Sunday, April 5, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeOpiniKim HoSi Pendekar PengelanaKarya Nc Hou
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Related Posts

Featured Artist

Kim HoSi Pendekar PengelanaKarya Nc Hou

Bagian 02

globalcyberness.com  -Masih mujur nasib Kim Ho tersangkut di sebuah batang pohon seandainya tubuh nya langsung terjatuh kedalam jurang yang begitu dalam niscaya tubuhnya akan hancur.

Lama Sekali dia tak sadarkan diri sampai matahari sudah mulai terbenam, warna langit pun mulai berubah warna menjadi kelabu dengan semburat warna jingga membias diantara awan awan.

Angin tiba tiba berhembus dengan sangat kencang di susul dengan kilat yang menyambar nyambar.
Bunyi gemuruh bersahutan suaranya menggelegar disusul dengan turunnya hujan yang sangat deras.
Tubuh Kim Ho yang tersangkut di batang pohon basah kuyup diguyur hujan yang begitu derasnya.

Hujan deras dan bunyi gemuruh menggelegar membuat Kim Ho siuman.
Tangan nya bergerak memegang cabang cabang pohon berusaha bangkit dan berdiri di dahan pohon.

Cahaya matahari sudah sangat redup samar samar Kim Ho melihat sekitarnya dan baru menyadari kalau dirinya berada di tengah tengah dinding jurang,
Kim Ho merasakan seluruh tubuh nya sakit semua lecet dan perih akibat luka luka di sekujur tubuh.

Kim Ho menggenggam erat dahan pohon agar tidak kembali terjatuh ke bawah jurang. Angin bertiup semakin kencang,batang pohon tempat Kim Ho tersangkut terus bergoyang goyang ke kiri dan ke kanan membuat tubuh Kim Ho kembali dihantamkan ke dinding jurang.
Kim Ho hanya bisa pasrah, apa yang akan terjadi terjadilah Kim Ho memejamkan mata, menahan segala rasa sakit yang dideritanya.
Akhirnya hujan badai mulai reda Kim Ho sudah dapat bergerak duduk di dahan pohon.

Sang rembulan mulai muncul gemerlap bintang bintang dilangit mulai terlihat.
Kim Ho mulai memikirkan cara menyelamatkan diri.
“Kalau aku turun ke bawah resiko tergelincir lebih besar, lagi pula aku tidak tahu berapa dalam jurang ini, Ahโ€ฆlebih baik aku memanjat dinding jurang ini” Pikir Kim Ho.
dan mulailah Kim Ho memanjat dinding jurang walaupun sangat licin setelah diguyur hujan deras.

Dengan perlahan lahan Kim Ho mulai mendaki dinding jurang memanfaatkan tonjolan bebatuan sebagai tumpuan, sudah lebih dari lima tombak dan untuk kembali ke atas masih setinggi lima tombak lagi. Kim Ho terus memanjat keatas tiba tiba tangannya menjangkau sebuah lobang gunung.

“Huups!” Kaki kanan Kim Ho berhasil menjejak lobang gunung kemudian disusul kaki kiri, rupanya lobang gunung ini cukup lebar cukup lebar untuk berdiri Kim Ho.
Lobang gunung ini ternyata berbentuk terowongan alam yang memanjang.
Kim Ho mulai berjalan menelusuri terowongan ini, setelah berjalan lebih kurang sepuluh tombak sampailah Kim Ho pada sebuah ruangan yang lebar.

“Sepertinya ini adalah sebuah Gua tersembunyi” Pikir Kim Ho, karena pada langit langit terdapat bebatuan runcing yang menjuntai dan di lantai juga terdapat bebatuan runcing (Stalagtit dan stalagmit) dan bebatuan runcing itu mengeluarkan cahaya kehijauan.
“Apakah batu batu bercahaya itu adalah YE-BENG-CIOK (Batu fosfor) yang sering di buat perhiasan dan harganya juga sangat mahal”
Tangan Kim Ho memegang batu batuan bercahaya itu dengan hati gembira, sangat takjub dengan keindahan nya.

Kim Ho terus berjalan mengitari ruangan Gua yang terang benderang oleh batuan fosfor ini, dan di dalam ruang Gua ini Kim Ho menemukan dua buah peti kayu yang sudah usang dan dipenuhi dengan sarang laba laba yang sangat tebal, entah apa isi dari dua buah peti kayu ini.
Walau penasaran Kim Ho tidak segera membuka ke dua leti tersebut akan tetapi mengitari seluruh ruang Gua terlebih dahulu, sampai diujung Gua ternyata masih terdapat terowongan sempit, Kim Ho pun berjalan menelusuri terowongan yang semakin dalam semakin menyempit, hingga ujung terowongan yang hanya bisa dilalui dengan memiringkan badan, akhirnya Kim Ho berhasil keluar dari ujung terowongan yang tertutup sebagian oleh akar akar pohon raksasa.

Betapa gembiranya Kim Ho rupanya ujung terowongan terhubung dengan dataran yang lumayan luas yang ditumbuhi pohon pohon berukuran raksasa.
dan di tengah tengah dataran terdapat sebuah telaga kecil yang berair sangat jernih, dengan gembira Kim Ho meminum air dari telaga yang rasanya sangat segar.

Kim Ho terus berjalan mengitari tanah datar tersebut, rupanya hanya salah salah satu bukit karena sampai di ujung adalah jurang jurang yang dalam,dan saat mendangak melihat ke atas adalah dinding gunung yang sangat tinggi dan saat memandang jauh ke sekeliling terlihat pegunungan Thai-San yang sangat luas.

Kim Ho sangat gembira menemukan tanah datar dan telaga ini, walaupun masih terkurung di bukit yang tersembunyi setidaknya dia tidak akan mati kelaparan dan kehausan.
setelah mengetahui keadaan sekitar bukit ini Kim Ho kembali memasuki terowongan di balik akar pohon raksasa kembali menuju kedalam Gua fosfor.

Kim Ho mengamati dua buah peti kayu ini, “Peti kayu ini adalah buatan manusia, bukan dari alam, pasti ada manusia yang pernah datang kemari dan meninggalkan dua buah peti ini disini, dari tebalnya sarang laba laba dan usangnya kayu peti, dapat diperkirakan kalau dua buah peti kayu ini sudah sangat lama disini” pikir Kim Ho dalam hati.

Karena penasaran mulai dibersihkanlah sarang laba laba yang menutupi, perlahan lahan Kim Ho membuka peti pertama, karena sebagian kotak kayu sudah mulai rapuh dimakan umur saat terbuka tutup peti pun hancur menjadi serpihan kayu, dan isi nya adalah dua buah kitab yang tidak terbuat dari kertas akan tetapi terbuat dari kain sutra.
di bagian muka kitab tersebut tertulis WU-CING dan Kitab yang satunya bertuliskan SI-SU

Kim Ho membalikan halaman kedua kitab tersebut, isinya hanya berupa wejangan dan syair syair dari Filsuf Kong-Hu-Cu.
Walaupun hanya anak seorang petani kedua orang tua Kim Ho tidak buta huruf, dan Kim Ho dapat membaca dengan lancar karena diajarkan oleh kedua orang tuanya, dan Kim Ho juga sangat mengenal syair syair yang ditulis di kedua kitab ini karena memang kitab NGO-KENG dan kitab SI-SHU adalah dua buah kitab suci ajaran Kong Hu Cu.

Desa tempat tinggal Kim Ho yaitu Thian-Bun-Cun letaknya tidak jauh dari kota KU-FU jadi tidak heran kalau penduduk disekitar banyak menganut agama Kong Hu Cu termasuk kedua orang tua Kim Ho dan syair syair di kedua kitab ini sudah sering diajarkan oleh kedua orang tuanya.

Kemudian Kim Ho membuka peti Kayu ke dua yang ukuran petinya lebih kecil tapi lebih panjang,”Kraak!..” saat di buka tutup peti juga hancur seperti peti pertama dan tercium aroma kayu cendana, isinya adalah sebatang Suruling yang terbuat dari kayu cendana berukirkan seekor naga dan dua buah gulungan kain.

Kim Ho membuka gulungan kain pertama terdapat gambar gambar posisi bersemedhi dan keterangan cara bernafas.
Gulungan kain yang kedua bertuliskan syair sebuah lagu lengkap dengan notasi musiknya.


Syair men tertawakan dunia

Laut tertawa,
gelombang laut melintasi selat
Naik turun mengikuti ombak

Langit mentertawakan
ombak laut yang ada di dunia
Siapa yang kalah, siapa yang menang,
hanya Tuhan yang tahu

Sungai dan Gunung tertawa
hujan dan Kabut bergembira
Seberapa banyak yang Anda ketahui tentang gelombang laut
yang bergulung tiada hentinya?

Angin tertawa
mengusir kesepian
dari malam pekat penuh peristiwa yang tak terlupa

Semua orang tertawa,
tidak lagi sendiri.
Berbanggalah dan tertawalah
teruslah tertawa

ha ha ha . ha ha ha
ha ha ha . ha ha ha


Kim Ho meraih Suling tersebut, walaupun hanya terbuat dari kayu akan tetapi terasa sangat berat seperti berat nya logam, Kim Ho mencoba meniup nya akan tetapi tidak berhasil dibunyikan, merasa penasaran Kim Ho mencoba meniupnya puluhan kali akan tetapi tetap saja tidak berhasil untuk membunyikan sampai kepalanya terasa pusing.

Karena tidak berhasil membunyikan seruling Kim Ho membuka gulungan kain cara semedhi dan mengatur pernafasan.
Di bagian paling atas dari kain itu tertulis satu kalimat.
Jangan Harap dapat membunyikan Suling cendana sebelum berhasil menguasai ilmu Tee-Liong-Khi-Kang ilmu Pernafasan Naga Bumi dan penjelasan cara menahan nafas menghembuskan nafas di lengkapi dengan gambar gambar orang bersila dalam berbagai posisi yang aneh aneh.

Dan dibaris paling bawah tertulis kalimat.
Hanya orang yang berjodoh denganku yang dapat mempelajari Tee-Liong-Khi-Kang kemudian tertulis Bu-Beng-Lo-Jin (orang tua tanpa nama)

“Oh.. Rupanya kedua peti kayu ini sengaja di tinggalkan oleh Bu Beng Lo Jin untuk orang yang berjodoh dengannya, siapa Bu Beng Lo Jin? Sulingnya sangat aneh dan syair lagu ciptaannya juga sungguh aneh, apakah beliau adalah seorang pertapa?” pikir Kim Ho.

Tiba tiba rasa panas mulai dari racun Kim-Pai-Coa yang menyatu dengan darah Kim Ho mulai bereaksi lagi Kim Ho mulai merasa kepanasan, pakaian nya yang basah kuyup oleh air hujan berangsur angsur menjadi kering karena panas tubuh Kim Ho.

Kim Ho Segera mencoba mempraktekan cara pernafasan yang tertulis di kain yang di pegangnya, duduk bersila memejamkan mata, menarik nafas dalam dalam dengan tujuh hitungan kemudian di tahan dalam tujuh hitungan dan di hembuskan kembali dalam empat belas hitungan.

Kim Ho melakukannya berulang ulang, sungguh ajaib rasa panas di dalam tubuh tidak lagi terasa, begitu juga disaat rasa dingin menyerang Kim Ho tidak lagi merasa menggigil kedua energi bertentangan itu berhasil di kendalikan, Kim Ho tidak lagi merasa menderita.

kemudian Kim Ho melanjutkan dengan posisi bersila dengan posisi terbalik kedua tangan menopang tubuh sedangkangkan ke dua kaki nya di sandarkan di dinding Gua, setelah lima menit kepalanya terasa sakit dan sulit untuk bernafas, akan tetapi Kim Ho mengeraskan hati dan terus menerus melakukan pernafasan sesuai petunjuk lama kelamaan Kim Ho terbiasa dan melanjutkan posisi bersila dan cara mengatur pernafasan berikutnya.
Kim Ho terus menerus melakukan Siu-Lian (semedhi) Tee-Liong-Khi-Kang sampai kokok ayam hutan terdengar.

Kim Ho tersenyum gembira badannya sekarang terasa sangat segar.
bergegas Kim Ho keluar dari Gua.

Sungguh sangat indah sekali warna langit saat pagi, udara terasa sangat sejuk dan segar, bunyi kicau burung bersahutan merupakan suara alam yang sangat indah.
Kim Ho tertawa dan berlari lari mengelilingi telaga yang jernih.

Bersambung

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts