
Global Cyber News.Com. -Tidak semua anak dibesarkan oleh rumah yang hangat. Ada yang belajar dewasa melalui bentakan, penghinaan, pengabaian, bahkan perlakuan yang meninggalkan luka bertahun-tahun. Namun masa lalu bukanlah vonis atas masa depan. Islam mengajarkan bahwa manusia tetap memiliki jalan untuk memilih kebaikan, memulihkan hati, memaafkan tanpa membenarkan kezaliman, dan menghentikan luka agar tidak diwariskan kepada generasi berikutnya dengan penuh kesadaran.
Ada luka yang tidak terlihat oleh mata. Seseorang dapat tersenyum, bekerja, bercanda, bahkan terlihat kuat, sementara di dalam dirinya masih tersimpan perkataan yang merendahkan atau perlakuan buruk yang diterimanya sejak kecil. Allah mengetahui seluruhnya, termasuk tangis yang dahulu tidak diketahui siapa pun. Allah berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’: 70)
Ayat ini mengingatkan bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh bagaimana manusia dahulu memperlakukannya. Kehormatan manusia berasal dari Allah. Karena itu, perkataan yang pernah merendahkanmu tidak otomatis menjadi kebenaran tentang dirimu. Perlakuan kasar yang pernah diterima pun tidak memberikan kewajiban untuk mengulanginya kepada orang lain.
Inilah perjuangan besar: jangan sampai orang yang pernah disakiti kemudian menjadi orang yang menyakiti. Jangan sampai bentakan yang dahulu dibenci berubah menjadi bentakan kepada anak sendiri. Jangan sampai penghinaan yang pernah membuat hati menangis diwariskan kepada pasangan dan keluarga. Allah berfirman:
وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۗاِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ
“Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.” (QS. Fussilat: 34)
Membalas keburukan dengan kebaikan bukan berarti membiarkan diri terus dizalimi. Kita boleh menjaga jarak, membuat batas yang sehat, mencari pertolongan, dan melindungi diri. Memaafkan juga tidak berarti menyatakan bahwa perbuatan salah menjadi benar. Memaafkan adalah usaha membebaskan hati agar masa lalu tidak terus mengendalikan masa depan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka ketika engkau mampu menahan tangan yang dahulu pernah dipukul, menjaga lisan yang dahulu pernah dibentak, dan memeluk anakmu ketika dahulu engkau jarang dipeluk, di situlah sebuah rantai luka sedang diputus. Engkau sedang membangun sesuatu yang mungkin tidak pernah engkau dapatkan: rumah yang menghadirkan rasa aman.
Allah juga mengingatkan:
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى
“Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)
Jangan memikul kesalahan orang lain sebagai identitas dirimu. Ambillah pelajaran dari masa lalu, bukan racunnya. Jika dahulu kekurangan kasih sayang, jadilah manusia yang menghadirkan kasih sayang. Jika dahulu sering direndahkan, belajarlah memuliakan. Jika dahulu rumah terasa menakutkan, bangunlah rumah yang membuat anak-anak merasa aman untuk pulang.
Luka mungkin menjadi bagian dari perjalananmu, tetapi ia tidak harus menjadi warisanmu. Biarkan kepedihan berhenti pada dirimu dan kebaikan bermula darimu. Putuskan rantainya dengan sabar, ilmu, doa, pertolongan yang tepat, dan kasih sayang. Sebab kemenangan terbesar bukanlah membalas mereka yang pernah melukai, melainkan memastikan orang-orang setelah kita tidak perlu merasakan luka yang sama.
Red










