spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeUncategorised*Ambisi dan Egosentris Yang Berlebih Pertanda Intelektualitas dan Spritualitas Yang Belum Matang*

Related Posts

Featured Artist


*Ambisi dan Egosentris Yang Berlebih Pertanda Intelektualitas dan Spritualitas Yang Belum Matang*


Jacob Ereste :

Global Cyber news.com. -Ambisi yang berlebih dari keinginan yang melampau kemamuan diri, memang menjadi penyakit banyak orang, sehingga perilaku yang ganjil acap terjadi di luar kontrol diri yang norma, akibatnya jadi jadi terkesan apnormal. Dalam perspektif psikososial itulah konsekuenai dari over confiden yang tidak terkontrol. Sebab semua hasrat harus dapat dikendalikan, seperti emosi, nafsu, ambisi hingga sikap sabar yang tak kalah penting dan perlu dikelola secara rasional serta kesadaran spiritual yang tidak bisa diabaikan.

Ambisi yang berlebih itu tidak hanya bisa mencrlakakan diri sendiri yang dampaknya dapat berkaitan dengan pihak lain, hingga mungkin selalu merasa diabaikan lantaran mengumbar ambisi yang tak terkedalikan. Mulai dari ngobrol santai hingga diskusi dan berdebat secara akademik, sikap dan sifat ambisi akan selalu tampak bilamana abai pada etika yang berlaku dalam semua situasi untuk tetap menghargai pendapat orang lain.

Namun yang acap terjadi justru srbaliknya, bahkan ada kecenderungan mengabaikan pbicaraan hingga pendapat orang lain yang selalu dianggap salah, kecuali argumen dari apa dikatakan sendiri. Padahal, apa yang dikatakan sebagai pendapat atau argumen yang dikemukakan itu, bisa saja tidak cukup meyakinkan akan kebenatan atau cara dari penyampaian atau cara san teknis dari pmaparan argumen yang buruk.

Dalam pebyanpaian pendapat atau komentar memang tidak cuma perlu memenuhi tata bahasa yang baik dan benar, tetapi juga struktur logika, emosi bahkan intonasi yang patut mengindahkan tata krama dan etika serta teknis penyampaian yang ligis, sederhana dan gampang untuk dicerna. Tetapi akibat dari ambisi yang berlebih biasanya dapat mengabaikan semua itu, karena yang diusung oleh ambisi yang berlebih itu lebih mengutamakan eksistensi diri, kesan wah serta hasrat untuk memperoleh pengakuan lebih dari lawan bicara, karena cuma diharap untuk mengangguk-mengangguk kepala semata, kendati apa dimaksud dari anggukan kepala itu, sangat mungkin artinya menjadi pengukur ambisi yang tengah diumbar melebihi takaran yang tidak patut.

Realitas dari ambisi yang berlebihan ini seiring dengan egosentrisitas seperti bisa didaksikan dalam berbagai forum diskusi untuk saling berebut pasang omong, sementara kesediaan untuk memasang telinga nyaris tidak ada sama sekali. Kondisi psikologis serupa ini merupakan cermin dari ambisi dan sikap serta sifat egosentrisitas bawaan yang tidak matang secara akademik atau belum dewasa dalam perspektif spiritual yang tidak boleh jalah cerdas dari kemampuan intelektual untuk mencerna hal-hal yang ilmiah hingga masalah gaib — yang tersembunyi — karena berada di luar jangkauan akal, karena adanya hanya di dalam batin atau jiwa.

Dalam kontek inilah oleh raga, olah pikir dan oleh batin atau jiwa yang tidak terjangkau oleh akal dan daya lahar perlu mendapat tempat dan ruang di dalam lubuk hati. Sebab hanya dengan begitu sikap bijak dan ugahari mampu menjinakkan ambisi dan egisentris yang berlebih. Jadi, ambisi dan egosentrisitas yang berlebih, oertanda dari intelektualitas dan spiritualitas yang belum matang.

Banten, 15 Oktober 2026

Red

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts