
Penulis: Rusdianto Samawa, Pendiri Teluk Saleh Institute (TSI), Menulis Homestay Pondok Daun – Sumbawa.
Global Cyber News.Com| Pulau Medang, ternyata menyimpan potensi penghasil Semangka terbesar Kabupaten Sumbawa. Pulau Medang termasuk dalam satu kawasan integrasi wilayah berdasarkan konservasi. Masuk wilayah kawasan Pulau Moyo.
Pada saat menginap satu malam dirumah Bahar yang merupakan pebisnis kambing, peternak sapi, perkebunan Semangka, sekaligus nelayan penangkap tuna. Bahar memang dilihat berpotensi menjadi pengusaha kambing yang sukses. Tentu, pasarnya perlu di dorong kuat agar distribusi ekonomi bisa berjalan.
Sesampai dirumah Bahar, diajak menuju rumah Pak Kades Pulau Medang, Suryanto. Setelah diskusi dan ngopi. Ide dan gagasan sangat banyak sekali. Tinggal kita berusaha sama-sama dan menjadi pekerja keras. Kemudian, setelah kita berdiskusi panjang lebar itu, menuju perkebunan Semangka diatas perbukitan sekitar tingginya 560mdpl.
Tiba disana, melihat hamparan Semangka ditengah rerumputan, semak dan campur umbi-umbian itu. Sangat banyak sekali. Sekitar luas 2 hektar lahan perkebunan itu full semangka.
Perasaan waktu itu, merasa heran juga. Ikut geleng-geleng kepala. Ternyata, yang beredar di Sumbawa adalah mayoritas Semangka Pulau Medang. Harga ambil di Pulau Medang sekitar 10ribu yang paling besar ukuran 2 kiloan. Namun, pengertian kami kalau beli semangka di Sumbawa, sangat mahal sekali capai 70-100ribu persatu buah.
Ya, tidak merasa heran juga, harga mahal itu faktor dugaan Semangka dari luar daerah NTB misalnya dari Jawa dan Bali. Eh, ternyata Semangka yang beredar di Sumbawa adalah Semangka Pulau Medang.
Pemerintah dalam hal ini, harus ada operasi pasar Semangka. Jangan biarkan upaya perlambatan ekonomi dan transaksi masyarakat dengan harga mahal. Dari harga 10ribu menjadi harga jual 70ribu – 80ribu. Ini termasuk keterlaluan penjual buah di Sumbawa.
Selain itu, perlu ada kajian dan intensifikasi pemberdayaan petani Semangka di Pulau Medang. Perlu ada kelompok-kelompok pemberdaya yang aktif memberikan penyuluhan dan penyadaran kepada masyarakat sehingga produktifitas petani Pulau Medang dapat dimaksimalkan.
Petani pada dasarnya pelaku utama pembangunan di pedesaan dan berperan ganda aktif dalam meningkatkan hasil produksi, seperti perbaikan jalan usaha tani, irigasi, informasi metode tanam hingga penyediaan pupuk.
Selama 4 hari di Pulau Moyo, kelangkaan pupuk menjadi masalah yang sangat luar biasa. Selain, pesisir dan jauh akses. Masyarakat kadang tidak mengerti tempat keberadaan pupuk. Peredaran pupuk di Sumbawa dimana saja. Kemungkinan kartel-kartel pupuk di Sumbawa sangat banyak sekali. Terutama toko – toko pengepul pupuk.
Termasuk petani semangka Pulau Medang mengeluhkan ketersediaan pupuk. Padahal semangka ini, termasuk mayoritas dikonsumsi masyarakat Sumbawa pada umumnya. Namun, karena produksi sedikit yang disebabkan tidak ada pemberdayaan dan ketersediaan obat-obatan pertanian. Maka berpengaruh pada pola produksi semangka Pulau Medang.
Semangka salah satu buah yang sangat mudah di budidayakan. Buah semangka biasayanya mudah tumbuh di daerah dataran tanah yang memiliki ketinggian 1-1000 mdpl. Jadi buah semangka tumbuh di daerah dataran rendah maupun di dataran tinggi.
Pulau Medang tempat ideal produksi Semangka untuk kebutuhan masyarakat Sumbawa. Idealnya, budidaya semangka pada ketinggian 100-1000 mdpl. Tanahnya jenis poruous (sarang) sehingga mudah membuang air yang terlalu berlebihan, tetapi tanah yang terlalu mudah membuang air tidak bagus juga untuk budidaya semangka. Selain itu, tanah Pulau Medang cocok untuk produksi semangka karena lahan gembur dan organik.
Pulau Medang suhunya sangat bagus untuk budidaya semangka sekitar 24-30oc diatas 500mdpl. Kondisi siang dan malam tidak ganggu pertumbuhan semangka. Kelembapan udara cenderung rendah bila sinar matahari menyinari area penanaman. Karena tanaman semangka butuh sinar matahari penuh untuk pertumbuhannya. Curah hujan yang ideal 40-50mm / bulan.
Dimasa mendatang, sistem pemberdayaan masyarakat tani di Kabupaten Sumbawa – Nusa Tenggara Barat (NTB) harus diperbaiki. Karena pemberdaya memiliki ketergantungan pada kebijakan pemerintah agar keberlangsungan Sumber Daya Manusia bagi Petani dimasa yang akan datang lebih baik.
Selama sistem masih sangat bebas dengan model pemberdayaan berbeda-beda dan lemahnya sistem pengawasan yang efektif, sia-sia alokasi dana yang disiapkan tanpa peningkatan kualitas pelayanan terhadap masyarakat tani. Pemerintah dalam melihat potensi Pulau Medang, harus bercermin pada negara-negara maju yang memilki program pemberdayaan petani yang mampu hingga memiliki lembaga keuangan sendiri dengan fondasi yang benar-benar dibangun dari prinsip pemberdayaan yang taat asas.
Nampaknya, pemerintah harus proaktif berdayakan petani Pulau Medang. Silahkan berkunjung. Melihat potensi yang bisa dikelola secara baik dan benar sehingga ada pendekatan yang efektif awasi mutu pelayanan pemberdaya bagi petani di setiap wilayah pesisir ini.
Red.









