
GlobalCyberNews.Com-Padang Sidempuan I Paska terjadinya Bencana tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) beberapa waktu yang lalu, Perusahaan Tambang Emas Martabe, PT Agincourt Resources (PTAR), terus memperkuat komitmen terhadap pengelolaan lingkungan hidup dan pelestarian keanekaragaman hayati di Ekosistem Batang Toru.
Langkah ini ditunjukkan melalui pemenuhan kepatuhan regulasi lingkungan yang ketat. Selain memastikan seluruh dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan izin lingkungan tetap berlaku serta dipatuhi, perusahaan saat ini tengah mengikuti Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER).
Demikian disampaikan Manager Biodiversity & Environmental Strategic Development PT. AR, Syaiful Anwar pada acara forum diskusi Smartabe Connect #3 bersama insan pers di MiniMax Coffee, Kota Padangsidimpuan, Sabtu (8/8/2026)
Guna meminimalisir Dampak yang terjadi saat operasional, perusahaan mengimplementasikan kebijakan biodiversity baseline serta prosedur ketat Land Access Disturbance Request (LADR) sebelum melakukan pembukaan lahan. Apabila pembukaan lahan bersinggungan dengan area berkeanekaragaman hayati tinggi, perusahaan wajib berkonsultasi dan menerima arahan dari Biodiversity Advisory Panel (BAP).
“untuk meminimalkan dampak operasional, PT.AR menerapkan prosedur ketat pra-peledakan (blasting). Sebelum kegiatan penambangan dilakukan, tim patroli bersama tim Stasiun Riset melakukan asesmen ketat dalam radius 500 meter dari titik pembukaan lahan
. Perusahaan juga menerbangkan helikopter untuk pemantauan udara guna memastikan tidak ada satwa liar—seperti orangutan, biawak, maupun ular—yang mendekati area peledakan,”papar Syaiful
Seluruh area paska-tambang, kata Syaiful juga akan melalui proses reklamasi dan penanaman kembali (replanting) menggunakan pendekatan multi-spesies yang melibatkan sekitar 70 jenis tanaman lokal untuk mempercepat pemulihan ekosistem.
Komitmen konservasi yang berkelanjutan di wilayah pertambangan Martabe juga didukung oleh keberadaan Stasiun riset Martabe dari ilmuwan biodiversitas Universitas Nasional (UNAS) Jakarta sekaligus anggota Biodiversity Advisory Panel (BAP) PTAR Dr. Suci Utami
Dr Suci menyebut stasiun riset tersebut telah berdiri sejak 15 Januari tahun lalu di area hutan sekunder atau Areal Penggunaan Lain (APL) Meskipun sempat menyesuaikan operasional akibat dampak bencana tanah longsor di beberapa titik kawasan, aktivitas riset lingkungan dan sosial di stasiun ini tetap berjalan lancar.
Dari hasil riset itu ada ekosistem Batang Toru yang memiliki keunikan khusus karena menjadi habitat yang perlu dijaga yakni spesies orangutan Tapanuli, harimau Sumatra, dan tapir.
“Ketiga satwa utama tersebut berada dan beraktivitas di area konservasi Martabe di ekosistem Batang Toru yang terekam secara jelas melalui kamera pemantau (camera trap) yang harus sama-sama dijaga,”ujar Dr Suci
Selain menghadirkan narasumber kedua PT. AR juga menghadirkan Parman Sitanggang dari Tim Patrol Area Preservasi dan Operasi, Yusuf dari Tim Stasiun Riset, serta Abdi Paruntungan dari Tim Patrol Area Preservasi
. Yang menyampaikan pengalaman kerjanya selama memantau perkembangan keanekaragaman hayati di Ekosistem Batang Toru.
Hadir juga pada kegiatan itu Manager Public Relations PTAR, Reni Radhan bersama tim public Relation PT AR, LSM lingkungan dan rekan rekan jurnalis dari wilayah Tabagsel.(EN)
Red








