
Penulis: Dedi Supriadi, Suami Mantan Buruh Migran Syiria – Damaskus
Global Cyber News.Com| Awal mula cerita, saya tak mengenal kakak Rusdianto. Tetapi di penampungan KBRI Damaskus, kakak Rusdianto sangat dikenal. Semua petugas disana merasa was – was. Berawal dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bernama Ni’matolah asal Maronge, Sumbawa – NTB.
Saudara Ni’matolah berangkat tanpa restu suaminya. Dokumen dipalsukan, seperti Kartu Keluarga, KTP dan lain – lain. Setelah tiba di Damaskus melalui jalur penerbangan Turki – Damaskus. Ni’matolah langsung ditempatkan kerja (Red: Lupa wilayahnya). Kemudian, saudara Ni’matolah ini, jatuh dan sakit. Mengalami pembekakan pada punggung. Sakitnya itu sebenarnya sudah dari kampungnya.
Pengalaman banyak buruh migran yang direkrut secara ilegal. Modus operasi di lapangan dalam hal pengiriman pekerja secara ilegal, siapa aktor-aktor yang terlibat, siapa berperan sebagai apa. Selalu ada calo yang datang ke setiap desa, untuk membujuk warga desa terkait pekerjaan yang menggiurkan dengan gaji yang sangat menjanjikan.
Calo tersebut terus berusaha keras jika tawaran gaji besar tidak mempan menarik hati para calon PMI. Mereka memakai jurus kedua, yakni menggandeng oknum kepala desa setempat untuk manipulasi dokumen. Jika pengaruh dari calo untuk pengaruhi warga negara agar ikut menjadi pekerja kurang terlalu kuat, biasanya gandeng oknum kepala desa sebagai alat legitimasi sekaligus oknum kepala desa ini akan diajak kerjasama untuk melakukan manipulasi dokumen.
Lantas, keluarga Ni’matolah, terutama suami bekerja sekuat tenaga untuk memulangkan. Termasuk gandeng kerjasama dengan pengacara di Sumbawa. Membuat laporan ke Polisi. Melaporkan beberapa agensi di wilayah Sumbawa yang merekrut secara ilegal.
Namun, laporan tersebut, sangat lama sekali. Akhirnya, sang suami Ni’matolah meminta bantuan kakak Rusdianto yang waktu itu masih di Jakarta. Akhirnya, demi berbuat baik dan beramaliah serta mengabdi pada rakyat Sumbawa. Kakak Rusdianto pulang ke Sumbawa, secara khusus mendengar masalahnya dan kronologisnya.
Memang banyak modus perusahaan penyalur pekerja migran Indonesia (PMI) ilegal dalam merekrut para calon PMI yang akan bekerja di luar negeri. Perusahaan-perusahaan ilegal itu mengirimkan calo untuk mendatangi setiap desa dengan iming-iming gaji yang besar.
Kemudian, Kakak Rusdianto langsung kembali ke Jakarta, laporkan masalah keberbagai lembaga negara, seperti Kepolisian RI, Kejaksaan Agung, Kemenlu RI, PJ2TKI, BNP2TKI, dan Kemenaker. Tak luput juga, dilaporkan ke beberapa anggota DPR RI yang mewakili Pulau Sumbawa. Ternyata, gerakan dan tindakan kakak Rusdianto ini berdampak baik terhadap seluruh Buruh Migran Indonesia (BMI) di Damaskus, baik yang masih bekerja maupun di penampungan.
Dampak positifnya, khusus di penampungan berimbas baik. Semua pejabat, perusahaan agensi dan lain – lain merasa takut bener. Semua mereka, cari tau tentang Rusdianto. Semua laman informasi media, terutama media sosial Rusdianto sendiri dicek, lihat dan amati. Ternyata, Rusdianto effect di Damaskus terjadi. Karena semua laporan yang dibuatnya sebagai fakta membuka kebobrokan para agensi yang bekerjasama dengan pejabat setempat.
Di penampungan KBRI Damaskus, semua alat komunikasi diawasi, disita dan tak diberikan waktu lagi apabila ketahuan berkomunikasi dengan siapapun. Namun, ada satu alat komunikasi disediakan untuk mengabari keluarga dikampung. Tetapi, Kakak Rusdianto terus bekerja membela dan mengawal. Bahkan, setiap hari selama kurun waktu setahun berkomunikasi ke seluruh lembaga negara, termasuk ke KBRI.
Termasuk, Kakak Rusdianto keliling Pulau Jawa: Malang, Surabaya, dan Jakarta, Bandung Jawa Barat dan Yogyakarta mencari calo- calo dan agensi yang menghindar dari laporan – laporan kasus buruh migran ilegal. Tetapi, tidak sampai ketemu. Kemudian, Kakak Rusdianto pernah mengabari kepada semua TKI Buruh Migran Indonesia di penampungan Damaskus mau datang menjemput, bersama aparat kepolisian.
Situasi di penampungan pun tambah kalang kabut. Semua merasa khawatir. Akhirnya, keputusan yang diambil KBRI saat itu, segera menyelsaikan administrasi dan dokumen lainnya agar semua TKI yang berjumlah kurang lebih 271 orang itu bisa pulang. Akhirnya, semua bisa pulang dengan selamat sebanyak dua bus besar dari Damaskus ke Indonesia. Itu berkah dari saudara Ni’matolah.
Kisah heroik Kakak Rusdianto diatas, orang tidak tau. Tetapi bersaksi bahwa Kakak Rusdianto bekerja tanpa pamrih. Membantu tanpa balas imbalan. Darimana biaya kakak Rusdianto bekerja memulangkan TKI dari Damaskus ke Indonesia. Kami pun tidak mengerti.
Kita juga tidak tau, lika liku perjalanan Kakak Rusdianto selama satu tahun berbuat membela kepentingan TKI agar bisa pulang. Kami selebihnya tidak mengerti, tenaga dan full waktu Kakak Rusdianto bekerja. Saking kepeduliannya, tinggalkan keluarganya agar semua TKI Damaskus mendapat keadilan.
Herannya, semua wilayah KBRI dan KJRI di Damaskus dihubungi oleh Kakak Rusdianto. Tak satupun yang lewat. Sehingga itulah, membuat para agensi dan pejabat setempat merasa khawatir. Begitu panjang waktu dan tenaga kakak Rusdianto perjuangkan keadilan. Kami tak tau cara berterima kasih. Hanya lewat doa dan ucapan syukur, bahwa ada manusia tulus, ikhlas dan pekerja keras demi keselamatan sesama.
Red.








