Thursday, June 13, 2024
HomeSejarahCatatan Sejarah Kelam: Tragedi Mei '98•

Related Posts

Featured Artist

Catatan Sejarah Kelam: Tragedi Mei ’98•

globalcybernews.com  -Siapa di sini yang masih ingat dengan Tragedi 12 Mei atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tragedi Trisakti?

Mei 1998 adalah masa-masa kritis bagi bangsa Indonesia. Pada saat itu, seluruh mahasiswa di seluruh wilayah Indonesia (Khususnya Jakarta, Jogja dan Bandung) melakukan aksi besar-besaran untuk menuntut keadilan, salah satunya adalah menjatuhkan Soeharto, Presiden Republik Indonesia yang kala itu telah menjabat selama 32 tahun.

Seluruh mahasiswa Indonesia menuntut Soeharto agar lengser dari posisinya karena dinilai tidak becus mengurus negara dan telah banyak merugikan rakyat Indonesia.

Untuk melengkapi informasi dan memperjelas kronologis Tragedi ’98 yang juga telah membawa Indonesia beralih dari masa Orde Baru ke Reformasi, berikut arsip nasional merangkumnya.

Reformasi ’98 (12 Mei-21 Mei): Dari Jatuhnya Mahasiswa Trisakti Hingga Jatuhnya Soeharto.

Tragedi Trisakti pada 12 Mei memang bukanlah awal dari radikalisasi penjatuhan Orde Soeharto, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Orde Baru. Jauh sebelumnya, teah terjadi kericuhan pada Kongres PDI, Tragedi 27 Juli, Mega Bintang ’97, dan sederet prolog perburuan & penculikan aktivis.

Tetapi, Tragedi Trisakti pada tanggal 12 Mei menjadi momen penyatuan Kaoem Terpelajar-Rakyat. Di mana Kaoem bedil petantang-petenteng ini HARUS dilawan!

Hari-hari sebelum Tragedi Trisakti tanggal 12 Mei, mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta dan daerah-daerah di Indonesia sudah bergolak. Titik didih mereka jatuh pada tanggal 12 Mei. Jauh sebelum itu, Kamis, 2 April 1998, terjadi bentrok mahasiswa UGM di Boulevard. 43 orang terluka dan mereka dilarikan ke RS Panti Rapih, saat itu banyak pelajar yang ikut serta dalam aksi.

Momen Trisakti 12 Mei 1998 ini mendidihkan ingatan pada 24 Februari 1966, ketika Arif Rahman Hakim tertembak. Saat itu demonstrasi kian bringas, kemudian lahirlah Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat).

Demikian Isi Tritura:

  1. Bubarkan PKI
  2. Perombakan Kabinet
  3. Turunkan Harga

Enam hari sebelum bentrok Trisakti berdarah, tepatnya pada tanggal 6 Mei 1998, mahasiswa UNS Solo bentrok dengan Kaoem bedil depan kampus Kenthingan. Di tanggal yang sama, sekitar 300 mahasiswa gabungan dari beberapa kampus di Jakarta juga bentrok. Kampus-kampus yang turut melakukan aksi tersebut antara lain: UI, Jayabaya, STEKPI, Moestopo Beragama, IKIP, dan Universitas Sahid.

Tak hanya Solo dan Jakarta, bentrok mahasiswa di Bandung pun terjadi. Universitas Winaya Mukti dan Unpad terlibat bentrok di Jl. Jatinangor. Mahasiswa, seorang siswa SMP dan wartawan terluka.

Sayangnya, Menhankam/ Pangab Wiranto, menyebut bentrok mahasiswa dengan kaoem berbedil pada tanggal 6 Mei tersebut adalah kegiatan yang tak peduli pada hukum.

Sebelum Tragedi Trisakti, pada tanggal 7 Mei 1998 mahasiswa Muhammadiyah Surakarta bentrok dengan Yon 408 kostrad, Dalmas Polri. Panser sudah keluar kandang. Bentrokan kian gahar. Dalam bentrokan ini, Komang Suwarna (Brimob) mengalami luka parah. Helmnya pecah, pipi sobek dan mata kanannya rusak akibat lemparan batu. Puluhan Brimob lainnya dilarikan ke RS.

Tanggal 8 Mei, Jogja mendidih. Terjadi pergejolakan mahasiswa dan aparat di Jalan Gejayan, akibat peristiwa tersebut jalan raya itu kemudian dikenal dengan “Gejayan Kelabu”. Saat itu, selepas solat Jum’at, mahasiswa IKIP Jogja memanggil seluruh mahasiswa yang berkuliah. Ruas Gejayan antara IKIP dan Sanata Dharma diblokir. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan nama Tragedi Gejayan.

Semakin sore, massa semakin banyak yang berkumpul di Gejayan. Ban-ban bekas dan ranting-ranting kayu di Jalan Colombo mulai dibakar.

Pangdam IV Dinponegoro Tyasno Sudarto, Kapolda DIY Bani Siswono, Danrem 072 Djoko Soesilo bergegas menuju Gejayan, Jogjakarta. Prolog rusuh. Ultimatum serdadu pada pukul 21.00 Gejayan dikosongkan tak direken. Gas airmata mulai berhamburan. Sementara para demonstran membalasnya dengan lemparan batu.

Pada pukul 22.00, aparat menerobos Kampus IKIP. Mereka masuk ke Kp. Karangmalang, menangkap para mahasiswa. Namun pada dihi hari, mahasiswa mulai marah. Jl Gejayan dihancurkan. Pot-pot bunga, papan reklame dan telpon umum digulingkan dan dibakar, bersamaan dengan ban bekas.

Kerusuhan di Jl Gejayan pada 8 Mei itu merambat hingga ke Jl Janti, Jl Adi Sutjipto, JL Solo dan Jl Colombo. Kerusuhan tersebut ternyata memakan korban: Moses Gatotkaca, ia tewas dipukuli serdadu. Ini menunjukkan bahwa radikalisasi telah merembet ke mana-mana. Dalam kondisi ini, Presiden Soeharto berangkat ke Mesir tanggal 9 Mei 1998 untuk menghadiri sidang G 15.

9 Mei 1998. 23 Guru Besar Unhas Ujung Pandang mengeluarkan “Catur Keprihatinan”. Pemerintah diminta untuk merespon tuntutan Reformasi dari jutaan mahasiswa saat itu.

Di tanggal yang sama, bentrokan mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia terus terjadi. ratusan mahasiswa Universitas Djuanda, Bogor, bentrok dengan serdadu dari Kodim 0621. Mahasiswa menghajar Kapten Ali. Mahasiswa mulai melawan!

Sementara, ribuan mahasiswa di Universitas Bengkulu pun bentrok dengan serdadu saat long march. Tiga mahasiswa terluka oleh peluru karet, mereka ialah Bali, Herry dan Amin.

10 Mei 1998. Demontrasi libur. 2 benda yang menjadi trending topic saat itu: Peluru karet dan Gas airmata.

Setelah beberapa kampus dari berbagai daerah memulai prolog bentrok, kini giliran Ibukota Jakarta. Pada hari Selasa, 12 Mei 1998, Trisakti memanas!

12 Mei 1998 seluruh mahasiswa se-Jakarta punya satu keinginan: DUDUKI GEDUNG DPR/MPR, Senayan. Mahasiswa Trisakti telah bersiap pada pukul 11.00 WIB. Pada pukul 13.00 WIB, mahasiswa Trisakti keluar kampus dan bergerak ke arah S. Parman, Grogol. Peserta aksi saat itu ialah mahasiswa, dosen, pegawai, dan para alumni.

Mahasiswa Trisakti yang membawa bunga berada di baris terdepan. Mereka kemudian dihadang serdadu bertopeng, berpentungan, bermotor, dan bersenjata. Dekan Fakulta Hukum Trisakti, Adi Andojo berunding dengan Dandim Jakarta Barat A Amril. Perundingan sementara itu kemudian disepakati, demonstran boleh bergerak sepanjang 300 meter.

Dari siang hingga sore hari, ribuan mahasiswa Trisakti hanya menggelar mimbar bebas. Para serdadu menumpuk pasukan terus-menerus. Hingga pada pukul 16.30 WIB tanda-tanda rsuh tak ada. Selain bagi-bagi minum, mahasiswa ada yang berfoto bersama serdadu bertopeng yang berbaris rapat sekali.

Pada pukul 17.00 WIB pimpinan mahasiswa dan Dandim sepakat membubarkan demonstrasi. Tetapi mahasiswa meminta agar serdadu duluan yang mundur.

17.15 WIB Jakarta ketika itu diguyur hujan deras. Perlahan-lahan mahasiswa Trisakti bergerak mundur dan mulai memasuki kampus. Tiba-tiba, dari arah belakang terdengar rentetan tembakan. Kepanikan menjadi-jadi. Aparat terus memamerkan suara bedil. Para serdadu itu seperti mengamuk. Memukuli siapa saja yang ada di depannya. Kameramen TV Yasushi memar kena pukul. Mahasiswa Trisakti balas melempar.

“Perang” di rambang petang pada 12 Mei 1998 kala itu tak imbang. Peluru karet tajam, gas air mata, pentungan dari serdadu vs mahasiswa dengan batu-batu.

12 Mei 1998 pukul 21.00 WIB. Jeritan mahasiswa dalam kampus Trisakti makin perih usai diketahui ada 4 rekan mereka dihujani peluru tajam dari para serdadu bertopeng. 45 menit kemudian, Komandan Polisi Militer Kodam Jaya mengecek kebenaran tewasnya mahasiswa Trisakti. Awalnya dihadang, lalu diizinkan.

Diketahui, 4 mahasiswa yang tewas saat itu ialah Elang Mulya Lesmana, Heri Hartanto, Hafidin Alifidin Royan, dan Hendriawan Sie. Sementara, mahasiswa Trisakti yang terluka kena tembakan dan gebukan ialah Ketua Senat Hendra, Rico (FE), Agus dan Ari Purnomo (Sipil), Ason (Industri), Yonatan (Lingkungan), Ufur (FE), Poltak (Hukum), Yose (FE), Afan (FE), Riga dan Boy Harry (Industri), Boy (Desain), Alfis (FE), Miko (Hukum), dan Kardiyanti (FE).

Dari kerusuhan Trisakti itulah, keesokan harinya dan hari-hari berikutnya tersulut RADIKALISME. Mahasiswa Jakarta dan kota-kota lain, seluruhnya turun ke jalan. Kuliah diliburkan.

Demikian kronik 12 Mei yang menjadi jalan keras menuju minggu yang suram pada tahun 1998 hingga tanggal 21 Mei. Demonstrasi mahasiswa berkobar-kobar.

Mahasiswa kemudian menyusun agenda reformasi yang ditujukan kepada pemerintah Orde Baru. Isi dari agenda reformasi ini antara lainnya terfokus pada hal-hal berikut.

1. Mengadili Soeharto dan kroni-kroninya.

2. Melakukan amandemen terhadap UUD 1945.

3. Menghapus Dwi fungsi ABRI di dalam struktur pemerintahan negara.

4.  Penegakkan supremensi hukum di Indonesia.

5. Mewujudkan pemerintahan yang bersih dari unsur-unsur Korupsi, Kolusi & Nepotisme (KKN).

Penembakan aparat di Universitas Trisakti itu menyulut demonstrasi yang lebih besar. Pada tanggal 13 Mei 1998 terjadi kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan di Jakarta dan Solo. 

Kondisi ini memaksa Presiden Soeharto mempercepat kepulangannya dari Mesir. Sementara itu, mulai tanggal 14 Mei 1998 demonstrasi mahasiswa semakin meluas. Bahkan, para demonstran mulai menduduki gedung-gedung pemerintah di pusat dan daerah.

Mahasiswa Jakarta menjadikan gedung DPR/ MPR sebagai pusat gerakan yang relatif aman. Ratusan ribu mahasiswa menduduki gedung rakyat. Bahkan, mereka menduduki atap gedung tersebut. Mereka berupaya menemui pimpinan MPR/ DPR agar mengambil sikap yang tegas.

Akhirnya, tanggal 18 Mei 1998 Ketua MPR/ DPR Harmoko meminta Soeharto turun dari jabatannya sebagai presiden. Pernyataan Harmoko itu kemudian dibantah oleh Pangab Jenderal TNI Wiranto dan mengatakannya sebagai pendapat pribadi.

Untuk mengatasi keadaan, Presiden Soeharto menjanjikan akan mempercepat pemilu. Hal ini dinyatakan setelah Presiden Soeharto mengundang beberapa tokoh masyarakat seperti Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid ke Istana Negara pada tanggal 19 Mei 1998. Akan tetapi, upaya ini tidak mendapat sambutan rakyat.

Momentum hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1998 rencananya digunakan tokoh reformasi Amien Rais untuk mengadakan doa bersama di sekitar Tugu Monas. Akan tetapi, beliau membatalkan rencana apel dan doa bersama karena 80.000 tentara bersiaga di kawasan tersebut. Di Yogyakarta, Surakarta, Medan, dan Bandung ribuan mahasiswa dan rakyat berdemonstrasi.

Ketua MPR/ DPR Harmoko kembali meminta Soeharto mengundurkan diri pada hari Jumat tanggal 22 Mei 1998 atau DPR/MPR akan terpaksa memilih presiden baru. Bersamaan dengan itu, sebelas menteri Kabinet Pembangunan VII mengundurkan diri.

Pada dini hari tanggal 21 Mei 1998 Amien Rais selaku Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah menyatakan, ”Selamat tinggal pemerintahan lama dan selamat datang pemerintahan baru”. Ini beliau lakukan setelah mendengar kepastian dari Yuzril Ihza Mahendra.

Akhirnya, pada pukul 09.00 WIB Presiden Soeharto membacakan pernyataan pengunduran dirinya. Beliau mengucapkan terima kasih dan mohon maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Beliau kemudian digantikan B.J. Habibie. Sejak saat itu Indonesia memasuki era reformasi.

Mahasiswa merayakan kemenangannya!!

Reformasiiii!! 

Hiduplah Indonesia Raya

Red

Latest Posts