
globalcybernews.com -Thai-Shan-Si-Koay (empat orang aneh gunung Thai Shan) kini menjadi guru dari Kim Ho, di dunia Kang Ouw nama mereka sangat terkenal, bukan hanya karena kesaktiannya akan tetapi sifat mereka yang aneh dan bertindak sesuka hatinya.
Pada masa mudanya mereka adalah tokoh tokoh dunia Kang Ouw yang menggemparkan, setelah bosan dengan kehidupan dunia Kang Ouw mereka menyepi di gunung Thai Shan dan hanya sesekali menampakan diri di dunia ramai.
Dan hanya kebetulan saja mereka menempati salah satu gunung di pegunungan Thai Shan mereka bukanlah sahabat tetapi selalu bersaing mengadu ilmu kesaktian setiap tahun nya yaitu pada perayaan Tiong-Chiu ( pertengahan musim gugur)
Pek-In-Tosu bernama Tio Hui Siong, sebenarnya adalah anak murid dari Bu-Tong-Pai karena ketahuan terlibat hubungan asmara dengan seorang gadis dia diusir dari Bu Tong Pai, dan setelah ditinggal mati oleh kekasihnya sifat nya menjadi aneh apapun kemauannya akan dilaksanakan tanpa mengindahkan peraturan benar atau salah.
Kim-Cho-To (Celurit Emas) bernama Sie Kong Liang dimasa mudanya adalah seorang perampok yang sangat kejam dan termasuk tokoh golongan sesat yang ditakuti, di masa tua nya menyepi di gunung Thai San menjadi seorang petani akan tetapi dirinya masih disegani oleh tokoh-Tokoh golongan sesat.
Gin-Pit-Siucai (Sastrawan berpena perak) bernama Kao Cin Han, di masa muda nya adalah seorang pendekar sakti yang terkenal tampan, akan tetapi mempunyai kebiasaan buruk dalam masalah asmara, dia tidak pernah menolak wanita yang menyukainya dan mempunyai banyak kekasih, walau menjalin asmara atas dasar saling suka banyak wanita mantan kekasihnya patah hati dan menyimpan dendam karena dia selalu menerima cinta siapa saja.
bagi yang tidak suka menganggap dirinya sebagai Jai-Hwa-Cat (Penjahat pemetik bunga)
Sin-Ji-Hosiang (Biksu Jari Sakti) bernama Pui Si Giok di masa mudanya adalah murid utama dari kuil Siauw Lim Si, akibat melanggar aturan memasuki makam keramat Tat-Mo-Cauwsu dan mempelajari kitab pusaka peninggalan Tat-Mo-Causu lalu diusir dari kuil Siauw Lim, selama berpetualang di dunia Kang Ouw lebih dikenal dengan julukan Sin-Ji-Ho-Siang (Biksu berjari Sakti)
Empat Orang aneh ini bersepakat mengajari Kim Ho secara bergantian setiap bulan purnama Kim Ho harus berpindah tempat kepada gurunya yang lain.
Empat orang aneh ini tidak mau kalah untuk mendapat gililaran pertama mengajar Kim Ho akhirnya diadakanlah undian nama mereka masing masing di tulis diselembar kertas kemudian digulung, Kim Ho yang ditutup matanya disuruh mengambil gulungan kertas saty persatu.
“Baiklah Siwi Suhu teecu akan mengambil gulungan kertas kertas ini satu persatu, pada dasarnya Teecu tidak mempersalahkan teecu harus mengikuti siapa lebih dulu!”
“Aduuh gak usah cerewet pakai banyak basa basi sintong ambil saja gulungan kertas itu cepat!..aku sudah tidak sabar untuk mengetahui giliranku!”
Ucap Kim-Cho-To yang mempunyai watak kasar dan berangasan.
Kim Ho lalu mengambil salah satu gulungan kertas dan diberikan kepada Sin-Ji-Hosiang, gulungan kertas pertama lalu dibuka “Omitohud!.. yang mendapat giliran pertama adalah Kim-Cho-To petani sakti bercelurit emas!”
“‘Ha..ha..ha.. Benar sekali perasaan ku Sintong memang paling berjodoh untuk menjadi muridku!” teriak Kim Cho To seperti anak anak yang mendapat mainan barum
Kemudian Kim Cho To mendapat tugas untuk menerima gulungan kertas kedua dan membacakan “yang mendapat giliran ke Dua adalah Sin-Ji-Hosiang!..”
“Omitohud !..Pinceng mendapat giliran kedua untuk mengajar Sin Tong, semoga Thian Merestui!”
Gulungan Kertas ketiga dibacakan oleh Pek In Tosu “Yang mendapat giliran ke Tiga adalah… ha.. ha..ha.. ternyata namaku sendiri Pek In Tosu!”
Dan Gulungan kertas terakhir tertulis nama Gin-Pit-Siucai, “He.. he..he.. tidak apa apa aku mendapat giliran terakhir untuk mengajari Sin Tong, tapi apa yang akan Sin Tong pelajari dari aku, adalah sesuatu yang paling dia sukai, Baiklah giliranku masih menungu tiga purnama lagi, aku akan kembali dulu ke Lembah Selaksa Bunga !..” Lalu Gin Pit Siucai menuruni lereng Kumala hijau untuk kembali ke tempat tinggalnya di Lembah selaksa bunga.
“Pinto juga akan kembali ke puncak awan, nanti Pinto Yang akan menjumput Sin Tong Telaga-Teratai di tempatnya Sin Ji Hosiang !” Pek In Tosu berlari cepat menaiki lereng gunung untuk kembali ke Puncak Awan.
“Omitohud!..Kalau begitu Pinceng juga akan kembali dulu ke Telaga Teratai!” Sin-Ji-Hosiang berjalan perlahan menuju sebelah utara lereng Pualam hijau menuju Telaga Teratai yang letaknya di sebelah utara dari lereng pualam Hijau.
Kini Tinggallah Kim Ho di Pik-Giok-Hong (Lereng pualam Hijau) untuk mendapatkan pelajaran pertama dari Kim Cho To Sang Petani Sakti bercelurit Emas.
“Hei..Kim Ho aku tadi mendengar kau adalah anak petani miskin, aku sendiri berasal dari keluarga petani, kita memang sangat berjodoh Kim Ho, sekarang coba kau ceritakan kisah hidupmu !”
Ucap Kim Cho To, walaupun sikapnya kasar dab berangasan akan tetapi sangat perhatian kepada Kim Ho.
“Teecu bermarga Chai bernama Kim Ho Ayahku hanya seorang Buruh Tani yang bekerja dengan Coa Gwanswe di Dusun Thian Bun Cun Ayah sudah meninggal saat Teecu masih berusia dua tahun, dan ibu meneruskan mencari nafkah menjadi pelayan di rumah Coa Gwanswe akan tetapi ibu Juga sudah meninggal dua tahun yang lalu karena sakit keras, dan akhirnya teecu yang bekerja kepada Coa Gwanswe untuk menghidupi diri sendiri, Teecu di beri tugas untuk mengembalakan domba domba dan mencari rumput untuk sapi peliharaan Coa Gwanswe, pada suatu hari Teecu dikejar kejar oleh segerombolan srigala yang memaksa Teecu memasuki Hutan Ban Kwi Lim dan terjatuh kebawah jurang, Teecu terkurung disana selama setahun, dan akhirnya dibawa keluar oleh Suhu Pek In Tosu sampai di sini”
Kim Ho menceritakan kisah hidupnya dan raut wajahnya menampakan kesedihan saat menceritakan kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Kim Cho To mendengarkan penuturan Kim Ho dengan penuh perhatian, dan diapun teringat masa kecilnya yang juga adalah anak seorang petani miskin hidupnya serba kekurangan penuh dengan penderitaan yang membuat dia giat berlatih ilmu silat, rasa dendamnya kepada orang orang yang membuat hidupnya menderita dibalas, dan Kim Cho To akhirnya menjadi perampok yang kejam terhadap kaum pejabat dan hartawan karena dendam dari masa kecil terhadap orang orang kaya yang selalu menghinanya.
“Memang orang-orang kaya selalu menindas orang miskin dan tak berdaya!.. Jangan sedih Kim Ho masa kecilku dahulu lebih menderita, kau harus giat berlatih agar menjadi seorang yang sakti, dengan kesaktian ilmu silat kita akan terhindar dari gangguan orang jahat, bahkan kita dapat mengambil apa saja dari mereka termasuk nyawa nyawa mereka, ha..ha..ha!..”
Kim Cho To tertawa terbahak bahak mengerikan, rupanya trauma dari masa lalu tertanam terlalu lama membuat dirinya dendam dengan orang orang kaya.
“Bukankah Suhu akan mengajariku ilmu bertani?..bukan ilmu silat dan mencelakai orang apa lagi sampai mengambil nyawa orang sesuka hati!” kata Kim Ho dengan polos.
“Ha..ha..ha.. benar sekali Kim Ho aku akan mengajarkan ilmu cara bertani agar kau menjadi petani yang hebat…ha..ha..ha!. aku jadi lupa kau tidak suka ilmu silat, baiklah kita sekarang pulang dulu ke pondokku untuk beristirahat, mulai besok pagi akan aku ajarkan ilmu bertani!”
Ucap Kim Cho To yang sadar kalau dia audah kebablasan berbicara akan tetapi di dalam hati Kim Cho To tetap berniat menurunkan ilmu ilmu saktinya dengan alasan mengajari ilmu bertani.
Kim Ho berjalan mengikuti Kim Cho To hingga sampai di satu rumah kayu yang sangat besar dengan halaman yang luas dan di tumbuhi dengan beraneka pohon buah buahan.
Bersambung
Red









