
Jacob Ereste :
Global Cyber news.com. -Ketika Rocky Gerung yang terkenal kritis terhadap kebijakan pemerintah, tiba-tiba menerima ajakan nongkrong ngopi di Istana dengan fasilitas dan hak keuangan kisaran Rp 76,5 juta per bulan, banyak pengagumnya yang kecewa. Mereka merasa ditinggalkan oleh figur yang selama ini ditempatkan sebagai wakil suara rakyat.
Padahal rasa keterwakilan itu bersandar pada komitmen tidak tertulis. Terlalu cepat merasa memiliki hak untuk melarang seorang intelektual berpindah tempat ngopi dari warung ke Istana.
Bergesernya tempat duduk itu tidak perlu diratapi. Setiap orang berhak mendapat suasana baru yang dianggap lebih segar, dan lebih gampang untuk membisikkan suara rakyat yang lirih yang mungkin selama ini tidak pernah menjadi perhatian Presiden.
Konsistensi dan komitmen kaum pergerakan memang tidak memiliki delik sanksi hukum dan moral yang pasti. Pengujiannya sedang diproses oleh sang waktu. Walaupun kelak terbukti ada kisah pengkhianatan intelektual, sejarah tidak lalai mencatatnya.
Karena itu, percayalah pada nilai berlian. Dibawa masuk ke kandang keledai yang dungu sekalipun, ia tetap berlian. Makhluk yang paling pandir sekalipun masih bisa diharapkan berubah. Tapi manusia yang arif dan bijaksana justru diharapkan mampu mengubah yang dungu menjadi lebih baik.
Pecenongan, Oktober 2026
Red










