MasBalog

globalcybernews.com -Perencanaan untuk Operasi Barbarossa dimulai pada tanggal 18 Desember 1940; rahasia persiapan dan operasi militer itu sendiri berlangsung hampir satu tahun, dari musim semi tahun 1940 sampai musim dingin 1941
22 Juni 1941, Jerman Nazi dibawah Adolf Hitler merobek-robek surat Perjanjian Non Agresi (Perjanjian Non Agresi/tidak saling menyerang yang ditandatangani 23 Agustus 1939, 9 Hari sebelum Invasi Jerman ke Polandia dan memulai Perang Dunia II)
Hitler harus membawa Jerman kepada Perang 2 Front (yaitu Front Timur dan Front Barat) karena Angkatan Bersenjata Jerman melakukan serangan ke Uni Soviet melalui Operasi Barbarossa
Barbarossa adalah nama seorang Kaisar Jerman pada Abad Pertengahan
…..
Tujuan operasional Barbarossa adalah penaklukan cepat Eropa bagian barat Uni Soviet dari jalur yang menghubungkan kota-kota Arkhangelsk dan Astrakhan, yang sering disebut jalur AA
Pada akhir bulan Januari 1942, Tentara Soviet memukul mundur Wehrmacht, membuat Adolf Hitler tidak mencapai kemenangan yang diharapkan, meskipun berhasil membuat Uni Soviet jatuh ke kondisi terburuknya
Taktis, Jerman telah memenangkan beberapa kemenangan gemilang dan menduduki beberapa wilayah ekonomi paling penting di negeri, terutama di Ukraina
Meskipun keberhasilan ini, Jerman didesak mundur dari Moskow dan tak pernah me-mount sebuah serangan secara simultan di sepanjang seluruh Soviet-Jerman strategis depan lagi
Operasi Barbarossa merupakan kegagalan Hitler dan menyebabkan tuntutan untuk melakukan operasi lebih lanjut di Uni Soviet, yang semuanya pada akhirnya gagal, seperti melanjutkan Pengepungan Leningrad Operasi Nordlicht, dan Pertempuran Stalingrad, pertempuran antara lain di wilayah yang diduduki Soviet
Operasi Barbarossa masih merupakan operasi militer terbesar, dalam hal kekuatan pasukan dan korban, dalam sejarah manusia
…..
Musim Semi, Juni 1941. Di luar dugaan, Adolf Hitler mengeluarkan perintah kepada pasukan Nazi untuk menginvasi Uni Soviet
Kurang lebih empat juta serdadu, 19 divisi panser, sekitar 3.000 unit tank, 2.500 pesawat udara, serta 7 senjata artileri, dikerahkan
Serangan tersebut diberi nama khusus: Unternehmen Barbarossa
Misi invasi ini merupakan tindakan melanggar Pakta Molotov-Ribbentrop pada 1939
Pakta tersebut berisi kesepakatan non-agresi; kedua negara sepakat untuk tidak saling menyerang dan menjamin pengaruh masing-masing di wilayah yang telah ditentukan tanpa ada campur tangan dari pihak lainnya
Namun situasi damai antara keduanya hanya berlangsung sebentar saja
Ketika Jerman menginvasi Polandia pada 1939 dan mengakibatkan pecahnya Perang Dunia II, Soviet juga mulai mengokupasi negara-negara di wilayah Balkan dengan mengirim tentara NKVD untuk menyerbu Lituania, Estonia, dan Latvia
Saat mulai memasuki wilayah Besarabia (utara Bukovina) yang merupakan bagian dari Rumania, Jerman menganggap Soviet sebagai ancaman terhadap suplai minyak mereka di daerah Balkan
Di sinilah awal mula rencana invasi Jerman ke Soviet
Namun, terlepas dari analisis politik yang ada, tidak sedikit yang menganggap invasi Jerman tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari obsesi kebencian Hitler terhadap Soviet dan komunisme
Menurut Hitler, Soviet yang didirikan oleh kaum Bolshevik komunis turut dipengaruhi dan diatur oleh kelompok Yahudi, sementara alasan lain terkait dengan motif ekonomi dan geopolitik
Wilayah Soviet yang begitu luas dianggap Hitler memiliki posisi strategis serta dipenuhi oleh sumber daya alam yang dibutuhkan Jerman
Kondisi inilah yang dibutuhkan untuk memenuhi syarat Lebensraum, cara pandang politik Hitler mengenai konsep tata ruang untuk hidup
Sebagaimana pernah ia kemukakan di bukunya, Mein Kampf
Di dalam kitab suci Nazi tersebut, Hitler menjelaskan bahwa rakyat Jerman membutuhkan ruang hidup, Lebensraum (tanah dan sumber dayanya), dan kedua hal tersebut bisa didapatkan di wilayah Eropa Timur
Ia juga menyebut betapa bangsa-bangsa Eropa Timur, yang sebagian besar adalah Slavia, adalah ras inferior yang sudah semestinya memiliki tuan
Konsep Lebensraum yang disebut Hitler sebetulnya telah muncul di Jerman sejak Abad Pertengahan
Pada 1901, etnografer Jerman, Friedrich Ratzel, pernah menjelaskan bahwa untuk menyatukan wilayah-wilayah Jerman, diperlukan pemahaman mengenai pengaruh kondisi geografi
Maka untuk itulah ekspansi wajib dilakukan sebagai bagian untuk memenuhi ruang geografi tersebut
Hipotesis Ratzel mengalami perkembangan pada 1912 setelah Jenderal Friedrich von Bernhardi menerbitkan bukunya berjudul: Germany and the Next War
Menurutnya, Lebensraum tidak hanya bermakna memecahkan masalah kondisi demografi, tetapi juga untuk menjaga agar Jerman tidak mengalami stagnasi dan degenerasi
Dan semua hanya dapat diwujudkan lewat peperangan serta ekspansi
Baik Hitler, Ratzel, maupun Von Bernhardi sepakat bahwa Eropa Timur adalah wilayah baru yang tepat untuk Jerman
Kelak, Operasi Barbarossa yang dilakukan demi mewujudkan konsep Lebensraum tersebut bukan hanya gagal total, tetapi juga menjadi titik tolak kekalahan Jerman di Perang Dunia II
Dan, tentu saja, keruntuhan Nazi
Operasi Barbarossa pada mulanya akan dilaksanakan Hitler setelah menandatangani Perintah Perang Nomor 21 pada 18 Desember 1940
Di dalam dokumen tersebut tertulis: “Wehrmacht Jerman harus siap untuk menghancurkan Rusia dengan sesegera mungkin.”
Namun, karena blunder salah satu sekutu terdekat Hitler, Benito Mussolini, rencana tersebut diundur menjadi 15 Mei 1941
Kecerobohan Mussolini bermula ketika ia memerintahkan Italia bersama sekutunya, Albania, untuk menyerang Yunani dengan modal 500 ribu pasukan
Sebetulnya tak ada urgensi apapun dalam penyerangan ini
Mussolini melakukannya semata agar kekuatannya dengan Hitler menjadi lebih stabil
Terlepas dari bagaimana kedekatan kedua diktator ini, Mussolini memang kerap menganggap dirinya adalah senior di antara tokoh-tokoh fasis kala itu
Maka ketika Hitler membuat Perancis menyerah hanya dalam waktu beberapa minggu, Mussolini yang tak mendapat bagian apapun dalam kemenangan tersebut, mulai merasa tersepelekan
Ada rasa iri dari Mussolini saat melihat keberhasilan Hitler yang secara pesat mampu membawa Jerman ditakuti seantero Eropa
Sebelum melakukan serangan, pada 28 Oktober 1940, Mussolini menyuruh Duta Besarnya di Athena, Emmanuele Grazi, mengultimatum Perdana Menteri Yunani, Ioannis Metaxas, agar memberi akses bagi Italia
Metaxas menolak ultimatum tersebut dan memutuskan untuk berperang melawan Italia. “Ohi,” ucap Metaxas kala itu, yang berarti “tidak”
Hingga kini, Yunani masih merayakan “Ohi Day” untuk mengenang keberanian Metaxas
Yunani kala itu hanya memiliki tiga divisi, sedikit tank, dan minim angkatan udara
Walaupun demikian, Yunani ternyata dapat memberikan perlawanan yang luar biasa sengit dan membuat Mussolini keteteran
Kondisi geografis Yunani yang berbentuk pegunungan juga membuat armada Mussolini kesulitan melakukan manuver dan hanya menjadi sitting duck bagi tentara Yunani
Pada 8 November, agresi Mussolini hancur berantakan
Kondisi Italia pun makin parah usai Angkatan Udara Inggris turun membantu Yunani
Berselang enam hari setelahnya, seluruh front Italia akhirnya berhasil dipukul dari perbatasan
Bahkan dua kota di Albania yang diduduki Italia juga turut dibebaskan
Akibat blunder Mussolini tersebut, Jerman sebagai sekutu terdekat mereka, mau tak mau, terkena beberapa efek serius
Yunani, yang mulanya merupakan negara netral, tidak lagi mempedulikan perjanjian strategis dengan Jerman
Inggris mulai memiliki alasan untuk membentuk pangkalan udara di Yunani dan turut mengebom sumber minyak Jerman di Ploesti, Rumania
Sementara penundaan rencana Operasi Barbarossa membuat Jerman harus membagi beberapa divisi tempur ke front berbeda
Padahal sebelumnya seluruh divisi tersebut dapat digunakan untuk menyerang Soviet
Pada 22 Juni 1941, pukul 3.15 pagi waktu setempat, Jerman memulai Operasi Barbarossa dengan mengebom besar-besar tiap kota besar di Polandia yang dikuasai Soviet
Ada empat kelompok diturunkan Jerman dalam penyerbuan ini: Pasukan Utara, Timur, Tengah, dan Selatan
Kekuatan Jerman saat itu terdiri atas Angkatan darat yang memiliki pasukan berjumlah sekitar 8-10 juta personil dan tergabung dalam 250 divisi, 30.000 tank, serta 16.000 pesawat terbang
Pasukan Utara yang dipimpin Generalfeldmarschall Wilhelm Ritter von Leeb menyerbu dari Prusia Timur dengan sasaran Leningrad (St. Petersburg)
Pasukan Tengah di bawah komando Generalfeldmarschall Fedor von Bock berangkat dari Polandia melalui hamparan rawa-rawa luas Pripyat menuju Smolensk untuk kemudian ke Moskow
Sementara pasukan Selatan yang dipimpin oleh Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt bergerak ke arah Kiev dengan tujuan menguasai wilayah gudang pangan (gandum) di Ukraina serta sumber minyak bumi di Kaukasus
Joseph Stalin, pemimpin Soviet kala itu, tidak mengira jika Hitler betul-betul akan mengkhianati perjanjian antara kedua negara
Ia sebetulnya sudah memiliki kesempatan untuk berjaga-jaga jika bersedia mendengarkan informasi dari mata-mata Soviet, Dr. Richard Sorge
Sekitar satu minggu sebelum Jerman menyerang, Sorge yang juga tercatat sebagai anggota partai Nazi itu mendapat informasi rahasia bahwa Operasi Barbarossa akan dimulai pada 22 Juni
Ia pun menyampaikan hal ini kepada Stalin lewat surat
Namun, Stalin yang kelewat yakin bahwa perang tak akan berlangsung setidaknya sampai setahun ke depan, memilih mengabaikan informasi berharga dari Sorge tersebut
Akibat sikap menyepelekan Stalin, alhasil Soviet dibuat babak belur pada fase awal invasi Jerman
Sekitar 3.000 pesawat Soviet luluh lantak dihancurkan oleh Luftwaffe, Angkatan Udara Jerman, hanya dalam tiga hari pertama serangan
Wilayah udara Soviet pun sudah praktis dipegang mereka
Pertempuran di darat pun memperlihatkan bagaimana Pasukan Merah Soviet yang memiliki keunggulan dalam jumlah tank dan perlengkapan lainnya, tetap tertatih-tatih menghadapi taktik blitzkrieg Jerman
Pada pekan pertama invasi berlangsung, pasukan Jerman berhasil menembus wilayah Soviet sejauh lebih dari 480 kilometer
Babak pertama Operasi Barbarossa yang berlangsung lancar menimbulkan optimisme di benak Hitler
Smolensk berhasil direbut Pasukan Selatan pada pertengahan Juli
Pasukan Tengah dan Utara terus bergerak ke arah Sungai Luga usai mencapai tujuan besar pertama mereka: menyeberang dan mempertahankan jembatan darat antara Dvina dan Dnieper
Jalur ke Moskow yang kini tinggal 400 km jauhnya telah terbuka lebar
Ketika para jenderal Nazi, seperti Halder, Guderian, dan von Kluge hendak bersiap menyerbu ke Moskow, Hitler memiliki rencana sendiri agar pasukan Utara dan Tengah pergi ke Ukraina untuk membantu pasukan Selatan yang terdesak
Selain itu, Hitler juga melihat kemungkinan jika Ukraina dapat menjadi sumber logistik pasukan Jerman, mengingat di sana merupakan wilayah penghasil gandum
Pandangan Hitler ini mendapat tentangan dari para jenderalnya
Mereka semua berpendapat, dengan melihat jarak Moskow yang kian dekat, kota tersebut semestinya menjadi prioritas utama
Perbedaan pandangan ini menimbulkan debat hingga berminggu-minggu padahal serangan dapat segera dilaksanakan ke arah Leningrad
Akhirnya, semua menuruti Hitler
Pada 25 Agustus 1941, Heinz Guderian, salah satu jenderal Nazi yang juga arsitek strategi Blitzkrieg Jerman, memberi perintah atas nama Hitler kepada seluruh pasukan untuk menyerang Kiev
Dengan jeda waktu yang cukup panjang usai jatuhnya Smolensk hingga kini menggelar serangan dengan target operasi berbeda membuat Operasi Barbarossa tidak dapat diselesaikan sebelum musim dingin
Setelah melewati medan Ukraina yang sulit dan dikenal dengan sebutan rasputitza–sebuah kondisi dengan jalanan berlumpur yang menyusahkan, Jerman akhirnya berhasil mengepung Kiev pada akhir September
Sekitar 665 ribu tentara Soviet terkepung dan tertawan di Kiev
Jerman pun kembali ke misi utama mereka untuk merebut Moskow, Untuk ini, digelarlah operasi yang dinamakan: Operation Typhoon
Operasi tersebut dimulai pada 2 Oktober, Jerman masih unggul dalam pertempuran melawan Soviet
Di Vyasma, di persimpangan jalan antara Smolensk dan Moskow, Jerman memenangkan pertempuran
Sebelas hari berselang, kurang lebih 650 ribu tentara Soviet berhasil ditawan berikut peralatan perang mereka seperti 5.000 meriam dan 1.200 tank
Hitler makin optimistis: namun ini sebelum musim dingin mulai mencapai puncaknya menjelang akhir tahun
Ketika musim dingin makin menyeruak, pasukan Jerman mulai kesulitan menembus medan pertempuran, artileri dan kendaraan berat tertahan, para serdadu banyak yang mati kedinginan karena memang tidak dipersiapkan untuk berperang di musim tersebut
Pada bulan November, seluruh petinggi Jerman menggelar rapat khusus untuk menentukan pilihan: tunda serangan sampai musim semi 1942 atau lanjutkan hingga musim dingin
Hitler bersikeras: lanjutkan
Perintah tersebut tetap dijalankan, kendati tetap menuai protes dari jenderal-jenderal lain
Menurut mereka, keputusan Hitler tak ubahnya seperti upaya bunuh diri pelan-pelan, inilah blunder Hitler yang kelak menyebabkan malapetaka bagi Jerman
Dengan kondisi suhu yang terus merosot hingga minus 30 derajat dan salju yang turun makin lebat, pasukan Soviet yang juga dibantu dengan kaum buruh, berhasil memukul mundur pasukan Jerman yang kelelahan
Sebanyak kurang lebih 4 juta pasukan Soviet dan 800.000 pasukan Jerman tewas selama perang berlangsung sejak 22 Juni hingga 5 Desember 1941 tersebut
Namun, Hitler yang masih keras kepala kembali memerintahkan Jerman untuk melakukan invasi ke Soviet
Dengan kondisi yang sebetulnya masih cukup babak belur, serangan tersebut kembali berhasil dipatahkan Soviet dalam Pertempuran Stalingrad: salah satu pertempuran paling berdarah dalam sejarah
…..
Operasi Barbarossa masih merupakan operasi militer terbesar, dalam hal kekuatan pasukan dan korban, dalam sejarah manusia
Kegagalan tersebut merupakan titik balik dalam keberuntungan Reich Ketiga
Paling penting, Operasi Barbarossa membuka Blok Timur, di mana pasukan lebih berkomitmen daripada di medan pertempuran dalam sejarah dunia
Operasi Barbarossa dan daerah-daerah yang jatuh di bawahnya menjadi tempat beberapa pertempuran terbesar, mematikan, kekejaman, korban tertinggi, dan kondisi yang paling mengerikan bagi Soviet dan Jerman, yang semuanya memengaruhi Perang Dunia II dan sejarah abad ke-20
Red









