spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeUncategorised*Tragika Kisah Drama Purbaya Yudi Sadewa Yang Harus Selaras Agar Tetap Harmoni*...

Related Posts

Featured Artist


*Tragika Kisah Drama Purbaya Yudi Sadewa Yang Harus Selaras Agar Tetap Harmoni*



Jacob Ereste :

Global Cyber News.Com. -Niat baik saja, tidak cukup diungkapkan dengan cara yang tidak selaras dengan niat baik apapun yang juga hendak dilakukan.. Seperti program yang baik, tidak bisa dilakukan dengan cara yang serampangan — tidak mengindahkan etika dan nilai-nilai moral yang haris menyertainya. Seperti tata krama dan sopan santun — meski sidah diungkapkan secara baik dan benar — tetap saja dianggap tidak patut dengan gaya penyampaian yang dianggap tidak sopan oleh pendengarnya, apalagi bagi pihak yang merasa lebih berkepentingan pada masalah tersebut. Sebab pembenaran akan selalu lebih terasa menyenangkan dari pada berkata jujur, tanpa perduli pada kemunafikan.

Begitulah, metafora dari program yang baik tidak bisa dilakukan dengan cara serampangan, sebab tradisi dan budaya dalam tata cara, sopan santun dan unggah-ungguh kita bangsa Timur sudah terlalu dalam mengakar dan terus bertunas sampai era moden — ingin serba cepat dan praktis — sekarang ini yang terus dipacu oleh percepatan waktu yang semakin terkesan begitu pendek dan singkat.

Tragika budaya serupa ini seakan dipentaskan dalam dramatik kisah dari latar belakang cerita pengangkatan Purbaya Yudi Sadewa hingga diturunkan — untuk tidak mengatakan dipecat, meski dengan pesangon yang jauh lebih menggembirakan dari kaum buruh Indonesia — hingga menjadi perhatian publik yang mengucurkan beragam komentar hingga bisa melupakan masalah BBM, harga rlpiji yang melambung dan sulit diperoleh di pasar tradisional, apalagi sekedar kemarau panjang yang dituding menjadi penyebab dan penyulut utama kebakaran lahan. Bukan kebakaran hutan yang tampaknya tidak lagi ada di Indonesia, karena sudah habis sejak beberapa tahun silam.

Niat baik, tetap sama dengan program yang baik untuk terus dilaksanakan dengan cara yang baik, seperti MBG (Makan Bergizi Gratis) dan KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) maupun Sekolah Rakyat yang menjadi unggulan Presiden Prabowo Subianto. Suara yang sengau dari semua program unggulan ini intinya karena tidak ada sinkronisasi penyelarasan antara satu program dengan program yang lain sehingga idealnya menjadi sebuah simfoni Philharmonic yang selaras — seirama — dalam satu nada suara yang tidak saling silang bertabrakan antara yang satu dengan yang lain.

Tragika awal kisah pengangkatan Purbaya Yudi Sadewa sebagai Menteri Keuangan Republik yang kaya raya ini berakhir dengan penurunan — lengser keprabon — dari tahta kekuasaan keuangan negeri ini yang semakin terasa mendera hidup dan kehidupan rakyat kecil, akibat pertarungan global yang memposisikan musuh di semua tempat, di semua bidang dan di semua peluang dan kesempatan yang tak kunjung usai. Ibarat kabut asap akibat kebakaran yang terus berulang — tanpa pernah mau dan bisa untuk dalat diantisipasi sebelumnya — akibatnya tak cuma menunda jadual penerbang, atau bahkan pembatalan, tatapi juga menjadi ancaman kesehatan dan keselamatan jiwa manusia manusia dan hewan, bahkan tetumbuhan.

Agaknya, dari mekanisme yang terkesan melompat tidak seirama dengan musik yang harus dimainkan inilah ketika menyaksikan pengangkatan — saat pementasan — hingga turun panggung sang aktor utama dari panggung bendahara negara Indonesia menjadi tontonan dramatik dalam perjalan sejarah republik yang tengah memacu percepatan untuk memasuki era emas — usia seabad — setelah terengah-engah menghimpun tenaga dan daya untuk mandiri, bebas dari tekanan dan dominasi asing untuk mengatasi kemiskinan dan kebodohan seperti yang hendak diwujudkan melalui UUD 1945. Dan atas dasar itu pula, riuh kehendak merevisi amandemen yang lahir sungsang pada tahun 2002 itu.

Dari realitas perjalanan bangsa dalam irama naik dan turun, toh alunan musik tetap harus harmoni dan sinkron tak hanya untuk pendengar, tapi juga yang tak kalah penting untuk Sohibul hajat yang punya gawe. Pada bagian inilah sikap ugahari dan unggah-ungguh menjadi penting untuk senantiasa dijaga dengan kesadaran serta kecerdasan spiritual dalam setiap berucap, bersikap dan bertindak, meski dalam wujud mantra sekalipun.

Pecenongan, 14 September 2026

Red

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts