
Oleh: Ramni Riyadi
Kepala Biro Global Cyber News di Barito Selatan
Global Cyber News.Com. -Jauh sebelum Nabi Adam alaihissalam diciptakan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan makhluk dari golongan jin. Dalam berbagai riwayat keislaman dikisahkan bahwa di antara mereka terdapat sosok yang dikenal memiliki ilmu dan ibadah yang tinggi, yaitu Iblis.
Namun, kemuliaan yang diperoleh karena ilmu dan ibadah tidak menjadi jaminan bagi seseorang untuk selamanya berada di jalan kebenaran.
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adam alaihissalam sebagai bentuk penghormatan sesuai perintah-Nya, Iblis menolak. Ia diliputi kesombongan dan merasa dirinya lebih tinggi karena diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah.
Dari sinilah kita dapat mengambil sebuah pelajaran besar: kesombongan dapat meruntuhkan kemuliaan, sementara ilmu dan ibadah tanpa kerendahan hati serta ketaatan dapat kehilangan maknanya.
Ibrah dan Bahan Renungan untuk Kita Semua
Kisah tersebut bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Ia merupakan cermin bagi manusia dalam menjalani kehidupan.
Seseorang boleh memiliki ilmu yang tinggi. Seseorang boleh dikenal rajin beribadah. Seseorang boleh memiliki kedudukan, jabatan, kekayaan, bahkan pengaruh yang besar.
Namun, semua itu akan kehilangan nilai apabila tidak disertai dengan kejujuran, amanah, kerendahan hati, kepedulian, dan keberanian untuk menegakkan kebenaran.
Jangan Membiarkan Kebatilan Menjadi Kebiasaan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita terkadang menyaksikan penyelewengan, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, atau hak masyarakat kecil yang terabaikan.
Pada saat seperti itu, kita patut bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kita diam karena memang tidak mengetahui?
Ataukah kita mengetahui, tetapi memilih diam karena takut kehilangan kenyamanan?
Apakah kita tidak berani bersuara karena mempertimbangkan kepentingan pribadi?
Dan yang paling penting:
Apakah keberanian moral kita masih hidup ketika berhadapan dengan kepentingan dan kekuasaan?
Diam dalam keadaan tertentu memang dapat menjadi pilihan yang bijaksana. Tetapi ketika diam justru membiarkan ketidakadilan terus berlangsung, maka hati nurani kita patut kembali diperiksa.
Menjadi Orang Baik Tidak Cukup Hanya dengan Diam
Menjadi orang baik bukan hanya tentang bagaimana seseorang menjaga dirinya sendiri.
Kebaikan juga tercermin dari kepedulian terhadap sesama.
Ketika ada masyarakat kecil yang kesulitan mendapatkan haknya, ketika ada orang lemah yang membutuhkan pembelaan, atau ketika terjadi persoalan yang menyangkut kepentingan publik, keberanian untuk menyampaikan kebenaran secara santun dan bertanggung jawab merupakan bagian dari tanggung jawab moral.
Bukan berarti setiap persoalan harus diselesaikan dengan kemarahan.
Bukan pula berarti setiap tuduhan harus langsung dianggap sebagai kebenaran.
Justru, keberanian moral harus berjalan bersama fakta, tabayun, keadilan, dan tanggung jawab.
Tanggung Jawab Moral Bangsa Indonesia
Indonesia adalah bangsa yang besar dengan masyarakat yang beragam. Karena itu, kehidupan berbangsa membutuhkan bukan hanya orang-orang pintar, tetapi juga manusia yang memiliki integritas dan kepedulian terhadap sesama.
Keimanan tidak semata-mata tercermin dalam ibadah personal di atas sajadah. Nilai-nilai keimanan juga dapat tercermin dalam perilaku kita ketika berada di tengah masyarakat: jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbuat curang, adil ketika memiliki kekuasaan, rendah hati ketika memiliki kedudukan, dan berani menyuarakan kebenaran ketika melihat ketidakadilan.
Pada akhirnya, setiap orang akan mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya.
Karena itu, sebelum kita sibuk menilai kesalahan orang lain, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah ilmu membuat kita semakin rendah hati?
Sudahkah ibadah membuat kita semakin peduli kepada sesama?
Sudahkah kedudukan membuat kita semakin amanah?
Dan ketika melihat ketidakadilan, di manakah posisi hati nurani kita?
Semoga kisah tentang kesombongan Iblis menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa ilmu tanpa kerendahan hati dapat menyesatkan, ibadah tanpa akhlak dapat kehilangan makna, dan keberanian tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesombongan.
Semoga kita semua senantiasa diberikan kekuatan untuk menjaga iman, menjunjung kebenaran, berlaku adil, serta tetap berpihak kepada nilai-nilai kemanusiaan dan kemaslahatan bersama.
Semoga renungan ini menjadi bahan introspeksi bagi kita semua, sebagai pribadi, sebagai masyarakat, dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
Dipersembahkan oleh:
Global Cyber News di Barito Selatan
Ditulis oleh:
Ramni Riyadi
Kepala Biro Global Cyber News di Barito Selatan
Red










