
Bagian 07
globalcybernews.com -“Ayo Masuk Kim Ho disinilah pondok kediamanku!”
berkata Kim Cho To mempersilahkan Kim Ho utuk memasuki rumahnyam
Kim Ho terpukau setelah memasuki rumah kediaman Kim Cho To, dinding bangunanan yang semuanya terbuat dari bahan kayu dengan kusen kusen jendela dan tiang tiang penyangga bangunan penuh dengan ukiran yang halus, lantai bangunan juga terbuat dari bahan kayu yang halus dan sangat rata.
Perabotan berupa kursi dan lemari terbuat dari akar kayu yang diukir berbentuk naga.
Sebuah penyekat ruang yang dibuat berupa rak bersusun, di penuhi dengan benda benda pajangan yang sangat indah ada ukiran gading gajah, Hiolo yang terbuat dari batu giok, dan banyak sekali patung patung hiasan yang terbuat dari emas dan perak.
“Rumah dan perabotan kayu ini adalah hasil karyaku sendiri, sedangkan benda benda pajangan itu adalah hasil rampasanku dari pembesar dan hartawan yang aku rampok!”
Berkata Kim Cho To menjelaskan satu persatu benda benda antik yang berhasil dikumpulkannya.
Kim Ho hanya mendengarkan saja penuturan dari Kim Cho To akan tetapi didalam hati dia tidak setuju dengan cara gurunya mendapatkan barang barang berharga tersebut, dengan cara merampas dan membunuh pemiliknya.
“Selain benda benda pajangan, aku juga memiliki banyak sekali buku buku, sebagian dari buku buku itu aku ambil dari perpustakaan istana, entah buku apa saja, aku sendiri tidak suka membaca, dan senjata senjata yang tergantung di dinding itu adalah senjata dari musuh musuh yang berhasil ku bunuh !”
Berkata Kim Cho To menunjuk ke sisi dnding yang tergantung puluhan senjata beraneka jenis, ada pedang,Golok,Busur,Cambuk,tombak.
Kim Ho yang melihat puluhan senjata tergantung di dinding itu merasa ngeri membayangkan pemiliknya yang dibunuh oleh guru nya Kim Cho To, betapa jahat dan kejam gurunya yang satu ini, akan tetapi Kim Ho sudah bertekad tidak mempelajari ilmu silat akan tetapi ilmu bertani dan pertukangan dari Kim Cho To.
“Matahari sudah mulai,tenggelam beristirahatlah Kim Ho Besok sebelum subuh kau sudah harus bangun, dan aku akan mengajarimu ilmu pertanian!”
“Aku belum mengantuk suhu, apakah boleh aku duduk di teras mencari angin?”
“Boleh muridku, anggap saja ini adalah rumahmu sendiri, semua barang yang ada di rumah ini boleh kau pakai dan buku buku yang tertumpuk di rak juga boleh kau baca!” kemudia Kim Cho To berjalan memasuki kamarnya.
Kim Ho merasa sangat berterima kasih sekali kepada gurunya yang sudah bersikap sangat baik terhadap dirinya, setelah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya baru ini, Kim Ho merasakan tinggal di dalam rumah, selama ini dia hanya tidur di sebuah pondok dekat dengan kandang domba saat masih menjadi kacung di rumahnya Coa Gwanswe.
Menurut suhu nya sendiri Kim Cho To adalah tokoh Sesat dan penjahat yang kejam, akan tetapi sikapnya sangat baik kepada Kim Ho.
Kim Ho jadi teringat dengan wejangan wejangan Kong Hu Cu yang pernah dibacanya, Tidak ada manusia yang jahat seratus persen, sejahat jahatnya manusia pasti masih mempunyai nurani kebaikan, begitu juga sebaliknya tidak akan ada manusia yang baik secara sempurna, sesekali dia pasti pernah berbuat kesalahan dan juga pernah berbuat kejahatan.
Di alam dunia ini baik dan buruk,salah dan benar sangat relatif, terkadang perbuatan yang didasari dengan niat baik pun akan dianggap buruk tergantung sang penilai, bila dia merasa diuntungkan akan mengangapnya baik dan jika Ia merasa dirugikan akan menganggapnya buruk.
Kim Ho Lalu keluar ke teras rumah tampak pemandangan langit dengan kerlap kerlip bintang bak permata, Cahaya bulan yang lembut menyinari persawahan, semilir angin di lereng gunung Thai Shan memang terasa dingin, suasana yang hening tenang dan tentram menggerakan hati Kim Ho untuk bermain suling.
Sebuah lagu lagu anak anak berjudul “anak petani” dimainkan dengan nada nada yang sangat indah, suara suling yang mendayu dayu di tengah keheningan malam membuat suara Suling yang dimainkan Kim Ho sangat jelas sekali, sudah lebih dari tiga kali Kim Ho mengulang ngulang lagu kesukaan nya.
Tanpa Kim Ho sadari suhu nya Kim Cho To sudah berdiri di belakang punggungnya, rupanya sang guru belum tertidur dan tertarik dengan indahnya suara suling yang dimainkan dan rupanya lagu “Anak Petani” juga adalah lagu kesukaan Kim Cho To, lagu ini sangat menyentuh hati, kenangan masa kecil Sang Guru seakan akan terlintas kembali dengan jelas, tanpa disadari dari sudut mata Kim Cho To meneteskan air mata.
Setelah Kim Ho usai memainkan lagu, Kim Cho To baru tersadar kalau dia sudah meneteskan banyak air mata.
di pegangnya pundak Kim Ho yang sedang duduk dengan lembut.
“Kim Ho, permainan sulingmu sungguh luar biasa indah, dan suara sulingmu mengandung kekuatan KhI-Kang yang sangat dahsyat, dari mana kau mempelajari meniup suling?”
“Oh suhu, belum tidur rupanya,..apakah suara sulingku sudah mengganggu tidur suhu? kalau begitu maafkanlah Tee Cu yang sudah menggangu tidur suhu!”
Ucap Kim Ho menundukan kepala.
“Tidak sama sekali, suara sulingmu bahakan sangat menghibur, permainan sulingmu bertenaga Khi-Kang yang sangat dahsyat apakah kau sudah pernah belajar ilmu Khi-Kang, muridku?”
Kim Cho To kembali mengajukan pertanyaan .
“Saat Tee Cu terjatuh dari Hutan Ban Kui Lim secara tidak sengaja Tee Cu masuk kedalam Gua Fosfor, dan di dalamnya Tee Cu menemukan dua buah peti kayu kayi peninggalan Bu-Beng-Lojin, yang berisi cara melatih pernafasan Tee-Liong-Khi-Kang (Ilmu Pernafasan Naga Bumi) agar Tee Cu dapat meniup Suling Cendana ini !” Jawab Kim Ho dengan jujur dan polos.
Kim Cho To terbelalak mendengar penuturan jujur dari Kim Ho.
“Kitab peninggalan Bu Beng Lojin !”
“Benar suhu di selembar kain tertulis Bu Beng Lojin, sayang sekali Kitab tersebut tertinggal di Gua fosfor, seandainya tee Cu membawa nya akan Tee Cu perlihatkan pada Suhu,.. siapakah Bu Beng Lojin apakah suhu mengenal Bu Beng Lojin?”
“Bu Beng Lojin adalah seorang sakti manusia setengah dewa di zaman dinasti Cou, konon khabarnya dia adalah pengikut setia dari Kong Hu Cu, yang sangat baik hati dan suka menolong siapa saja, dan mengajarkan kepandaiannya kepada orang yang berjodoh tanpa memandang orang baik ataupun orang jahat, akan tetapi orang orang dunia kang Ouw menganggap Tokoh Bu Beng Lojin hanya sebagai tokoh legenda! akan tetapi kau benar benar telah menemukan kitab peninggalannya sungguh luar biasa !”
“Suling Cendana ini aku temukan bersama naskah Tee-Liong-Khi-Kang !”
Kim Ho menyodorkan Suling Cendana untuk di perlihatkan kepada Suhu nya.
Kim Cho To meraih suling Cendana, diamati dengan sangat cermat bentuk Suling Cendana yang sangat unik itu, baunya yang sangat harum dan ukiran seekor naga yang sangat halus,
“Suing ini bukanlah suling biasa akan tetapi suling ini adalah benda pusaka, bahannya bukan dari kayu, tetapi dari fosil kayu cendana yang sudah berusia ribuan tahun, Suling ini sangat keras bahkan golok mustika pun tak akan mampu untuk memotongnya! kau sangat beruntung sekali Kim Ho, kau benar benar Sin Tong!”
Berkata Kim Cho To dengan sangat kagum.
“Kau sudah mampu menyalurkan kekuatan Khi Kang kedalam suara suling, itu menandakan kekuatan tenaga Sin Kang (tenaga sakti) sudah terhimpun di tubuhmu, tinggal mempelajari cara cara menyalurkan tenaga sakti kemana kau suka!”
Kemudian Kim Cho To menempelkan telapak tangannya kepusar Kim Ho.
Kim Ho merasakan hawa panas yang mulai memasuki perutnya semakin lama semakin terasa panas, akan tetapi tiba tiba saja ada gerakan enerji yang berputar putar dilusar Kim Ho dan menolak hawa panas yang memasuki tubuhnya.
“Blaaam!..”
sebuah tenaga yang dahsyat tiba tiba mendorong tubuh Kim Cho To hingga terhuyung sejauh empat langkah.
Kim Ho terkejut segera menghampiri Suhu nya yang terhuyung akibat tenaga sakti yang secara tiba tiba menolak tenaga sinkang yang disalurkan Kim Cho To
“Suhu kau tidak apa apakah?”
Teriak Kim Ho khawatir.
“Aku tidak apa apa Kim Ho, kau memang seorang Sin Tong yang luar biasa, ditubuhmu sudah terhimpun tenaga sinkang yang sangat besar, dengan kekuatan tenaga sinkang yang telah kau miliki sekarang, akan sangat mudah kau mempelajari ilmu Gin-Kang (Ilmu meribgankan tubuh) yang akan kuturunkan padamu!”
Kim Ho semakin bingung, mendengar ucapan gurunya karena memang Kim Ho sama sekali tidak pernah mengenal ilmu silat.
“Aku akan menjelaskan tentang istilah istilah dalam ilmu silat, agar kau mengerti, jurus jurus dan gerakan gerakan dalam ilmu silat hanyalah kembangan saja, akan tetapi untuk dapat mengalahkan lawan atau menangkis serangan dari lawan diperlukan tenaga, tenaga dalam tubuh manusia terdiri dari dua jenis yaitu Gwa-Kang (tenaga luar) dan Lwe-Kang (Tenaga dalam) Gwa kang dihasilkan dari kekuatan otot yang terlatih, sedangkan Lwe-Kang dihasilkan oleh tenaga sakti yang ada dalam tubuh manusia, dan untuk membangkitkan tenaga Sin-Kang harus melalui latihan semedhi pemusatan pikiran dan latihan pernafasan yang di sebut dengan Khi-Kang, nah yang trlah kau pelajari dari naskah yang diwariskan oleh Bu-Beng-Lo-Jin adalah salah satu jenis dari ilmu Khi-Kang, karena kau sudah giat berlatih maka tenaga sinkang di dalam tubuhmu juga sudah terhimpun!”
Mendengar penjelasan dari Suhu-nya Kim Ho, sedikit mengerti walau belum sepenuhnya,.dan rasa ingin tahu membuat Kim Ho kembali mengajukan pertanyaan kepada Suhu-nya .
“Dan bagaimana dengan ilmu Ginkang (Ilmu meringankan tubuh) yang suhu pertunjukan tadi siang dapat duduk diatas ranting pohon yang sangat kecil!”
” He he he , Ilmu ginkang milik ku disebut dengan Mian-Hua-Teng-Yap (kapas hinggap di daun) jangankan hanya duduk diatas ranting yang kecil, bahkan suhu mu ini mampu berdiri diatas daun atau bunga teratai yang terapung di air, he he he .. kau tenang saja nanti pasti aku ajarkan!… pada prinsipnya ilmu Gin-Kang juga membutuhkan tenaga sinkang, Keseimbangan terjaga karena daya tolak tenaga sinkang terhadap gaya gravitasu bumi, kecepatan bergerak dan berlari juga membutuhkan tenaga sakti yaitu tenaga sinkang!..kau sudah memiliki kekuatan Sin-Kang yang sangat besar akan lebih mudah dan cepat bagimu mempelajari ilmu Gin-kang!”
Kim Cho To sangat gembira, mengetahui Kim Ho sudah memiliki kekuatan Sin-kang yang sangat besar, Kim Cho To tertawa terbahak bahak melihat kenyataan muridnya yang tidak mau belajar ilmu silat akan tetapi setiap hari melatih Tee-Liong-Khi-Kang dan tertarik untuk mempelajari ilmu ginkang darinya, padahal ilmu ginkang juga Sinkang adalah inti dari pelajaran ilmu silat.
“Terima kasih suhu tee Cu akan giat belajar ilmu Gin Kang dari suhu akan tetapi Tee Cu tidak mau belajar ilmu ilmu untuk memukul orang!”
“Baiklah Kim Ho, muridku yang baik tapi kau sungguh Sin Tong yang aneh, pada dasarnya semua ilmu adalah sama baik buruknya ilmu tergantung dari orang yang mempergunakannya, Aku kasih sebuah contoh sederhana, sebatang Celurit akan baik dan bermanfaat kalau dipakai untuk menevas rumput, akan tetapi sebatang celurit juga dapat digunakan untuk menebas leher orang, begitu juga halnya dengan ilmu silat kalau digunakan untuk membela diri tentu menjadi ilmu yang baik untuk melindungi diri, akan tetapi akan menjadi buruk bila dipergunakan untuk mencelakai orang!”
Kim Cho To menjelaskan panjang lebar, akan tetapi Kim Ho tetap teguh pada prinsipnya tidak mau belajar ilmu silat.
“Baiklah Kim Ho, Sin Tong yang aneh terserah kamu saja, apa saja yang hendak kau pelajari akan suhu ajarkan!”
Kim Cho to Membelai kepala Kim Ho dengan penuh kasih sayang.
Bersambung
Red









