
Global Cyber News.Com. -Medan I Bagi sebagian orang, membayar uang kuliah mungkin bukan persoalan besar. Namun bagi Rudy Brando Hutabarat, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, angka Rp90.000 pernah menjadi batas antara melanjutkan pendidikan atau berhenti di tengah jalan.
“Saya dulu kalau tidak ada uang, tidak sekolah,” kata Rudy saat menceritakan kenangan masa kuliahnya di hadapan 8 pimpinan perguruan tinggi di Medan, Selasa (17/3/2026).
Keterbatasan ekonomi membuat pria kelahiran Dumai, 29 Mei 1970 itu harus menjalani hari-hari dengan penuh perhitungan. Kuliah kala itu baginya bukan sekadar soal hadir di kelas, tetapi bagaimana bertahan di tengah kondisi yang serba terbatas.
Ia tidak memiliki banyak pilihan selain bekerja sambil belajar. Mengajar dan menjadi asisten dosen ia jalani demi mencukupi kebutuhan hidup sekaligus membayar biaya pendidikan.
Perjalanan itu tidak mudah. Ada masa ketika ia harus menunda langkah, menunggu hingga memiliki cukup biaya untuk kembali masuk kelas. Namun, ia tidak memilih berhenti.
“Kalau dulu mencari kos saya itu gampang sekali. Cari saja di daerah swakarya itu, kos yang paling gelap itu lah kosnya Rudy. Karena memang gak punya uang,” ungkapnya.
Di tengah situasi tersebut, Rudy memegang satu keyakinan sederhana: pendidikan adalah jalan untuk mengubah hidup.
Keyakinan itu perlahan menemukan jawabannya. Kesempatan datang melalui beasiswa yang membawanya melangkah lebih jauh.
Setelah tamat dari SMA Negeri 1 Medan, Rudi melanjutkan pendidikan ke Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada bidang Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan.
Rudy kemudian melanjutkan pendidikan magister di The University of New South Wales (UNSW) dengan konsentrasi Economics dan lulus pada tahun 2002. Ia juga meraih gelar doktor di Universitas Padjadjaran pada bidang Ekonomi pada tahun 2017.
“Pendidikanlah yang mengangkat saya dari jurang kemiskinan. Semua pendidikan saya serba gratis lewat beasiswa,” katanya.
Perjalanan panjang itu membawa Rudy menjadi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara sejak 31 Januari 2025. Sebuah posisi yang ia capai melalui proses bertahap, dimulai dari keterbatasan yang pernah ia hadapi.
Rudy memulai kariernya di Bank Indonesia sejak 1 April 1996. Sebelum menjabat sebagai Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Rudy pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Internasional (2022–2025), Kepala Departemen Pengelolaan Devisa (2021–2022), serta Kepala Grup Analisis & Rekomendasi Kebijakan Pengelolaan Devisa (2020–2021).
Bagi Rudy, pengalaman tersebut bukan sekadar cerita pribadi. Ia melihatnya sebagai gambaran bahwa kesempatan yang sama perlu dibuka bagi lebih banyak orang.
Menurutnya, saat ini kekuatan suatu bangsa tidak lagi bergantung pada sumber daya alam, melainkan pada kualitas sumber daya manusia.
Karena itu, Bank Indonesia menjalin kerja sama dengan delapan perguruan tinggi di Sumatera Utara. Program tersebut tidak hanya berfokus pada penyaluran beasiswa, tetapi juga penguatan literasi kebanksentralan serta peningkatan kapasitas mahasiswa.
Melalui kolaborasi tersebut, ia berharap mahasiswa tidak hanya mendapatkan bantuan biaya, tetapi juga memiliki ruang untuk berkembang.
“Yang kita siapkan bukan hanya lulusan, tetapi generasi yang siap berkontribusi,” ujarnya.
Rudy memahami bahwa tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Namun baginya, setiap orang seharusnya memiliki kesempatan untuk melangkah lebih jauh.
Ia pun berharap, semakin banyak anak muda yang tidak berhenti di tengah jalan hanya karena keterbatasan, melainkan mampu melanjutkan pendidikan dan membangun masa depan mereka.(r/de)
Red









