma yang hanya berbunga dan mekar harum di tengah malam, memiliki makna filosofis yang dalam dalam budaya Indonesia. Di dalam Kitab Sutasoma, bunga ini dianggap sebagai lambang keindahan, kekuatan, kesederhanaan, dan keheningan batin seseorang yang mencapai pencerahan spiritual)

Atau Ngelmu Sejati, yaitu Ilmu Tertinggi. Jika sudah di tingkat ini, maka yang terjadi dalam hidupnya adalah Manunggaling Kawula kaliyan Gusti, yaitu Menyatunya antara dirinya dengan Tuhannya. Hanya Tuhan yang ada di dalam jiwanya, sebagai pancer atau pusat hidupnya. Sehingga, dalam setiap tutur kata, sikap, gerak-geriknya, dan perilakunya adalah Sabda Gusti yang selalu tampak dan hadir di bumi.

Sudah selesai dengan dirinya. Pada tingkat ini, seseorang sama sekali tidak butuh apa-apa lagi. Tetapi berusaha berjuang memenuhi semua kebutuhan hidup semua orang dan alam. Madeg pandhita alias Menjadi Pendeta atau seseorang yang mampu mengejawantahkan Tuhan ke dalam dunia. Semua kata-katanya atau apapun yang diucapkan pasti terjadi. Telah mencapai tingkat spiritualitas tertinggi.

Seseorang yang di level Laku Kasunyatan. Baginya, agama adalah Ageman atau Baju yang dipakai sehari-hari. Tidak ada Gaman atau Pusaka yang dimiliki, sebab Jagad Cilik yaitu tubuhnya adalah Pusaka “Sakti”. Sehingga tidak ada sedikitpun ketakutan, kecemasan, kekuatiran, kesedihan, kemarahan, kegalauan, tidak takut kehilangan, atau segala penyakit jiwa lainnya sudah bersih dari jiwanya.

Namun, dia sama sekali tidak merasa sudah bisa, tetapi berusaha untuk bisa merasa. Kepekaan rasa yang diaktualisasikan di dalam.keseharian. Menjaga tutur kata, sebisanya tidak melukai hati sesama. Tidak ada niat untuk membalas kejahatan jika diperlakukan jahat. Tidak membalas sakit hati jika disakiti. Tidak merugikan orang lain jika dirugikan, malah membiarkan saja kepada mereka yang merugikan. Selalu menjaga keharmonisan hidup. Misi dan visi hidupnya adalah menghadirkan kebahagian dan kesejahteraan bagi sesama. Hamemayu Hayuning Bawana atau membuat dunia menjadi lebih baik.

Tansah Eling lan Waspada, atau selalu ingat dan selalu waspada. Pedoman hidupnya bukan lagi Kitab Kering / Tulis, tetapi dia sudah mampu membaca pedoman hidup dari semua yang ada di sekitarnya, dari semua kejadian dan peristiwa, Dia tidak lagi membutuhkan guru pembimbing, sebab baginya hanya Gusti Kang Murbeng Dumadi itulah yang menjadi Guru Sejatinya. Guru yang selalu menyatu, menyertai, membimbing, mengarahkan, membina, menggembleng, melatih, dan mengayomi setiap perilaku dalam hidupnya.

Pada level ini, seseorang sudah layak disebut Ulama, Pemimpin, Panutan, Pendeta, atau Guru. Karena pada dirinya sudah tidak akan terjadi konflik kepentingan dalam setiap mengemban amanat yang diberikan kepadanya.

TA. Iriandono

Malang, Medio Maret 2024

Red

Latest Posts