
Global Cyber News.Com Barito Selatan
Minggu, 27 September 2026
Pukul: 16.38 WIB
Lokasi: Muara Melongai, Desa Bintang Ara, Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan
Narasumber: Idyanto
Penulis: Ramli Riyadi
Kepala Biro Global Cyber News
Global Cyber News.Com. -BARITO SELATAN — Langit sore itu seolah menumpahkan anugerah yang telah lama dinantikan. Di tengah udara panas dan kepungan kabut asap, hujan lebat turun membasahi bumi Muara Melongai, bagian dari Desa Bintang Ara, Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan.
Butir-butir air dari langit seketika menghadirkan kesejukan. Udara yang sebelumnya terasa membara mulai mereda, sementara kabut asap perlahan berkurang. Bagi warga yang selama ini mendambakan udara segar dan sumber air yang memadai, hujan semestinya menjadi berkah.
Namun, di balik kesejukan tersebut, warga Muara Melongai justru melihat sebuah ironi.
Hujan deras yang seharusnya membawa berkah, menurut keterangan warga, juga membawa material endapan dari kawasan aktivitas pertambangan di bagian hulu. Aliran air hujan terlihat membawa material yang diduga berasal dari timbunan Overburden (OB) atau material penutup tanah hasil kegiatan pertambangan menuju alur-alur sungai.
Kondisi tersebut kembali menimbulkan kekhawatiran warga terhadap keberadaan Sungai Arang dan Sungai Dewi, yang selama ini menjadi bagian penting dari lingkungan dan sumber kehidupan masyarakat Muara Melongai.
Bagi warga, persoalannya bukan semata-mata tentang hujan, melainkan mengenai bagaimana material dari kawasan hulu dapat terbawa oleh air menuju wilayah permukiman.
“Bukan Berkah, Kami Justru Menerima Dampaknya”
Idyanto, warga Muara Melongai, menyampaikan keresahannya mengenai kondisi tersebut.
«“Inilah derita kami anak Desa Bintang Ara, Muara Melongai. Kami tidak pernah menikmati fasilitas dari perusahaan seperti sumur bor yang layak. Tanggung jawab sosial yang kami harapkan juga belum kami rasakan. Alih-alih mendapatkan hak dan kesejahteraan, kami justru khawatir menerima material dari kawasan perusahaan melalui aliran air,” ujar Idyanto.»
Pernyataan tersebut menggambarkan keresahan masyarakat yang merasa berada di wilayah yang terdampak aktivitas perusahaan, namun belum merasakan manfaat yang sebanding dengan harapan mereka terhadap keberadaan kegiatan usaha di sekitar wilayah tersebut.
Antara CSR, Air Bersih, dan Lingkungan
Persoalan air bersih menjadi salah satu perhatian utama masyarakat Muara Melongai.
Warga berharap keberadaan perusahaan di sekitar wilayah mereka tidak hanya dilihat dari sisi kegiatan ekonomi, tetapi juga diikuti dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang nyata.
Ketersediaan sumur bor, akses air bersih, perlindungan terhadap aliran sungai, serta keterbukaan mengenai program tanggung jawab sosial perusahaan menjadi sejumlah hal yang terus dipertanyakan masyarakat.
Pada saat yang sama, dugaan adanya material dari kawasan pertambangan yang terbawa aliran hujan perlu mendapatkan pemeriksaan secara objektif dari instansi berwenang. Pemeriksaan lapangan dan pengujian kualitas air menjadi penting agar masyarakat memperoleh kepastian mengenai jenis material yang terbawa, sumbernya, serta dampaknya terhadap lingkungan.
Sungai Arang dan Sungai Dewi Menjadi Sorotan
Warga juga menyoroti kondisi Sungai Arang dan Sungai Dewi yang disebut telah mengalami perubahan akibat aktivitas di wilayah hulu.
Apabila benar terdapat material timbunan atau material hasil aktivitas pertambangan yang masuk ke badan atau alur sungai, persoalan tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai keluhan masyarakat.
Diperlukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui kondisi alur sungai, asal material, kualitas air, serta kemungkinan dampaknya terhadap ekosistem dan kehidupan masyarakat di wilayah hilir.
Mendesak Pemeriksaan Terbuka
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Barito Selatan melalui instansi terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH), segera turun ke lapangan.
Pemeriksaan diharapkan mencakup kondisi Sungai Arang dan Sungai Dewi, kawasan timbunan material di hulu, sistem pengelolaan air limpasan tambang, dokumen dan pelaksanaan kewajiban lingkungan perusahaan, serta realisasi program tanggung jawab sosial perusahaan di wilayah terdampak.
Jika dalam pemeriksaan resmi ditemukan adanya pelanggaran terhadap ketentuan lingkungan hidup, masyarakat tentu berharap pemerintah mengambil tindakan sesuai peraturan perundang-undangan.
Sebaliknya, apabila tidak ditemukan pelanggaran, hasil pemeriksaan tersebut juga penting disampaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat.
Karena bagi warga Muara Melongai, hujan seharusnya membawa kehidupan—bukan kekhawatiran.
Laporan ini disiarkan untuk Indonesia melalui Global Cyber News.(Ramni Riyadi/Red.)










