Sunday, February 15, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeUncategorised*Surat Budaya Yang Mesra  Dari Uda Rizal Tanjung, Sumatra Barat
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Related Posts

Featured Artist


*Surat Budaya Yang Mesra  Dari Uda Rizal Tanjung, Sumatra Barat

Jacob Ereste :

Global Cyber News.Com. -Lama juga saya harus merenungkan surat terbuka Uda Rizal Tanjung yang sungguh mengharukan hati saya. Karena saya pun sempat terperangah, nyaris tak percaya kalau Uda Rizal Tanjung sungguh bersurat seperti termuat dibawah ini yang saya terima lewat WhatsApp pada 11 Juli 2025 hingga harus diendapkan agar dapat dicerna secara jernih dengan hati yang tenang, tiada gundah dan resah. Apalagi harus curiga yang ada gunanya. Tapi toh, setelah sekian hari berlalu, tak ada kesimpulan yang lebih penting kecuali ingin berbagi kesan dan pesan, siapa tahu ada netizen yang berkenan memberi saran bagaimana sikap yang lebih bijak untuk memahaminya. Maka itu paparan Uda Rizal Tanjung yang saya beri judul Surat Budaya Yang Mesra Dari Uda Rizal Tanjung dari Sumatra Barat bisa dinikmati dan dibaca oleh nitizen yang berkenan. Terima kasih. Dan salam hangat dari saya.

Selengkapnya, surat budaya yang mesra termuat utuh dan selengkapnya seperti dibawah ini:

Assalamu’alaikum, Pak Jacob Ereste.

Izinkan saya membuka ruang kecil dalam benak ini, dengan sebuah tanya yang sederhana namun mengusik dalam:

Untuk apakah semua tulisan itu, Pak, Engkau kirimkan dan tujukan kepadaku?

Pertanyaan ini bukan untuk mencurigai, apalagi menuduh. Tapi ia lahir dari rasa yang tak tahu arah: apakah kita sejatinya berteman atau justru berdiri di dua sisi jalan yang berseberangan?

Saya membaca semua yang Bapak tuliskan—dengan perasaan campur aduk. Beberapa di antaranya menggugah dan menginspirasi, meski tak sedikit juga yang terasa janggal di dada. Namun saya tidak ingin berlaku sombong atau pongah; saya hanyalah manusia biasa, Pak. Bukan seorang tokoh besar, bukan sastrawan mentereng, bukan pula budayawan yang dielu-elukan.

Saya hidup dari yang disebut negara sebagai bantuan sosial: PKH, sembako, dan tangan-tangan dermawan dari kawan-kawan yang peduli. Saya, yang dikenal banyak orang di panggung nasional hingga mancanegara, justru tak benar-benar mengenal siapa diri saya sendiri. Ironi yang lucu, bukan?

Saya menulis tentang banyak orang, tentang wajah-wajah lain, tentang dunia yang gaduh ini—namun tak pernah menulis tentang diri saya sendiri dengan sungguh-sungguh. Saya takut barangkali, atau terlalu terbiasa menyingkir dari cermin batin.

Hidup saya, Pak, adalah cerita kecil yang kumulai dari sebuah ponsel bekas seharga lima ratus ribu rupiah. Dari sana saya mengetik dunia. Menjahit kata demi kata, namun lupa menyimpannya. Tulisan-tulisan itu seperti daun gugur di musim kemarau: jatuh dan hilang, tanpa pernah sempat dikumpulkan.

Maka jika saya tampak diam, bukan karena tak menghargai. Jika saya terlihat menjauh, bukan karena membenci. Saya hanya ingin Bapak tidak salah paham padaku—seorang lelaki biasa, yang menulis bukan karena ingin diakui, tapi karena ingin hidup lebih tenang di antara huruf-huruf yang berdesakan di dalam dada.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rizal Tanjung

** Surat Budaya Ini pun dilengkapi dengan catatan kaki berikut ini :

SURAT TERBUKA UNTUK JACOB ERESTE
Oleh: Seorang Lelaki Biasa

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pak Jacob Ereste yang saya hormati,

Dalam sunyi yang pelan dan batin yang bergemuruh, izinkan saya menulis sepucuk surat ini kepada Bapak—bukan sebagai bentuk protes, bukan pula demi mencari pujian atau belas kasihan. Saya menulis karena saya tak tahu lagi harus menjawab dengan cara apa selain dengan tulisan ini, yang mungkin akan dibaca atau justru diabaikan begitu saja.

Saya ingin bertanya, Pak. Tapi bukan pertanyaan biasa. Ini pertanyaan yang lahir dari keheningan malam dan kebingungan yang menggantung di antara nadi dan nalar:
Untuk apa, Pak, semua tulisan itu Bapak kirimkan padaku?

Apakah karena Bapak menganggap saya teman, atau justru lawan yang diam-diam ingin Bapak tumbangkan dengan pena dan penghakiman sunyi?

Saya tak tahu.
Tapi saya merasa perlu untuk menjawab dalam bentuk lain—dalam bentuk kejujuran yang tak sempat saya ucapkan dalam bahasa lisan. Karena kalau saya bicara, lidah saya mungkin akan gugup. Tapi kalau saya menulis, saya bisa menumpahkan semua isi dada tanpa takut kehilangan arah.

Pak Jacob,
Saya ini bukan siapa-siapa.
Saya hanyalah lelaki biasa,
yang hidup dari bantuan sosial dan doa orang-orang yang masih ingat nama saya.
Saya bukan penulis besar. Saya bukan pemikir hebat. Saya hanya seorang pengembara kata,
yang menambal hidup dari HP bekas seharga lima ratus ribu—HP yang layarnya retak,
namun di dalamnya saya coba merangkai dunia.

Saya dikenal banyak orang, ya.
Kadang dipanggil untuk tampil, kadang dijadikan contoh, kadang dicibir juga.
Tapi saya sendiri… saya belum benar-benar mengenal siapa diri saya.
Saya tahu cara menulis tentang orang lain: tentang kisah, tentang luka, tentang perlawanan.
Namun saya tak pernah berhasil menulis tentang saya sendiri dengan jujur.
Mungkin karena saya takut.
Atau mungkin karena saya malu dengan kenyataan yang terlalu pahit untuk dijadikan narasi.

Pak Jacob,
Semua tulisan Bapak indah—dalam caranya sendiri.
Saya membacanya seperti orang membaca berita dari negeri lain: menarik, tapi terasa jauh.
Ada yang benar, ada yang meleset. Tapi saya tak ingin membantah,
karena saya sadar: dalam dunia ini, siapa pun bisa bicara.
Namun tak semua mau mendengar.

Hidup saya—mungkin di mata sebagian orang—tragis.
Tapi saya sudah terbiasa berjalan dalam kesepian yang tak bersuara.
Saya tak punya komputer, tak punya rumah kata yang layak.
Saya hanya punya satu: niat untuk terus menulis, walau semua tulisan itu akhirnya hilang,
karena saya tak pernah sempat menyimpannya.

Dan sekarang, di hadapan Bapak, saya mohon satu hal kecil:
jangan salah paham padaku.
Saya bukan pembenci. Saya bukan penantang.
Saya hanya ingin bertahan hidup di dunia yang begitu cepat melupakan manusia-manusia kecil seperti saya.

Jika Bapak ingin tetap mengirimkan tulisan, saya akan membacanya.
Jika tidak, saya akan tetap menulis.
Sebab bagi saya, menulis adalah satu-satunya cara untuk tetap merasa hidup.

Akhir kata, saya haturkan salam.
Semoga Bapak senantiasa diberi kesehatan,
dan semoga kelak kita bisa saling memahami
—bukan sebagai dua pihak yang bertolak belakang,
tetapi sebagai dua insan yang pernah percaya pada kekuatan kata.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hormat saya,
seorang lelaki biasa,
yang menulis dengan jari dan keikhlasan.

Red

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts