
Jacob Ereste :
Global Cyber News.Com. -Hidup Bhiku itu sangat simpel, tidak terlalu banyak keperluan untuk hidup. Mulai dari makan sampai pakaian sangat sederhana, kata Bhiku Dhammasubbho Mahathera, saat bincang bersama GMRI di Wisma Sangha Theravada, jl. Margasatwa No. 9 Pondok Labu, Jakarta Selatan, 13 Juli 2025. Momen silaturahmi sahabat dan kerabat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) ini langsung dikomando Pemimpin Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, sekaligus bercerita tentang rencana acara persembahan do’a untuk 71 tokoh Indonesia pada 2-3 Agustus 2025.
Acara yang akan berlangsung non stop selama 20 jam ini akan diterbitkan dalam bentuk kitab Ma Ha Ismaya yang memuat profil para tokoh dengan do’a khusus yang dipersembahkan itu setelah acara selesai dilaksanakan, pada hari itu juga. Dalam acara silaturahmi dan diskusi santai ini, Bhikkhu Dhammasubho Mahathera bercerita tentang banyak hal, utamanya tentang pasang surut perkembangan dari Bhuddis di Nusantara, terutama mengacu pada perguruan tinggi Bhuddis yang pernah ada di Sumatra antara abad ke-4 hingga abad ke-6 yang berjaya dengan nama Perguruan Nalanda, semacam melanjutkan perguruan tinggi pada masa sebelumnya yang ada di India.
Bhate Dhammasubho memang memiliki pengetahuan sejarah dan kebudayaan yang luas. Dia pun bercerita sejak keberadaan Sidharta Guatama hingga kerajaan Sriwijaya yang berjaya pada masa Prabu Balaputradewa yang juga menguasai jalur perdagangan utama di Selat Malaka hingga menempatkan Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat perdagangan maritim yang penting di dunia.
Bahkan, perluasan wilayah kekuasaan Balaputradewa sampai Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Melayu, Sumatra serta sebagian pulau Jawa.
Terbakarnya Kampus Nalanda di India menandai historikal keruntuhan Buddhis di dunia yang kemudian berpusat di Kerajaan Sriwijaya yang ditandai dengan kelanjutan perguruan tinggi Nalanda. Dalam peristiwa kebakaran Kampus Nalanda di India ini, kata Bhante Dhammasubho berkisah berlangsung selama 6 bulan apinya tidak kunjung padam. Ini menyiratkan betapa besar dan luasnya kampus Nalanda di India itu.
Ketika terjadi kebakaran, tidak kurang dari 10.000 mahasiswa yang sedang belajar di kampus Nalanda, India. Semuanya adalah Bhiku, guru paska sarjananya saja sekitar 1.500 orang. Jumlah buku di perpustakaan yang ikut terbakar tidak kurang dari 80 juta jilid, kata Bhiku yang sudah melanglang buana ke segenap penjuru tanah air bahkan mancanegara yang memiliki keterikatan erat persaudaraan dalam budaya dan agama Bhuddis di dunia.
Atas dasar itulah Bhiku Dhammasubho Mahathera mampu mengidentifikasi ciri khas bangsa Timur yang ditandai oleh kemampuan dan kecerdasan spiritual. Sementara bangsa Barat ditandai oleh intelektual — struktural dan material — yang khas. Karena, ia pun yakin gerakan kebangkitan kesadaran spiritual akan muncul serta dipelopori oleh bangsa Indonesia yang maha kaya pengetahuan maupun budaya serta kedalaman pemahaman spiritual seperti yang telah dan terus dilakukan oleh Sri Eko Sriyanto Galgendu.
Pondok Labu, 15. Juli 2025
Red








