spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeUncategorised*Do'a Sebagai Ekspresi Dari Rasa  Syukur Adalah Bagian Kesadaran Laku Spiritual*

Related Posts

Featured Artist


*Do’a Sebagai Ekspresi Dari Rasa  Syukur Adalah Bagian Kesadaran Laku Spiritual*



Jacob Ereste :

Global Cyber News.Com. -Bangsa Indonesia yang bermula dari berbagai suku bangsa Nusantara — dari Aceh sampai Lampung, hingga dari Sulawesi Selatan sampai Sulawesi Utara tak kecuali Kalimantan Barat hingga Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Tenggara Barat, Bali, Lombok, bahkan Papua, sungguh religius dengan cara dan ekspresi keagamaannya yang khas dari warisan para leluhur hingga kemudian bisa dan bersedia menerima kehadiran agama baru yang juga diyakini yang lebih rasional dan mampu mendekatkan diri kepada Tuhan. Kendati tidak sedikit diantaranya yang dipadukan dengan tradisi. budaya serta warna keyakinan sebelumnya — sinkretisme — dengan bijak dan toleran hingga seperti yang ada sekarang dalam beragam agama yang rukun dan damai hidup dalam satu keluarga, komunitas, hingga suku dan kelompok yang saling menghargai antara yang satu dengan lainnya.

Sifat dan sikap religiusitas suku bangsa Indonesia hari ini yang berasal dari satu bangsa Nusantara — tampak dalam pembicaraan formal, pidato, memberi sambutan, mulai dari dalam pertemuan keluarga, kelompok tani dan nelayan, acara di kampung sampai acara resmi kenegaraan, selalu disertai dengan puja dan puji syukur serta do’a singkat atas segenap karunia dan berkah yang dilimpahkan Tuhan.

Artinya, tradisi dan budaya berdo’a dan mendo’akan ini merupakan potensi dan kekuatan spiritual bangsa Indonesia untuk manjadi pemandu gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual bagi bangsa-bangsa di dunia yang bersifat global dan universal untuk menjadi bekal hidup dalam mengisi celah dari pergeseran serta merengatnya peradaban untuk menemukan formulanya yang baru — agar lebih bermutu dan beradab — untuk tidak saling memangsa pihak yang lemah, tak berdaya melakukan perlawanan budaya yang cenderung tidak manusiawi.

Tamak, rakus dan kemaruk tidak cuma menjadi pemantik peperangan, tapi juga perilaku buruk lainnya — maling, menipu, korupsi, khianat dan menindas bangsa sendiri merupakan perilaku buruk dan jahat, akibat jauh dari keberadaan Tuhan, meski Tuhan itu sendiri bersemayam di dalam jiwa dan batin manusia, tapi selalu diabaikan. Oleh karena itu rekreasi spiritual perlu dilakukan untuk memperoleh kesegaran batin dan jiwa yang gersang. Sehingga pemandangan indah ciptaan tuhan yang disertai angin sejuk untuk menenangkan batin dan jiwa yang selalu gundah dan resah — tidak segera perlu memaksa diri untuk dapat secepatnya kaya raya, seperti hasrat untuk dapat berkuasa dan dianggap terhormat meski dalam bentuk kepalsuan — imitasi dan bodong seperti ijazah dan gelar palsu atau yang imitasi belaka — itu semua kini menjadi kegandrungan yang terkesan paling populer sebagai mode dan gaya hidup di Indonesia sampai hari ini.

Itulah sebabnya ijazah palsu, gelar palsu hingga barang dan beras palsu pun ikut menteror hidup dan kehidupan manusia Indonesia yang jadi keranjingan dengan kepalsuan-kepalsuan untuk sekedar mendongkrak citra dirinya yang kosong.

Kekosongan di dalam diri manusia — batin dan jiwa — telah menyebabkan keruntuhan etika, keambrukan moral dan tiadanya akhlak mulia sebagai pemberian istimewa dari Tuhan, sehingga manusia layak disebut khalifatullah — wakil Tuhan — di bumi. Dan rahmatan lil alamin menyertai seluruh umat manusia — tidak cuma diperuntukkan bagi kaum Muslimin semata. Karena itu, amar ma’ruf nahi munkar adalah tugas pokok yang harus dan wajib dikakukan setiap orang dalam konteks tanggung jawab secara lahir dan batin

Nuansa spiritualitas dan religiusitas suku bangsa Nusantara — yang telah menjadi bersatu dalam kemerdekaan bangsa Indonesia, jelas memenuhi syarat untuk menjadi pusat gerakan kebangkitan kesadaran dan pahaman spiritual dalam memimpin bangsa-bangsa di dunia untuk memperkuat diri dengan basis spiritual yang mumpuni dan tangguh untuk tidak terperosok dalam banyak hal yang bersifat duniawi, tidak memiliki dimensi ukhrowi hingga sulit atau bahkan tidak terjangkau oleh akal pikiran serta kemampuan intelektual, tetapi sangat akrab dan karib dalam dimensi spiritual, seperti seluruh galaksi beredar tanpa pernah bisa diketahui siapa sesungguhnya sang mengendalikannya ?

Sapaan salam yang khas dan semakin membumi diterima oleh banyak umat manusia di muka bumi adalah : Assalamualaikum’ warahmatullahi wabarakatuh yang bisa saja diucapkan oleh siapa untuk siapa saja, walaupun di kalangan kaum Muslimin ada yang belum bisa menerima dan menolak sapaan salam yang bersifat global dan universal ini. Salah satu idiom yang khas dari umat Islam ini tak cuma berfungsi sebagai salam dan sapaan yang akrab, tapi juga sebagai ekspresi dari gumpalan do’a dan ikatan rasa dari persaudaraan yang jujur, sehingga patut disambut oleh yang bersangkutan, baik sebagai Muslim atau sebaliknya yang masih acap dipersoalkan dipersepsikan hanya dari umat Islam kepada umat Islam yang lain. Sementara dari dan untuk Islam kepada umat non Islam, masih banyak yang dianggap tidak cuma dianggap tidak afdol, tapi juga dianggap tidak boleh, padahal esensi dari makna salam dan do’a yang termaktub di dalamnya sungguh baik dan bernas, memiliki kandungan nilai etika (budaya) dan moral (sosial) yang sangat mulia bagi manusia, baik untuk yang mengucapkan maupun bagi yang menerima ucapan tersebut. ..

Karena bagi mereka yang ikhlas dan tulus menyapa siapapun dengan membuka pembicaraan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”, artinya tak cuma sekedar menyala, tapi juga berdo’a untuk yang bersangkutan agar selalu selamat dan sehat, memperoleh rahmat Tuhan serta selalu tercurah keberkahan yang melimpah. Agaknya inilah dasar Sri Eko Sriyanto Galgendu melakukan acara berdo’a untuk 79 tokoh nasional dalam waktu 20 jam non stop pada 2- 3 Agustus 2025 yang terkesan sakral karena diperuntukkan pada para tokoh yang masih hidup maupun yang sudah almarhum dan almarhumah dari berbagai agama dan kepercayaan atas dasar peran mereka terhadap perjalanan spiritualnya yang panjang sejak 30 tahun silam sampai sekarang.

Pengusaha kuliner yang mencurahkan seluruh atensi serta aktivitasnya pada pergerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual global yang bersifat universal, kini menyandang gelar Wali Spiritual Nusantara serta julukan Pemimpin Spiritual dari Indonesia untuk dunia. Maka itu event besar berskala nasional dan internasional terus dipersiapkan untuk mengisi kekosongan kepemimpinan spiritual dunia untuk menata kehidupan bersama umat manusia di bumi.

Banten, 9 Oktober 2026

Red

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts