
Global Cyber news.com. -Setiap manusia pernah mencintai sesuatu yang dimilikinya, merawatnya dengan penuh perhatian, bahkan merasa bangga karenanya. Namun, waktu perlahan mengubah segalanya. Barang yang dahulu berharga akhirnya rusak, kehidupan yang dahulu membanggakan menjadi kenangan, dan kemewahan yang dahulu dikejar akan ditinggalkan. Dunia bukan tempat untuk selamanya, melainkan persinggahan menuju kehidupan akhirat yang kekal.
Cobalah sejenak mengingat pakaian kesayangan yang dahulu selalu kita jaga. Kita mencucinya, melipatnya dengan rapi, menyimpannya di tempat terbaik, bahkan memberinya pewangi agar tetap nyaman dikenakan. Namun, tahun demi tahun berlalu. Warnanya memudar, kainnya menipis, ukurannya tidak lagi sesuai, hingga akhirnya pakaian itu tidak terpakai dan dibuang. Sesuatu yang dahulu kita sayangi ternyata tidak mampu bertahan selamanya.
Begitu pula telepon genggam, kendaraan, sepatu, jam tangan, tas, dan berbagai barang bermerek yang pernah kita banggakan. Ketika baru dibeli, semuanya terasa istimewa. Kita menjaganya agar tidak rusak, membersihkannya dengan hati-hati, bahkan terkadang merasa lebih percaya diri ketika memilikinya. Akan tetapi, waktu tidak pernah berhenti. Barang-barang itu akhirnya usang, rusak, kehilangan nilai, atau digantikan oleh sesuatu yang lebih baru.
Demikianlah gambaran kehidupan dunia. Sesuatu yang hari ini kita banggakan, kelak mungkin hanya menjadi kenangan. Sesuatu yang hari ini kita perjuangkan dengan penuh ambisi, suatu saat akan kita tinggalkan. Rumah yang megah, jabatan yang tinggi, harta yang melimpah, dan pujian manusia tidak akan menjadi milik kita untuk selamanya.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hadid ayat 20:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan engkau melihatnya menguning, kemudian menjadi hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukanlah larangan untuk memiliki harta, menikmati keindahan, mengenakan pakaian yang baik, atau membangun kehidupan yang sejahtera. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membenci dunia secara mutlak. Yang harus diwaspadai ialah ketika dunia menguasai hati, membuat manusia lupa bersyukur, meremehkan hak sesama, meninggalkan kewajiban, dan mengabaikan persiapan menuju akhirat.
Harta dapat menjadi sarana kebaikan apabila diperoleh dengan cara halal dan digunakan untuk menolong sesama. Jabatan dapat menjadi jalan pengabdian apabila dijalankan dengan amanah. Kekayaan dapat menjadi bekal pahala apabila digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membantu orang miskin, membangun kemaslahatan, dan mendukung perjuangan di jalan Allah.
Namun, ketika harta membuat seseorang sombong, jabatan menjadikannya zalim, dan kemewahan membuatnya merendahkan orang lain, saat itulah kenikmatan dunia berubah menjadi ujian yang berbahaya.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 185:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185)
Perhatikanlah, Allah menyebut keberhasilan sejati bukan semata-mata kekayaan, ketenaran, atau panjangnya usia, melainkan keselamatan dari neraka dan masuk ke dalam surga. Ukuran keberhasilan dunia sering kali berbeda dengan ukuran keberhasilan di sisi Allah. Manusia mungkin memandang seseorang berhasil karena rumahnya megah dan hartanya berlimpah, tetapi kemuliaan sejati berkaitan dengan iman, ketakwaan, dan amal saleh yang dikerjakannya.
Dalam sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dikutip dalam postingan dengan rujukan Az-Zuhd karya Imam Ahmad, disebutkan bahwa Umar pernah melewati tempat sampah, kemudian mengingatkan para sahabatnya bahwa itulah gambaran dunia yang mereka perebutkan. Pesan tersebut mengajak kita melihat sisi kehidupan yang sering disembunyikan oleh gemerlap kemewahan: segala sesuatu yang dikumpulkan manusia pada akhirnya dapat kehilangan nilainya dan ditinggalkan.
Kita tidak harus benar-benar mendatangi tempat sampah untuk memahami pelajaran itu. Cukuplah kita memperhatikan barang-barang lama di rumah, kendaraan yang tidak lagi digunakan, pakaian yang menumpuk, atau benda berharga milik orang yang telah meninggal dunia. Dahulu semua itu mungkin dijaga dengan penuh kebanggaan. Kini pemiliknya telah pergi, sementara barang-barangnya menjadi urusan orang-orang yang masih hidup.
Lalu, apakah yang sebenarnya kita bawa ketika meninggalkan dunia?
Rasulullah SAW bersabda:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Artinya: “Tiga perkara mengikuti jenazah: keluarga, harta, dan amalnya. Dua perkara kembali, sedangkan satu perkara tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengandung pelajaran yang sangat mendalam. Keluarga yang mencintai kita akan mengantarkan hingga pemakaman, tetapi mereka tidak dapat menggantikan pertanggungjawaban kita di hadapan Allah. Harta yang dahulu kita kumpulkan akan diwariskan atau ditinggalkan, tetapi tidak dapat menyelamatkan kita hanya karena jumlahnya banyak. Yang menyertai kita ialah amal, dengan rahmat dan pertolongan Allah sebagai harapan keselamatan.
Karena itu, selagi masih diberi kesempatan hidup, marilah kita memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Tunaikan salat, jagalah kejujuran, hormati orang tua, sayangi keluarga, lunasi utang, kembalikan hak orang lain, dan jauhilah kezaliman. Perbanyak sedekah, bantu mereka yang kesulitan, serta gunakan kemampuan yang kita miliki untuk menghadirkan manfaat.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Qasas ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas: 77)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Kita tetap boleh bekerja keras, mencari rezeki, membangun usaha, memiliki rumah yang nyaman, dan memberikan kehidupan yang layak kepada keluarga. Akan tetapi, semua itu hendaknya berjalan seiring dengan ketaatan. Jangan sampai kesibukan mencari nafkah membuat kita melupakan salat. Jangan sampai mengejar keuntungan membuat kita menghalalkan segala cara. Jangan sampai keinginan dipandang hebat oleh manusia membuat kita lupa memperbaiki diri di hadapan Allah.

Ingatlah, tidak ada yang salah dengan memiliki dunia selama dunia tidak memiliki seluruh hati kita. Milikilah harta, tetapi jangan menjadi hambanya. Nikmatilah kesenangan, tetapi jangan melupakan pemberinya. Bangunlah masa depan, tetapi jangan mengorbankan akhirat demi sesuatu yang tidak pernah menjanjikan keabadian.
Pada akhirnya, pakaian akan usang, kendaraan akan rusak, rumah akan ditinggalkan, jabatan akan berakhir, dan tubuh akan kembali menjadi tanah. Nama yang dahulu dipuji mungkin perlahan dilupakan. Namun, kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak sia-sia di sisi Allah.
Maka, sebelum sibuk menghitung apa yang belum kita miliki, hitunglah kesempatan beramal yang masih tersisa. Sebelum merasa bangga dengan apa yang telah dikumpulkan, tanyakan kepada diri sendiri apakah semua itu mendekatkan kita kepada Allah. Sebelum tidur malam ini, renungkanlah apakah hari yang telah berlalu dipenuhi kebaikan atau justru terbuang dalam kelalaian.
Semoga Allah menjadikan dunia berada di tangan kita, bukan menguasai hati kita. Semoga harta menjadi jalan kebaikan, usia menjadi kesempatan memperbanyak amal, dan setiap kenikmatan mengantarkan kita kepada rasa syukur. Semoga ketika saat meninggalkan dunia tiba, kita tidak hanya meninggalkan harta bagi keluarga, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan dan bekal amal yang diridai Allah SWT. Aamiin.
Red










