spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeUncategorisedRenungan Di Balik Gelap Dan Terang

Related Posts

Featured Artist

Renungan Di Balik Gelap Dan Terang


Global Cyber News.Com. -Hidup tidak selalu dihadirkan dalam bentuk yang kita sukai. Ada terang dan gelap, sehat dan sakit, pertemuan dan perpisahan, keberhasilan dan kegagalan, juga penantian dan ketidakpastian. Semua itu bukan berarti Allah membiarkan manusia tanpa arah, melainkan menjadi bagian dari ruang pendidikan jiwa agar manusia mengenal nikmat, bersabar, bersyukur, rendah hati, dan semakin dekat kepada-Nya.

Mengapa Tuhan tidak menciptakan dunia ini hanya berisi kebaikan? Mengapa harus ada sakit, kehilangan, kegagalan, kesedihan, dan penantian? Pertanyaan seperti ini sering muncul ketika seseorang sedang berada dalam keadaan sulit. Ketika hati sedang terluka, kita mudah melihat kesulitan sebagai sesuatu yang semata-mata buruk. Padahal, dalam pandangan iman, tidak semua yang terasa buruk bagi manusia benar-benar buruk di hadapan Allah. Ada hikmah yang baru dapat dipahami setelah seseorang melewati suatu peristiwa dengan sabar dan tawakal.

Allah mengingatkan bahwa manusia akan diuji. Ujian bukan tanda bahwa Allah membenci seseorang. Justru kehidupan dunia memang diciptakan sebagai tempat ujian untuk memperlihatkan siapa yang paling baik amalnya. Allah berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya: “Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

Perhatikan, Allah tidak mengatakan bahwa manusia diuji hanya dengan kesulitan. Kebaikan juga merupakan ujian. Kekayaan adalah ujian. Kesehatan adalah ujian. Jabatan adalah ujian. Keluarga adalah ujian. Bahkan waktu luang adalah ujian. Kesulitan menguji kesabaran, sedangkan kenikmatan menguji kesyukuran. Karena itu, seorang mukmin tidak hanya dituntut mampu bertahan ketika berada dalam kesusahan, tetapi juga mampu tetap rendah hati ketika berada dalam kelapangan.

Tanpa gelap, mungkin manusia tidak akan memahami betapa berharganya terang. Seseorang yang selalu sehat terkadang baru benar-benar memahami nikmat kesehatan ketika tubuhnya sakit. Orang yang setiap hari bersama keluarganya kadang baru menyadari mahalnya kebersamaan setelah sebuah perpisahan terjadi. Demikian pula seseorang yang pernah gagal biasanya memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang arti keberhasilan daripada orang yang selalu memperoleh apa yang diinginkannya tanpa perjuangan.

Namun, memahami hikmah bukan berarti kita harus mencari-cari penderitaan. Islam tidak mengajarkan manusia untuk mencintai kesulitan, apalagi sengaja mencelakakan diri. Islam mengajarkan agar ketika kesulitan datang, kita menghadapinya dengan sabar, ikhtiar, doa, dan tawakal. Kesulitan tidak boleh membuat kita kehilangan harapan kepada Allah.

Allah berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6)

Ayat ini mengajarkan sebuah cara pandang yang sangat penting. Allah tidak mengatakan bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan, tetapi menyatakan bahwa bersama kesulitan terdapat kemudahan. Artinya, bahkan ketika seseorang masih berada dalam keadaan sulit, boleh jadi Allah telah menyisipkan berbagai bentuk kemudahan yang belum ia sadari. Bisa jadi kesulitan membuatnya lebih dekat kepada Allah. Bisa jadi sakit membuatnya lebih banyak berdoa. Bisa jadi kehilangan membuatnya belajar melepaskan ketergantungan kepada selain Allah. Bisa jadi kegagalan menyelamatkannya dari kesombongan. Bisa jadi penantian sedang membentuk kedewasaan yang diperlukan untuk menerima sesuatu pada waktu yang paling tepat.

Sakit, misalnya, tidak selalu hanya berbicara tentang tubuh yang lemah. Sakit dapat menjadi pengingat bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas. Selama sehat, seseorang dapat merasa mampu melakukan apa saja. Tetapi ketika tubuh melemah, ia menyadari bahwa kemampuan manusia pada akhirnya bergantung kepada kehendak Allah. Dari situlah lahir kerendahan hati.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Artinya: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa luas rahmat Allah. Bahkan sesuatu yang sangat kecil seperti tertusuk duri dapat menjadi sebab penghapusan dosa apabila dihadapi dalam keimanan. Maka jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa sebuah penderitaan tidak memiliki nilai. Boleh jadi sesuatu yang kita anggap sebagai luka justru menjadi jalan menuju ampunan.

Demikian pula perpisahan. Tidak semua orang yang pergi harus kita benci, dan tidak semua kehilangan harus kita pahami sebagai hukuman. Ada manusia yang hadir untuk menjadi bagian dari perjalanan kita, lalu pergi ketika waktunya selesai. Ada pertemuan yang hanya berlangsung sebentar tetapi meninggalkan pelajaran sepanjang hidup. Ada pula perpisahan yang menyakitkan, tetapi melalui perpisahan itu Allah mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia yang boleh menjadi tempat bergantung secara mutlak selain Dia.

Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat ini mengajarkan bahwa dunia bukan tempat untuk memperoleh seluruh kesempurnaan. Dunia adalah tempat perjalanan. Karena itu, jangan menuntut kehidupan dunia untuk selalu sempurna. Jangan berharap semua orang akan selalu tinggal. Jangan berharap kesehatan tidak pernah terganggu. Jangan berharap rencana selalu berhasil. Jangan berharap setiap doa dikabulkan dalam bentuk yang kita bayangkan. Kesempurnaan bukan milik dunia. Kesempurnaan adalah milik kehidupan akhirat yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa.

Kegagalan pun memiliki pelajaran. Manusia sering mengira bahwa keberhasilan adalah bukti dirinya hebat, sedangkan kegagalan adalah bukti dirinya tidak mampu. Padahal, keduanya dapat menjadi ujian. Keberhasilan dapat melahirkan kesombongan jika tidak disertai syukur. Kegagalan dapat melahirkan keputusasaan jika tidak disertai iman. Karena itu, yang paling penting bukan sekadar apakah kita menang atau kalah, tetapi bagaimana sikap hati kita ketika menghadapi keduanya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya: “Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin. Sesungguhnya seluruh perkaranya adalah kebaikan baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Jika mendapat kesusahan, ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Inilah keindahan iman. Bukan berarti seorang mukmin tidak pernah menangis. Bukan berarti ia tidak boleh merasa sedih. Bukan berarti ia harus selalu terlihat kuat. Seorang mukmin boleh terluka, boleh menangis, boleh mengeluh kepada Allah, tetapi ia tidak boleh kehilangan keyakinan bahwa Allah mengetahui apa yang sedang dialaminya.

Kesedihan juga dapat menjadi jalan menuju kedewasaan. Seseorang yang belum pernah merasakan kehilangan mungkin sulit memahami orang lain yang sedang berduka. Seseorang yang belum pernah mengalami kegagalan mungkin mudah menghakimi orang yang jatuh. Tetapi setelah dirinya merasakan pahitnya kehidupan, biasanya hatinya menjadi lebih lembut. Ia belajar bahwa manusia tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Kadang seseorang hanya membutuhkan kehadiran, pengertian, dan doa.

Karena itu, jangan gunakan pengalaman pahit untuk menjadi orang yang pahit. Gunakan pengalaman pahit untuk menjadi manusia yang lebih lembut. Jangan biarkan luka menjadikan kita pembenci. Jadikan luka sebagai pintu untuk memahami. Jangan biarkan kegagalan menjadikan kita rendah diri. Jadikan kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar. Jangan biarkan penantian membuat kita putus asa. Jadikan penantian sebagai latihan untuk percaya kepada ketetapan Allah.

Allah berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini mengajarkan kerendahan hati di hadapan takdir. Kita hanya melihat satu halaman, sedangkan Allah mengetahui seluruh kitab kehidupan kita. Kita mengetahui apa yang terjadi hari ini, sedangkan Allah mengetahui apa yang akan terjadi bertahun-tahun kemudian. Kita sering menilai sesuatu berdasarkan perasaan sesaat, sedangkan Allah mengetahui akibatnya secara sempurna.

Maka, ketika doa belum terkabul, jangan buru-buru mengatakan Allah tidak mendengar. Ketika rencana gagal, jangan buru-buru mengatakan Allah tidak sayang. Ketika seseorang pergi, jangan buru-buru menganggap hidup telah kehilangan makna. Ketika jalan terasa panjang, jangan mengira Allah sedang meninggalkan kita.

Bisa jadi Allah sedang memindahkan kita dari sesuatu yang kita inginkan menuju sesuatu yang lebih kita butuhkan. Bisa jadi Allah sedang menunda karena hati kita belum siap. Bisa jadi Allah sedang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari memiliki sesuatu, tetapi dari kemampuan menerima ketetapan-Nya dengan hati yang lapang.

Penantian adalah sekolah kesabaran. Dalam penantian, manusia belajar bahwa tidak semua hal dapat dipaksa datang sesuai jadwalnya sendiri. Ada waktu yang ditentukan Allah. Benih tidak langsung menjadi pohon. Bayi tidak langsung menjadi dewasa. Fajar tidak muncul sebelum malam menyelesaikan waktunya. Demikian pula banyak doa memerlukan proses sebelum kita melihat jawabannya.

Tetapi sabar bukan berarti pasif. Sabar berarti tetap berada di jalan yang benar meskipun hasil belum terlihat. Sabar berarti tetap berusaha ketika keadaan sulit. Sabar berarti tetap berdoa ketika jawaban belum datang. Sabar berarti tidak mengambil jalan yang haram hanya karena jalan yang halal terasa lambat.

Pada akhirnya, kehidupan bukan tentang bagaimana menghapus seluruh gelap dari perjalanan kita. Kehidupan adalah tentang bagaimana membawa cahaya iman ketika berada di dalam gelap. Kita mungkin tidak mampu memilih semua keadaan yang datang, tetapi kita dapat memilih bagaimana menyikapinya.

Jika diberi kesehatan, bersyukurlah. Jika diberi sakit, bersabarlah dan berikhtiarlah. Jika diberi keberhasilan, jangan sombong. Jika mengalami kegagalan, jangan menyerah. Jika bertemu seseorang, hargailah. Jika harus berpisah, doakanlah. Jika memperoleh kelapangan, gunakanlah untuk kebaikan. Jika menghadapi kesempitan, jangan tinggalkan Allah. Jika harus menunggu, percayalah bahwa ketetapan Allah tidak pernah terlambat.

Sebab boleh jadi sesuatu yang hari ini membuat kita menangis kelak menjadi alasan kita bersyukur. Boleh jadi jalan yang hari ini terasa berat justru membawa kita kepada tempat yang lebih baik. Boleh jadi kegagalan yang membuat kita kecewa sedang menyelamatkan kita dari kesombongan. Boleh jadi penantian yang panjang sedang mempersiapkan hati untuk menerima karunia yang jauh lebih indah.

Maka jangan hanya bertanya, “Mengapa Allah memberikan ini kepadaku?” Belajarlah bertanya, “Apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku melalui semua ini?”

Pertanyaan kedua akan mengubah cara kita memandang kehidupan. Kita tidak lagi sekadar menjadi manusia yang mencari kenyamanan, tetapi menjadi hamba yang mencari hikmah. Kita tidak hanya mengejar hidup yang mudah, tetapi berusaha menjadi pribadi yang kuat, sabar, bersyukur, rendah hati, dan dekat kepada Allah.

Barangkali itulah salah satu rahasia mengapa dunia tidak diciptakan hanya dengan kebaikan menurut ukuran manusia. Karena melalui berbagai keadaan, Allah mendidik jiwa. Terang mengajarkan syukur. Gelap mengajarkan sabar. Pertemuan mengajarkan penghargaan. Perpisahan mengajarkan keikhlasan. Kesehatan mengajarkan syukur. Sakit mengajarkan kelemahan diri. Keberhasilan mengajarkan kerendahan hati. Kegagalan mengajarkan ketekunan. Penantian mengajarkan tawakal.

Dan di antara semuanya, seorang mukmin belajar satu hal yang paling penting: apa pun keadaan yang sedang dijalani, jangan pernah kehilangan Allah.

Sebab selama hati masih menggantungkan harapan kepada-Nya, gelap tidak akan pernah benar-benar gelap. Akan selalu ada cahaya iman yang menuntun langkah. Akan selalu ada ruang untuk berdoa. Akan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Dan akan selalu ada keyakinan bahwa di balik setiap ketetapan Allah terdapat ilmu, hikmah, dan kasih sayang yang jauh melampaui kemampuan manusia untuk memahami seluruhnya.

Red

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts