
globalcybernews.com -Dayak Tunjung adalah Suku yang mendiami DAS Mahakam. Dayak Tunjung tersebar di 11 kecamatan :
- Long Iram, Kutai Barat
- Tering, Kutai Barat
- Linggang Bigung, Kutai Barat
- Barong Tongkok, Kutai Barat
- Melak, Kutai Barat
- Sekolaq Darat, Kutai Barat
- Muara Pahu, Kutai Barat
8.Mook Manor Bulatn, Kutai Barat - Muara Wis
- Kembang Janggut, Kutai Kartanegara
- Kenohan, Kutai Kartanegara
Berdasarkan legenda, Suku Tunjung ini berasal dari dewa-dewa yang menjelma menjadi manusia untuk memperbaiki dunia yang sudah rusak yang terkenal dengan sebutan JARUK’NG TEMPUQ. Jaruk’ng adalah nama dewa yang menjadi manusia. Sedangkan Nempuuq atau Tempuuq berarti terbang.
Nama suku Tunjung, menurut mereka adalah TONYOOI RISITN TUNJUNG BANGKAAS MALIKNG PANGURUU ULAK ALAS. Artinya bahwa Suku Tunjung adalah pahlawan yang berfungsi sebagai dewa pelindung. Nama asli suku Tunjung ini adalah TONYOOI.
Kata Tunjung sendiri dalam bahasa dayak Tunjung adalah “Mudik” atau menuju arah hulu sungai.
Pada suatu hari Seorang Tonyooi Mudik dan bertemu dengan orang Haloq (Sebutan Dayak kepada seseorang yang bukan dayak dan beragama Muslim). Haloq tersebut bertanya kepada Tonyooi, hendak pergi kemna, kemudian si Tonyooi Menjawab “Tuncuuk’ng”, maksudnya mudik. Orang Haloq lalu terbiasa melihat orang yang seperti ditanyainya tadi disebut “Tunjung”. Hingga sekarang namanya tersebut masih dipergunakan.
Didaerah Linggang Malepeh, terdapat sebuah Luuq. Yg biasa disebut dg Luuq Malepeh/Lamin Malepeh. Yaitu sebuah rumah adat khas Dayak Kalimantan Timur. Konon Luuq ini telah berusia ratusan tahun.
Disinilah beberapa kegiatan masyarakat Dayak Tunjung dilaksanakan. Diantaranya adalah upacara Baliant. Yaitu upacara penyembuhan secara tradisional yg dilakukan oleh seorang juru sembuh yg yg disebut “Baliant”, dengan sarana tarian yg disebut Tari Baliant. Tari Baliant selalu diiringi alat musik khas Dayak Tunjung. Yaitu Gong dan kendang.
Dayak Tunjung mengenal istilah Kenyau. Merupakan bagian dari prosesesi kematian. Kenyau sendiri dapat diartikan sebagai balas jasa kepada orang tua. Dengan diadakannya upacara semacam Tiwah di Kalsel maupun Kalteng. Diamana seekor kerbau ditambatkan pada Sapundu dan ditombak.. Pada berbagai acara, Hewan Kerbau merupakan kurban paling tinggi dalam adat orang Dayak Tunjung dan Benuaq.
Wanita-wanita Dayak Tunjung adalah pekerja keras. Mereka biasa berladang dan bertani membantu suami maupun keluarganya. Bergotong royong untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Saling bahu membahu dengan tetangga juga juga menjadi hal yang lumrah. Kebanyakan dari para wanita ini sangat lihai membuat sulam khas Dayak Tunjung Banuaq. Yang disebut Sulam Tumpar.
Secara garis besar Dayak Tunjung adalah salah satu sub Suku Dayak yang kaya akan budaya dan tradisi. Dimana nilai2 luhur yg diajarkan nenek moyang, senantiasa dijaga dan dilestarikan.
SEJARAH SUKU TUNJUNG (TONYOOI)
A. Sejarah tidak ada data tertulis
Sejarah Tidak ada data tertulis tentang asal usul suku Tunjung ini. Kita dapat mengetahui asal usul mereka hanya dari cerita-cerita rakyat dari orang-orang tua yang didapat secara turun temurun. Konon menurut cerita suku Tunjung ini berasal dari dewa-dewa yang menjelma menjadi manusia untuk memperbaiki dunia yang sudah rusak yang terkenal dengan sebutan “Jaruk’ngTempuq”. Jaruk’ng adalah nama dewa yang menjadi manusia dan Nempuuq atauTempuuq berarti terbang.
Nama Dayak Tunjung ini menurut mereka adalah Tonyooi RisitnTunjung Bangkas Malikng Panguruu UlakAlas yang artinya Suku Tunjung adalah pahlawan yang berfungsi sebagai dewa pelindung. Nama asli suku Tunjung ini adalah Tonyooi. Sedangkan kata Tunjung sendiri dalam bahasa dayak Tunjung adalah“Mudik” atau menuju arah hulu sungai.
Ceritanya demikian. Pada suatu hari
Seorang Tonyooi Mudik dan bertemu
dengan orang Haloq (Sebutan Dayak
kepada seseorang yang bukan dayak dan
beragama Muslim) kemudian Haloq tersebut
bertanya pada Tonyooi ingin pergi kemna,
kemudian si Tonyooi Menjawab
“Tuncuuk’ng”, maksudnya mudik. Orang
Haloq lalu terbiasa melihat orang yang
seperti ditanyainya tadi disebut “Tunjung”
dan hingga sekarang namanya tersebut masih
dipergunakan.
B. Penyebaran
Sesuai dengan cerita legenda dayak
kubar, Sualas Gunaaq (keturunan tunjung)
menjadi Raja ke II Kerajaan Sentawar
dimana keturunan Suku Tunjung diamni.,
sebelumnya ayahnya yang bernama Tulur Aji
Jangkat. Tetapi karena Tekanan Kerajaan
KUtai Kertanegara serta larangan
pemerintah Belanda tentang kebiasaan (adat)
mereka mengayau (memotong kepala), lalu Dayak Tunjung ini berpindah danmenyebar kepedalaman atau tempat yangberjauhan satu sama lainnya. Akibatpenyebaran itu terjadilah sedikit perbedaanlogat bahasa dan wujud kebudayaan, tetapitidak begitu mendasar.
Akibat penyebaran inisehingga terjadi berbagai macam jenis yaitu:
- Tunjung Bubut, mereka mendiami daerah
Asa, Juhan Asa, baloq Asa, Pepas Asa,
Juaq Asa, Muara Asa, Ongko Asa, Ombau
Asa, Ngenyan Asa, Gemuhan Asa,
Kelumpang dan sekitarnya. - Tunjung Asli, Mendiami daerah Geleo (baru
dan Lama) - Tunjung Bahau, Mendiami Barong
Tongkok, Sekolaq Darat, Sekolaq Muliaq,
Sekolaq Oday, Sekolaq Joleq dan
sekitarnya. - Tunjung Hilir, mendiami wilayah Empas,
Empakuq, Bunyut, Kuangan dan
sekitarnya. - Tunjung Lonokng, mendiami daerah seberang
Mahakam yaitu Gemuruh, Sekong Rotoq,
Sakaq Tada, Gadur dan sekitarnya. - Tunjung Linggang, mendiami didaerah
dataran Linggang seperti Linggang Bigung,
Linggang Melapeh, Linggang Amer, Linggang
Mapan, Linggang Kebut, Linggang Marimun,
Muara Leban, Muara Mujan, Tering,
Jelemuq, lakan bilem, into lingau, muara
batuq dan wilayah sekitarnya. - Tunjung Berambai, mendiami Wilayah hilir
sungai Mahakam seperti Muara Pahu, Abit,
Selais, Muara Jawaq, Kota Bangun,
Enggelam, Lamin Telihan, Lamin Pulut, Teluk Bingkai,Kembang janggut,
Kelekat, Bukit Layang dan Pulau Pinang.
C. Sistem Kekerabatan
Prinsif kekerabatan yang dianutoleh dayak tunjung ialah prinsifbilateral, yang menghitung systemkekerabatan dari pihak pria maupun wanita.
Setiap individu termasuk dalam kekerabatan
ayah dan ibunya, anak-anaknya mempunyai
hak dan kewajiban yang sama terhadap
keluarga pihak ibu maupun ayah.Kelompk kekerabatan dayaktunjung terikat oleh hubungan kekerabatanyang disebut Purus. purus dihitungberdasarkan hubungan darah dan hubunganyang timbul melalui perkawinan. Kelompokkekerabatn yang diperhitungkan melaluipurus disebut batak. Individu yang masihmempunyai hubungan kekerabatan dalamsuatu kelompok disebut sebatak (batak tai)dan yang bukan disebut batak ulunt.
Perkembangan desa yang berasaldari sebuah rumah panjang (Luu) masih tetapmengikat penduduk menjadi suatu komunitasdesa.
Pada masyrakat dayak Tunjung juga
terdapat pelapisan social yang dibedakan
dengan tajam sekali ketika susunan
pemerintahan desa adat (jaman lamin kuno)
masih berlaku. Hilangmya pelapisan social
adalah pengaruh masuknya pemerintah
belanda kedaerah tempat orang-orang dayak
bermukim. System perbudakan yang ada
dihapuskan bersamaan dengan pelarangan
potong kepala (mengayau) yang dalam bahasa
tunjung disebut balaaq. susunan pelapisan
social masyarakat tunjung pada jaman dulu
adala:
- Hajiiq (Golongan Bangsawan), mereka
terdiri dari raja beserta keturunannya,
pemengkawaaq (pengawal raja) dan mantik
tatau ( bawahan pemengkawaaq yang
berhubungan langsung dengan rakyat) dengan
semua keturunanya. - Merentikaq merentawi disingkat merentikaq
(golongan merdeka atau golongan biasa)
mereka tidak termasuk golongan hajiq
ataugolongan hamba sahaya. Golongan
merentikaaq ini mempunyai hak untuk
menarikan Tarian Calant caruuq, karena
mereka keturunan asli dari Sengkereaq. - Ripat (hamba sahaya), golongan ini
mengabdikan diri pada Golongsn hajiiq.









