
Oleh: Ir. Zulfikar Tanjung
Global Cyber news.com. -Perjalanan menuju Konferensi PWI Sumatera Utara 2026 menghadirkan satu dinamika menarik. Ketua PWI Sumut, Farianda Putra Sinik, akhirnya menjadi calon tunggal.
Namun, menjadi satu-satunya kandidat bukanlah gambaran utuh tentang sikap dan karakter kepemimpinannya. Justru, rangkaian pernyataannya sejak deklarasi hingga pendaftaran menyimpan sejumlah pesan penting.
Sebagai bagian dari keluarga besar PWI dan pengamat kehidupan pers, saya melihat ada enam karakter yang menarik dicermati dari sikap Farianda.
Tidak Berambisi Menjadi Calon Tunggal
Hal pertama yang patut dicatat adalah keterbukaannya terhadap kompetisi. Farianda sejak awal justru menginginkan konferensi berlangsung ramai dengan munculnya kandidat-kandidat lain.
Ia bahkan mempersilakan siapa pun anggota PWI yang memenuhi persyaratan untuk maju. Baginya, demokrasi organisasi harus memberi ruang bagi perbedaan pilihan dan pertarungan gagasan.
Sikap ini penting karena calon tunggal tidak semestinya menjadi tujuan yang dikejar. Kompetisi sehat justru dapat memperkaya organisasi melalui tawaran pemikiran dan program yang beragam.
Farianda juga menegaskan tidak merekayasa keadaan hingga dirinya menjadi satu-satunya kandidat yang mendaftar. Pernyataan tersebut patut dibaca sebagai sikap terbuka terhadap proses demokrasi.
Mengutamakan Persaudaraan, Bukan Permusuhan
Karakter kedua terlihat dari pesan yang berulang kali disampaikannya mengenai pentingnya menjaga persaudaraan. Perbedaan pilihan, menurut semangat pernyataannya, tidak boleh merusak hubungan sesama wartawan.
Ia menginginkan konferensi berlangsung berisik dalam arti positif: ramai gagasan, perdebatan, dan adu program, bukan saling menjatuhkan.
Di sinilah kedewasaan berorganisasi diuji. Kompetisi boleh berlangsung tajam, tetapi hubungan kemanusiaan dan persaudaraan harus tetap terpelihara.
Sebab, kemenangan dalam konferensi tidak akan berarti banyak apabila meninggalkan luka, permusuhan, dan perpecahan di antara anggota.
Mengakui Tidak Ada Manusia yang Sempurna
Pesan berikutnya menyentuh sisi kemanusiaan. Farianda mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, termasuk dirinya sebagai pemimpin organisasi.
Pengakuan seperti ini penting dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak harus menampilkan diri seolah-olah selalu benar, apalagi menutup ruang kritik dan masukan.
Ia bahkan menggambarkan bahwa kekurangan dapat terasa tertutupi ketika semua orang bersatu. Sebaliknya, orang yang dianggap sempurna sekalipun belum tentu terlihat utuh tanpa kebersamaan.
Pesan tersebut mengandung filosofi sederhana, tetapi mendalam: kekuatan organisasi tidak bertumpu pada kesempurnaan seseorang, melainkan kemampuan seluruh unsur saling melengkapi.
Ingin Merangkul Seluruh Elemen Pers
Karakter keempat tampak dari ajakannya agar seluruh elemen pers ikut bergerak bersama. Ia menyebut wartawan senior, wartawan muda, hingga anggota baru sebagai bagian penting keluarga besar PWI.
Sikap merangkul ini menjadi kebutuhan organisasi yang terus menghadapi perubahan. Pengalaman wartawan senior perlu bertemu dengan energi dan gagasan generasi muda.
Organisasi pers tidak boleh berjalan hanya dengan mengandalkan satu kelompok atau lingkaran tertentu. Kebersamaan harus menjadi kekuatan untuk memperluas kontribusi PWI.
Karena itu, ajakan Farianda untuk bersatu dapat dimaknai sebagai upaya membangun kepemimpinan yang inklusif, bukan sekadar mengonsolidasikan dukungan menjelang konferensi.
Rendah Hati Menerima Amanah
Ketika akhirnya hanya namanya yang tercatat sebagai kandidat, Farianda menyatakan kesiapannya menerima kepercayaan tersebut dengan mengucapkan Insya Allah.
Ia tidak serta-merta menempatkan keadaan itu sebagai kemenangan pribadi. Sebaliknya, ia mengajak seluruh anggota untuk menjaga solidaritas dan bersama-sama memperbaiki organisasi.
Sikap ini menunjukkan bahwa amanah kepemimpinan semestinya diterima dengan kesadaran akan tanggung jawab, bukan sebagai kesempatan membesarkan diri.
Apalagi, memimpin organisasi wartawan bukan pekerjaan ringan. Ada kepentingan anggota, kehormatan profesi, serta eksistensi pers Sumatera Utara yang harus terus diperjuangkan.
Terharu, Bukan Membusungkan Dada
Karakter terakhir terlihat ketika Farianda mengaku terharu setelah mengetahui besarnya dukungan yang menginginkannya kembali memimpin PWI Sumut.
Ia mengaku sempat sulit mempercayai dukungan tersebut. Respons itu memperlihatkan sisi emosional seorang pemimpin yang merasa mendapat kepercayaan dari keluarga besar organisasinya.
Dalam situasi ketika dukungan menjadi modal penting, sikap terharu jauh lebih bermakna daripada membusungkan dada. Kepercayaan anggota seharusnya melahirkan tanggung jawab lebih besar.
Namun, enam karakter tersebut tentu tidak cukup hanya dibaca dari pernyataan. Ukuran sesungguhnya tetap terletak pada pelaksanaan kepemimpinan dan hasil kerja organisasi.
(penulis bersertifikat wartawan utama dewan pers)
Res










