Sunday, January 25, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeNasionalKenapa Radio Domei Jepang Lebih Dahulu Menyiarkan Berita Proklamasi?
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Related Posts

Featured Artist

Kenapa Radio Domei Jepang Lebih Dahulu Menyiarkan Berita Proklamasi?

Oleh: H.Muhammad TWH, Ketua Museum Perjuangan Pers Sumut

Global Cyber News.Com|-Medan I Kendatipun Kemerdekaan RI sudah lebih 70 tahun, namun masih ada pertanyaan yang sampai ke Museum Perjuangan Pers. Pertanyaan tersebut adalah kenapa Radio Domei Jepang yang lebih dahulu menyiarkan berita proklamasi.

Pertanyaan itu juga dijawab oleh Adam Malik melalui buku yang ditulisnya berjudul “Mengabdi Republik”. Dalam buku tersebut Adam Malik menjelaskan bahwa tahun 1937, Adam Malik bersama beberapa temannya mendirikan Kantor Berita “Antara”.
Maksud mendirikan Kantor Berita Antara adalah untuk menyaingi Kantor Berita Belanda “Aneta” yang selalu menyudutkan kegiatan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setelah Jepang menguasai Indonesia demi kepentingan politik, Kantor Berita Antara menjadi seksi Kantor Berita Jepang “Domei”.

Menjelang Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945 Adam Malik menysusun strategi bagaimana supaya berita proklamasi kemerdekaan bisa tersiar luas, padahal RRI sedang dijaga ketat oleh tentara Jepang. Adam Malik menugaskan Panghulu Lubis untuk bertugas di Kantor Radio Jepang “Domei”.
Begitu siap Bung Karno mengumumkan teks proklamasi, melalui seorang kurir Adam Malik mengirim teks Proklamasi kepada Panghulu Lubis yang telah Stand by di Kantor Radio Jepang Domei. Strategi yang diatur Adam Malik terlaksana dengan baik.

Pemancar Radio Jepang yang daya jangkaunya cukup kuat tidak heran dengan adanya siaran dari Radio Jepang Domei menyebabkan timbul kegemparan dan kegembiraan karena proklamasi kemerdekaan.
Mulanya pihak Jepang yang waktu masih berkuasa bermaksud hendak membantah berita proklamasi itu, tetapi tidak jadi karena siarannya cukup luas. Malamnya pemancar PTT yang ada di Bandung juga menyiarkan proklamasi dalam bahasa Inggris, maka proklamasi kemerdekaan telah di dengar diberbagai negara di dunia.

Partai dan Koran Senjata Melawan Penjajah

Perlawanan yang dilakukan oleh koran bersifat tidak langsung untuk menghindari jebakan hukum. Pada tanggal 7 September 1931, oleh Gubernur Jenderal mengeluarkan ordenansi yang memberi hak untuk melarang terbit surat kabar.

Bagi orang di masa itu menghantam penjajah secara tidak langsung diantaranya adalah “pukul anak sindir menantu”, artinya pukulan tak langsung yang tidak bisa terkena jebakan hukum oleh penjajah.

Tokoh pers dimasa itu bernama Hasanul Arifin menyindir penjajah Belanda dengan mengatakan: “Hindia Belanda (Indonesia) bukan tanah wakaf, bukan nasi bungkus, juga bukan rumah komedi.

Sindiran atau hantaman langsung terhadap Belanda diangkat oleh pihak Belanda menjadi perkara hukum. Ketika dibawa ke sidang membahas apa yang ditulis oleh Hasanul Arifin dalam Harian Benih Merdeka tidak bisa dihukum karena tidak terkena langsung menghina penjajah Belanda. Apa yang ditulis Hasanul Arifin dalam Surat Kabar “Benih Merdeka” adalah pukulan langsung terhadap penjajah Belanda tetapi tidak bisa terkena jebakan hukum.

Sejak Agresi Belanda Pertama, Belanda melakukan pembatasan terhadap barang import termasuk kertas koran. Pernah Waspada menolak jatah-jatah koran yang dilawan oleh Belanda dengan harga hanya 25 % dari harga pasar. Penolakan itu timbul dari pertimbangan tidak mengakui pemerintahan Belanda.

Bicara mengenai sulitnya kertas di masa Agresi Belanda Pertama, maka Mohd Said mempunyai jalan keluar. Kesulitan Mohd Said diketahui oleh tokoh dari Aceh A. Hasjmy. A. Hasjmy mengadakan hubungan dengan NV Permai yang mempunyai perusahaan di Penang pimpinan Teuku Manyak untuk mengirim kertas kepada Waspada melalui Tanjung Balai, disana kertas koran dijemput oleh Ibu Ani Idrus. Maka kesulitan yang dialami Waspada dapat diatasi. Peristiwa kecil ini merupakan hubungan Mohd Said dengan A. Hasjmy sejak masa dulu dan masa sekarang.

Sehari setelah terbit harian Waspada tanggal 11 Januari 1947, di Solo dilangsungkan Kongres AMPRI (Angkatan Muda Pembangunan Indonesia). Kongres ini dihadiri oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohd Hatta.

Presiden Soekarno dalam pidatonya mengatakan, perjuangan menantang penjajah bangsa Indonesia hanya mempunyai dua senjata yaitu “Partai-Partai dan Koran-Koran.” Dalam rangka melawan penjajah bangsa Indonesia mengalami kemajuan yang amat pesat, baik di bidang ekonomi maupun di bidang militer.

Red. Pandi Lubis

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts