
Global Cyber News.Com. -Kemerdekaan sejati bukan hanya terbebas dari penjajahan, melainkan terbebas dari keserakahan, kebohongan, kezaliman, dan ketidakadilan. Sebuah bangsa belum sepenuhnya merdeka apabila sebagian orang hidup berlebihan sementara yang lain kehilangan hak. Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan harus melahirkan amanah, kejujuran, keadilan, kepedulian, dan keberanian membela kebenaran demi kemaslahatan seluruh manusia tanpa membedakan kedudukan dan kekayaan.
Kemerdekaan adalah nikmat besar yang patut disyukuri. Namun rasa syukur tidak cukup diwujudkan dengan mengibarkan bendera, mengikuti upacara, atau mengucapkan kata-kata tentang perjuangan. Kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi perilaku yang menjaga martabat manusia. Sebab sebuah negeri dapat merdeka secara politik, tetapi masyarakatnya masih dapat terbelenggu oleh ketidakadilan, kemiskinan, korupsi, kebohongan, kesewenang-wenangan, dan keserakahan.
Islam memberikan tuntunan yang sangat jelas bahwa amanah dan keadilan merupakan bagian penting dari kehidupan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 58:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa amanah dan keadilan bukan sekadar nilai sosial, melainkan perintah Allah. Amanah berarti menjalankan sesuatu sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan. Jabatan adalah amanah. Kekuasaan adalah amanah. Kekayaan adalah amanah. Ilmu adalah amanah. Bahkan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki seseorang juga merupakan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Karena itu, kemerdekaan akan kehilangan maknanya apabila jabatan digunakan untuk memperkaya diri, kekuasaan dipakai untuk menekan orang lain, dan kepercayaan masyarakat disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Orang yang diberi amanah seharusnya memahami bahwa kedudukan bukanlah tempat untuk menikmati keistimewaan tanpa batas, tetapi tanggung jawab untuk memberikan pelayanan dan menghadirkan kemaslahatan.
Allah juga menegaskan dalam Surah An-Nahl ayat 90:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl: 90)
Ayat ini seakan mengingatkan bahwa ukuran kemajuan masyarakat bukan semata-mata pembangunan fisik. Gedung boleh tinggi, jalan boleh lebar, teknologi boleh semakin maju, dan ekonomi boleh berkembang, tetapi apabila keadilan semakin jauh, maka ada sesuatu yang belum selesai dalam perjalanan sebuah bangsa.
Keadilan berarti memberikan hak kepada yang berhak. Keadilan tidak boleh hanya berlaku kepada orang yang kita sukai. Keadilan juga tidak boleh berhenti ketika berhadapan dengan orang kaya, orang berkuasa, keluarga sendiri, kelompok sendiri, atau orang yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Keadilan harus tetap ditegakkan meskipun keputusan tersebut terasa berat bagi diri sendiri.
Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 8:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, ketika menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Perhatikan pesan yang sangat dalam tersebut. Allah tidak mengatakan bahwa kita harus berlaku adil hanya kepada orang yang kita cintai. Bahkan ketika kita membenci seseorang atau suatu kelompok, kebencian itu tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan ketidakadilan. Ini merupakan tuntunan yang sangat tinggi. Manusia sering kali mudah berlaku adil kepada orang yang menguntungkannya, tetapi sulit berlaku adil kepada orang yang berbeda pandangan, berbeda kepentingan, atau pernah menyakitinya.
Dalam kehidupan berbangsa, prinsip ini sangat penting. Jangan sampai semangat membela kelompok membuat kita membenarkan kesalahan. Jangan sampai kecintaan kepada tokoh membuat kita menutup mata terhadap penyimpangan. Jangan sampai kepentingan politik membuat kita menganggap kebohongan sebagai kebenaran. Jangan sampai seseorang dianggap benar hanya karena ia berada di pihak yang kita dukung.
Kebenaran tidak menjadi benar karena banyak orang membelanya. Kesalahan juga tidak berubah menjadi kebenaran hanya karena dilakukan oleh orang yang kita kagumi. Seorang Muslim harus menempatkan kebenaran lebih tinggi daripada kepentingan pribadi dan kelompok.
Rasulullah saw. memberikan peringatan keras tentang bahaya ketidakadilan. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah saw. bersabda:
يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي، وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا، فَلَا تَظَالَمُوا
Artinya: “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kezaliman bukan perkara kecil. Kezaliman dapat muncul dalam berbagai bentuk. Mengambil hak orang lain adalah kezaliman. Menipu adalah kezaliman. Mengurangi timbangan adalah kezaliman. Menahan upah seseorang tanpa alasan yang benar adalah kezaliman. Memfitnah orang yang tidak bersalah adalah kezaliman. Menggunakan kekuasaan untuk menekan pihak yang lemah juga merupakan kezaliman.
Karena itu, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak berhenti ketika penjajah telah pergi. Perjuangan berikutnya adalah membebaskan kehidupan dari berbagai bentuk kezaliman yang muncul dari dalam diri manusia sendiri. Musuh terbesar sebuah masyarakat tidak selalu datang dari luar. Keserakahan, kebohongan, iri hati, penyalahgunaan kekuasaan, dan hilangnya rasa malu dapat merusak sebuah bangsa dari dalam.
Rasulullah saw. juga mengingatkan bahwa kejujuran memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
Artinya: “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang senantiasa berkata benar dan berusaha untuk berkata jujur hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya kebohongan membawa kepada kejahatan, dan kejahatan membawa kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta hingga ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut memperlihatkan bahwa kejujuran bukan hanya persoalan ucapan. Kejujuran adalah jalan hidup. Orang yang membiasakan kejujuran sedang membangun karakter dirinya sedikit demi sedikit. Sebaliknya, orang yang membiasakan kebohongan sedang membangun jalan menuju kerusakan, meskipun pada awalnya kebohongan itu tampak kecil dan dianggap tidak berbahaya.
Merdeka dari penjajahan akan terasa indah apabila manusia juga merdeka dari kebiasaan berdusta. Sebab kebohongan dapat merampas hak orang lain tanpa suara. Kebohongan dapat menghancurkan kepercayaan, memecah persaudaraan, merusak reputasi, dan membuat masyarakat tidak lagi mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.
Kita juga harus memahami bahwa keserakahan merupakan salah satu penyakit yang dapat menghilangkan rasa syukur. Orang yang serakah tidak pernah merasa cukup. Ketika memiliki sedikit, ia ingin lebih banyak. Ketika memiliki banyak, ia masih merasa kurang. Ketika sudah mendapatkan jabatan, ia mengejar kekuasaan yang lebih besar. Ketika sudah memperoleh kekayaan, ia masih ingin menguasai milik orang lain.
Padahal Allah telah mengingatkan dalam Surah Al-Hadid ayat 20:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukan berarti Islam melarang manusia menjadi kaya atau menikmati kehidupan. Islam justru mengajarkan manusia untuk mencari rezeki yang halal dan memanfaatkannya untuk kebaikan. Yang dilarang adalah ketika harta menguasai hati, sehingga manusia menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Maka, pada momentum kemerdekaan, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi manusia yang merdeka? Merdeka dari kebencian? Merdeka dari iri hati? Merdeka dari kebohongan? Merdeka dari keserakahan? Merdeka dari keinginan mengambil sesuatu yang bukan hak kita? Merdeka dari keinginan menguasai orang lain?
Seseorang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya sebenarnya sedang menikmati bentuk kemerdekaan yang sangat tinggi. Ia tidak diperbudak oleh keinginan. Ia tidak mudah menjual prinsip demi uang. Ia tidak mengorbankan kejujuran demi jabatan. Ia tidak menggadaikan kehormatan demi keuntungan sesaat. Ia mampu berkata cukup ketika sesuatu yang diperolehnya sudah halal dan menjadi haknya.
Kemerdekaan seperti inilah yang perlu terus diperjuangkan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki sumber daya alam melimpah, teknologi maju, dan kekuatan ekonomi, tetapi bangsa yang masyarakatnya memiliki akhlak. Tanpa akhlak, ilmu dapat disalahgunakan. Tanpa kejujuran, kekuasaan dapat menjadi alat penindasan. Tanpa keadilan, pembangunan dapat memperlebar kesenjangan. Tanpa kepedulian, kemajuan hanya dinikmati oleh sebagian orang.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 188:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188)
Ayat tersebut sangat relevan dengan kehidupan masyarakat. Harta yang diperoleh melalui jalan yang batil mungkin dapat membuat seseorang terlihat berhasil di hadapan manusia, tetapi tidak akan mendatangkan keberkahan. Apa yang dibangun dengan ketidakjujuran pada akhirnya akan meninggalkan persoalan, baik di dunia maupun di akhirat.
Karena itu, perjuangan ke depan harus dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan kita. Jadilah orang tua yang jujur kepada anak. Jadilah pedagang yang tidak mengurangi timbangan. Jadilah pekerja yang bertanggung jawab. Jadilah pemimpin yang amanah. Jadilah warga yang tidak mudah menyebarkan berita palsu. Jadilah orang yang berani mengakui kesalahan. Jadilah tetangga yang peduli. Jadilah manusia yang tidak mengambil hak orang lain.
Jangan menunggu menjadi pejabat untuk belajar amanah. Jangan menunggu menjadi orang kaya untuk belajar berbagi. Jangan menunggu memiliki kekuasaan untuk belajar adil. Jangan menunggu menjadi tokoh masyarakat untuk belajar menjaga ucapan. Perubahan bangsa sesungguhnya dimulai dari perubahan manusia, dan perubahan manusia dimulai dari hati.
Rasulullah saw. bersabda:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang pelayan adalah pemimpin atas harta majikannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa tanggung jawab bukan hanya milik pemimpin negara. Setiap manusia memiliki wilayah amanahnya masing-masing. Seorang ayah bertanggung jawab terhadap keluarganya. Seorang ibu bertanggung jawab terhadap amanah yang berada dalam pengurusannya. Guru bertanggung jawab terhadap ilmu yang diajarkannya. Pedagang bertanggung jawab terhadap barang dan transaksi yang dilakukannya. Pejabat bertanggung jawab terhadap rakyat dan kewenangannya.
Maka jangan pernah merasa bahwa perbuatan kecil tidak berarti. Satu kejujuran dapat menyelamatkan seseorang. Satu keputusan yang adil dapat mengubah kehidupan orang lain. Satu bantuan dapat mengangkat beban keluarga. Satu ucapan yang baik dapat menguatkan hati seseorang yang sedang hampir menyerah.
Begitu pula sebaliknya, satu kebohongan dapat melahirkan kebohongan berikutnya. Satu tindakan zalim dapat menimbulkan penderitaan panjang. Satu penyalahgunaan amanah dapat merusak kepercayaan banyak orang. Karena itu, setiap manusia perlu menjaga dirinya sebelum menuntut orang lain untuk berubah.
Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika hukum tidak hanya tajam kepada yang lemah dan tumpul kepada yang kuat. Kemerdekaan adalah ketika orang miskin tetap memiliki hak untuk dihormati. Kemerdekaan adalah ketika orang kaya tidak merasa berhak membeli kebenaran. Kemerdekaan adalah ketika jabatan digunakan untuk melayani, bukan untuk menindas. Kemerdekaan adalah ketika kekayaan menjadi sarana berbagi, bukan alat untuk menguasai.
Kemerdekaan juga berarti keberanian untuk mengatakan benar sebagai benar dan salah sebagai salah, sekalipun kebenaran itu tidak menguntungkan diri sendiri. Inilah keberanian moral yang semakin dibutuhkan dalam kehidupan modern. Kita hidup pada zaman ketika informasi bergerak sangat cepat, tetapi kebenaran sering kali bergerak lebih lambat. Karena itu, seorang Muslim harus memiliki kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Pesan ini sangat penting di zaman media sosial. Jangan menjadikan jari sebagai alat untuk menyebarkan fitnah. Jangan meneruskan berita hanya karena sesuai dengan pendapat kita. Jangan membagikan tuduhan sebelum mengetahui kebenarannya. Kemerdekaan berbicara bukan berarti bebas menyakiti orang lain. Kebebasan berpendapat harus berjalan bersama tanggung jawab dan akhlak.
Pada akhirnya, perjuangan belum selesai selama masih ada manusia yang kehilangan haknya karena keserakahan. Perjuangan belum selesai selama kejujuran dianggap sebagai kelemahan dan kebohongan dianggap sebagai kecerdikan. Perjuangan belum selesai selama jabatan dipandang sebagai kesempatan memperkaya diri. Perjuangan belum selesai selama orang lemah takut mencari keadilan.
Namun perubahan tidak boleh hanya menjadi tuntutan kepada orang lain. Kita harus memulainya dari diri sendiri. Jika ingin masyarakat jujur, jadilah pribadi yang jujur. Jika ingin pemimpin amanah, kita juga harus amanah terhadap tanggung jawab kecil. Jika ingin keadilan ditegakkan, jangan melakukan ketidakadilan ketika kita memiliki kesempatan.
Merdeka bukan sekadar melihat bendera berkibar di langit. Merdeka adalah melihat manusia dapat hidup dengan martabat. Merdeka adalah ketika kejujuran dihargai, keadilan ditegakkan, amanah dijaga, orang lemah dilindungi, dan kekayaan tidak membuat seseorang kehilangan rasa kemanusiaan.
Semoga kemerdekaan yang kita nikmati menjadi jalan untuk semakin mendekat kepada Allah. Semoga negeri ini dipenuhi manusia yang jujur, pemimpin yang amanah, masyarakat yang saling menghormati, dan generasi yang tidak hanya cerdas tetapi juga berakhlak. Sebab kemerdekaan yang paling indah bukanlah kebebasan melakukan apa saja, melainkan kebebasan untuk memilih kebenaran, menahan hawa nafsu, menunaikan amanah, menegakkan keadilan, dan hidup dalam keridaan Allah.
Marilah kita menjadikan peringatan kemerdekaan sebagai kesempatan untuk melakukan muhasabah. Sudahkah tangan kita bersih dari mengambil hak orang lain? Sudahkah lisan kita bersih dari kebohongan? Sudahkah hati kita bersih dari keserakahan? Sudahkah jabatan, pekerjaan, ilmu, harta, dan keluarga kita perlakukan sebagai amanah?
Jika jawabannya belum, masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Selama Allah memberikan umur, pintu taubat tetap terbuka. Selama hati masih berdenyut, manusia masih dapat memilih jalan yang lebih baik. Dan selama kita mau kembali kepada Allah, perjuangan menuju kehidupan yang lebih adil tidak pernah sia-sia.
Sebab pada akhirnya, manusia bukan dinilai dari seberapa tinggi kedudukannya, seberapa banyak hartanya, atau seberapa besar pengaruhnya, tetapi dari bagaimana ia menggunakan semua itu untuk menjalankan amanah. Kemerdekaan yang dirayakan dengan syukur harus dilanjutkan dengan akhlak. Kebebasan harus disertai tanggung jawab. Kekuasaan harus disertai keadilan. Kekayaan harus disertai kepedulian. Dan kehidupan harus selalu diarahkan kepada pengabdian kepada Allah.
Itulah perjuangan yang tidak boleh berhenti. Perjuangan menjaga kejujuran ketika kebohongan lebih menguntungkan. Perjuangan menegakkan keadilan ketika keberpihakan lebih mudah. Perjuangan menolak keserakahan ketika dunia menawarkan kenikmatan tanpa batas. Dan perjuangan menjaga hati agar tetap takut kepada Allah ketika manusia tidak melihat apa yang kita lakukan.
Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang memaknai kemerdekaan dengan benar: bukan sekadar bebas dari penjajahan, tetapi juga berusaha membebaskan diri dan masyarakat dari kezaliman, kebohongan, keserakahan, dan ketidakadilan. Karena bangsa yang merdeka membutuhkan manusia yang merdeka jiwanya, bersih tangannya, jujur lisannya, amanah tanggung jawabnya, dan adil dalam setiap keputusan. Itulah kemerdekaan yang bernilai di dunia sekaligus menjadi bekal untuk mempertanggungjawabkan kehidupan di hadapan Allah.
Red








