
Bagian 08
globalcybernews.com -Kim Ho Merasa bersukur, betapa Kim Cho To yang merupakan datuk sesat yang kejam, tetapi memperlakukan dirinya bagai anaknya sendiri.
Di dalam Kamarnya Kim Ho kembali melatih pernafasan Tee-Liong-Khi-Kang Sebelum tidur,
Sesuai dengan pesan gurunya sebelum matahari terbit Kim Ho sudah terbangun, langsung menuju teras, alangkah terkejutnya Kim Ho mendapatkan suhu nya sudah bangun dan menanti diri nya dan sedang duduk di bangku teras.
“Kau Sudah bangun Kim Ho, ayo kita sarapan dulu, ini adalah Kentang merah, yang hanya dapat tumbuh di gunung Thai Shan ini, rasanya manis agak sedikit berbeda dengan kentang biasa!”
Kim Ho pun duduk disamping gurunya yang sedang memakan kentang rebus, dengan lahapnya.
dengan agak malu malu Kim Ho mengambil sepotong kentang rebus yang berwarna merah dan dimakan dengan perlahan.
“Hhhm ..Kentang merah ini enak sekali rasanya manis dan sangat lembut, apakah kentang merah ini adalah hasil kebun sendiri suhu!”
“Tentu saja saya yang menanamnya, akan tetapi hanya dapat ditanam disaat musim panas sampai musim gugur, disaat musim dingin kentang ini tidak dapat tumbuh, dan ini adalah teh hijau yang sangat harum, minumlah Kim Ho !”
“Benar sekali suhu aroma teh ini sangat harum, walaupun warnanya tidak terlalu tua, terima kasih suhu!”
“Ha ha ha, tidak usah sungkan makanlah yang banyak, setelah ini kita akan bekerja di ladang! dan aku akan mulai mengajarimu cara berlatih Gin Kang!”
Seusai Sarapan Kim Cho To segera melesat berlari di ikuti oleh Kim Ho,
akan tetapi Kim Cho To berlari lama semakin cepat, mau tidak mau Kim Ho terus berlari mengikuti suhu nya,.walau nafasnya mulai tersenggal senggal.
“Kim Ho, saat berlari usahakan saat melayang lebih lama dan saat menjejakan kaki ditanah harus lebih cepat, di saat melompat tahan nafas dan saat tubuh melayang diudara hembuskan nafas perlahan dan begitu seterusnya!”
Kim Cho To memberikan petunjuk sederhana, tetapi merupakan dasar pengenalan ilmu Gin-Kang (meringankan tubuh)
“Baik suhu Tee Cu sudah melakukan petunjuk suhu, tetapi mengapa saat menjejakan kaki di tanah tubuh Tee Cu masih merasa berat!”
“Pusatkan konsentrasimu, tatapan mata jauh kedepan tarik nafas dalam dalam nafas yang terhimpun didalam rongga dada turunkan ke Tan-Thien (Daerah sekitar pusar) kemudian alirkan tenaga yang terhimpun sampai ke ujung jari kaki, tananlah nafas saat ujung jari kaki menjejak lantai dan lompatlah sejauh kau bisa dengan menghembuskan nafas perlahan!”
Kim Ho terus berlari di belakang Kim Cho To, langsung menerapkan petunjuk Kim Cho To untuk dapat berlari cepat, nafas yang semula tersengal sengal tak teratur setelah mengikuti petunjuk Suhu nya Kim Ho merasakan pernafasan nya lebih ringan dan nyaman dan kakinya tidak cepat merasa capek, berlari juga lebis cepat walaupun belum bisa melampauhi kecepan lari dari Suhunya.
Kim Cho To memang sengaja mengajak Kim Ho berlari mengelilingi lereng gunung Kumala Hijau,.walaupun jarak tempuh dari rumah sampai ladang dapat dicapai lebih singkat tapi Sang Guru memang sengaja mengajaknya berlari berkeliling untuk mengajarkan ilmu berlari cepat
pada dasarnya Kim Ho sudah memiliki kekuatan sinkang karena tekun berlatih Tee-Liong-Khi-Kang setiap malam, membuat Kim Ho dengan cepat dapat mengikuti cara berlari cepat yang diajarkan nya.
Kim Cho To berlari menaiki lereng gunung, dan Kim Ho terus mengikuti di belakang gurunya.
tiba tiba Kim Cho To menghentikan langkahnya saat mereka berada di sebuah bukit kecil.
“Kim Ho kita sekarang berada diatas sebuah bukit kecil, Coba lihat kebawah !”
Kim Ho melihat kebawah sesuai perintah suhu nya, dan belum mengerti apa maksud gurunya menyuruhnya melihat kebawah.
“Tinggi bukit ini sampai kebawah ada sekitar sepuluh tombak (1 tombak =1,5 meter) kau pusatkan pandangan mata pada titik yang akan kau jejak, saat melompat turun usahakan tubuhmu tidak kaku dan ayunkan tangan dan kaki agar lebih lama tertahan di udara saat menjejakan kaki ditanah lenturkan semua sendi dan otot tubuh alirkan semua tenaga sakti sampai ke ujung kaki, ini adalah latihan dasar ilmu Ginkang, setelah dapat melompat kebawah dengan sempurna baru akan aku ajarkan melompat keatas, ayo sekarang lompatlah kebawah sesuai dengan petunjuk yang aku ajarkan!”
Kim Ho merasa ngeri juga diperintah suhunya untuk melompat dari ketinggian sepuluh tombak, akan tetapi Kim Ho meyakinkan diri nya, karena tekad yang besar mempelajari ilmu Gin-Kang akhirnya Kim Ho nekad melompat sesuai dengan petunjuk Suhu nya.
‘Huuup!..” Kim Ho melompat ke bawah bukit merasa dirinyanya bagaikan seekor burung elang yang melayang diangkasa.
tiba tiba …”Buuk!..” Kim Ho mendarat di bawah bukit akan tetapi pantatnya yang mendarat lebih dulu karena kakinya tergelincir.
“Aduuuuh!…”
Kim Ho menjerit merasa pantatnya panas dan perih karena tergesesek di tanah berbatu, Untung tenaga sinkang yang ada di tubuh Kim Ho secara otomatis melindungi tubuhnya, dan tidaj mengalami cedera hanya kulit luarnya sedikit lecet lecet.
“Ha..ha..ha.. tidak apa apa Kim Ho, kau harus mengulanginya terus menerus, agar kau dapat mendarat dengan baik tanpa tergelincir lagi!”
rupanya Kim Cho To sudah lebih dahulu sampai di bawah bukit.
Kim Ho hanya melongo menyaksikan gurunya yang lebih dahulu sampai, padahal Kim Ho yang lebih dahulu melompat.
“Baik Suhu Tee Cu akan mencoba lagi sampai berhasil!”
Kim Ho lalu berlari lagi menuju ke atas untuk belajar melompat lagi.
“Ha..ha..ha.. bagus Sintong belajar yang semangat aku yakin engkau akan cepat bisa !”
Kim Cho To memberi semangat kepada Kim Ho, sementara dia sendiri mulai sibuk bekerja mencangkul tanah.
Sudah lebih dari dua puluh kali Kim Ho mencoba akhirnya dia berhasil menjejakan kaki di tanah dengan sempurna.
“plok..plok..plok!.. hebat hebat luar biasa, hanya dalam satu hari kau sudah menguasai dasar dasar ilmu ginkang.!.”
Kim Ho yang bercucuran keringat memperhatikan Kim Cho To yang sedang menarik bajak mengelilingi petak sawahnya yang becek tanpa bantuan kerbau,
Kim Cho To berlari lari menarik kayu bajak nya dan tampak sangat ringan padahal berlari di tanah lempung yang becek akan sangat berat sekali.
“Suhu apakah Tee Cu boleh menggantikan suhu membajak sawah !” teriak Kim Ho menawarkan diri, merasa kasihan melihat Suhu nya yang sudah tua menarik kayu bajak yang begitu berat.
“Ha.. ha.. ha.. anak baik turunlah kemari,..akan ku jelaskan manfaat membajak sawah tenaga manusia ini!”
Kim Ho yang sudah melompat turun ke sawah merasakan tanah lumour yang becek sampai diatas lututnya, untuk. “Wah.. ini tentu lebih berat dari latihan melompat dari atas bukit “pikir kim Ho akab tetapi menyaksikan Suhu nya dapat menarik bajak dengan ringan dia juga yakin akan bisa melakukan hanya perlu kegigihan dan keuletan latihan terus menerus, Kim Ho meyakinkan dirinya sendiri.
“Membajak sawah dengan genangan tanah lempung memang terasa sangat bagi orang biasa, akan tetapi tidak bagi orang orang yang memiliki tenaga sinkang, Pertama tama kau harus konsentrasi menarik nafas dalam dalam kemudian salurkan kekuatan pada kedua kaki, kemudian majulah.melangkah dengan posisi kuda kuda yang mantap dan badan tetap tegap!.. sekarang cobalah menarik kayu bajak ini seperti yang suhu lakukan! “
Kim Ho membajak sawah sesuai dengan petunjuk gurunya celana dan pakaian sudah belepotan tanah lempung bercampur keringat, akan tetapi Kim Ho tetap menarik kayu bajak sampai matahari naik tinggi.
“Ha ha ha , sudah cukup Kim Ho saat nya kita istirahat makan siang dan setelah makan siang akan aku ajarkan kau berlompatan diatas air hanya dengan tumpuhan balok balok kayu !”
Kim Ho menyudahi pekerjaannya membajak sawah, dan perutnya sudah benar benar merasa keroncongan, karena sudah mengeluarkan banyak sekali tenaga.
Guru dan murid ini beristirahat di bawah sebuah pohon, sambil menyantap makan siang.mereka, betapa nikmatnya rasa nasi putih berlauk ikan asin dan tumis sayur,
rasa nikmat yang dirasakan bukanlah dari kemewahan dan jenis lauk yang dimakan, akan tetapi karena rasa letih dan disaat perut benar benar lapar juga karena perasaan yang gembira.
Banyak sekali kita jumpai bahkan kita alami sendiri betapa hidangan mewah tersaji di depan kita akan tetapi disaat hati kita tidak gembira rasa hidangan mewah itu tidak selezat saat kita menyantap masakan sederhana di saat hati gembira dan diaaat benar benar lapar.
itu hanya adalah salah satu contoh yang nyata bahwa kenikmatan hidup yang sesungguhnya berasal dari hati dan pikiran kita sendiri, segala sesuatu akan tampak menyenangkan di kala hati kita gembira dan segala sesuatu kemewahan akan tampak membosankan bila hati dan pikiran kita sedang memukirkan sesuatu masalah.
Kim Cho To dan Kim Ho telah selesai bersantap mereka berjalan menuju sebuah kolam ikan dan banyam sekali balok balok kayu yang terapung.
“Nah… ini lah tempat yang cocok untuk melatih ilmu ginkang!.. Kau perhatikanlah cara suhu melompati balok balok kayu ini !”
Kim Ho memperhatikan sang guru berlompatan dari balok balok kayu yang terapung dengan sangat cepat tanpa membuat kayu kayu itu bergerak dan berpindah tempat, seolah olah Kim Cho To sedang berlompatan di darat.
“Nah Kim Ho sekarang saatnya kau mencobanya !”
“Baiklah suhu!..”
Sengan penuh keyakinanan diri Kim Ho melompat keatas sebuah balok kayu akan tetapi tiba tiba balok kayu yang menahan beban tubuh Kim Ho bergerak terkena guncangan, Kim Ho berusaha menjaga keseimbangan, akan tetapi balok kayu itu bergoyang semakin kencang. dan..”Byuuur!..”
Kim Ho terjatuh kedalam kolam.
“Ha.. ha..ha.. jangan putus asa Kim Ho teruslah berlatih, belajar segala sesuatu harus dengan ketekunan, semakin giat.kau berlatih akan semakin sempurna kemahiranmu!”
Kim Cho To beristirahat dibawah pohon-Shong yang rindang tidur tiduran dan akhirnya tertidur beneran sampai mendengkur.
sedangkan Kim Ho yang penasaran masih saja terus berlatih berlompatan diatas balok balok kayu yang terapung walaupun berkali kali gagal, Kim Ho terus giat berlatih .
Bersambung
Red









