Wednesday, March 4, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeOpiniHari Ibu, Untuk Siapa
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Related Posts

Featured Artist

Hari Ibu, Untuk Siapa

By Elisabeth Thomas

Global Cyber News.Com|Kata ‘Ibu’ tentu bukan lagi kata yang asing. Sebuah kata yang sering diucapkan untuk menyapa seorang wanita dewasa atau pun seorang wanita dengan peran tertentu.

Ada beberapa definisi kata Ibu yang bisa kita temukan. Seperti, pada Kamus Besar Bahasa Indonesia ibu diartikan sebagai: wanita yang telah melahirkan seorang anak, sebutan untuk wanita yang sudah bersuami, panggilan yang takzim kepada wanita baik yang sudah bersuami maupun belum. Ada juga yang mendefinisikan ibu selain sebagai orang yang melahirkan dan menyusui tetapi juga sebagai orang yang mengangkat, memelihara dan/atau mengasuh anak (paralegal.id).

Di Indonesia kita mengenal satu hari yang ditetapkan sebagai Hari Ibu, yakni pada tanggal 22 Desember. Pada hari ini biasanya kita akan melihat banyak sekali ucapan selamat dengan kata-kata indah dan menyentuh, tanda terima kasih seorang anak kepada perempuan yang telah melahirkan dan merawatnya. Tidak jarang para ibu juga dibebastugaskan dari rutinitasnya di rumah selama seharian penuh, dan tugasnya diambil alih oleh para ayah dan anak-anak.

Hal ini sebagai bentuk penghargaan kepada para ibu yang telah melayani keluarga selama 364 hari dan bisa jadi sebagai bentuk solidaritas terhadap para ibu dengan ikut merasakan beratnya tugas yang dikerjakan mereka setiap hari di dalam keluarga.

Peringatan Hari Ibu di Indonesia saat ini lebih menitikberatkan penghargaan kepada para ibu dalam definisi : Perempuan yang telah melahirkan dan merawat seorang anak, daripada penghargaan kepada para perempuan secara menyeluruh. Hari Ibu dijadikan momentum merefleksikan jasa para ibu dalam membesarkan dan merawat anak dan pengabdian mereka dalam ranah domestik. Pemaknaan ini meskipun baik, tetapi tentu saja sudah melenceng dari makna Hari Ibu yang sesungguhnya. Untuk mengetahuinya, mari kita menggali kembali sejarah kelahiran Hari Ibu ini.

Peringatan hari ibu tidak bisa dilepaskan dari gerakan perjuangan para perempuan Indonesia yang melakukan kongres Perempuan I pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, tepatnya di Gedung Dalem Joyodipuro milik Raden Tumenggung Joyodipuro.

Pada saat itu para pejuang perempuan Indonesia yang berasal dari organisasi-organisasi perempuan terutama dari Jawa dan Sumatera seperti Soekonto dari Wanita Oetomo, Nyai Hajar Dewantara dari Wanita Taman Siswa, Nona Soeyatin dari Putri Indonesia berkumpul mengadakan kongres.

Semangat mereka ini terinspirasi dari kejadian Sumpah Pemuda yang mempersatukan para pemuda seluruh Nusantara dalam semangat yang sama demi kemerdekaan Indonesia. Maka dari itu, para perempuan ini pun merasa terpanggil untuk bersatu, bahu membahu bersama kaum lelaki memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Meskipun baru pada saat itu terjadi Kongres Perempuan yang pertama, tetapi bukan berarti bahwa perempuan Indonesia baru memulai perjuangan mereka pada saat itu. Karena, sejak awal penjajahan Kolonial, sudah banyak perempuan yang ikut memperjuangkan kemerdekaan, seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutiah, R.A Kartini, Dewi Sartika, Kristina Martha Tiahahu dan masih banyak lagi yang tidak sempat dicatat sejarah. Hanya saja, pada saat itu perjuangan mereka masih bersifat kedaerahan sehingga hanya menimbulkan efek yang kecil.

Menyadari kekurangan ini, maka para perempuan termotivasi untuk melakukan kongres perempuan se-Indonesia, agar dapat menyatukan perjuangan mereka dalam satu semangat yang sama demi kemerdekaan dan perbaikan nasib mereka. Kongres Perempuan I ini dihadiri 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera seperti organisasi Wanita Muhammadiyah, Aisiyah, Jong Islameten, Bond Dames Afdeling, Wanita Katolik dan Meiyes Kering (Jong Java bagian Perempuan).

Dalam kongres ini mereka membahas berbagai isu seperti persatuan perempuan se-Nusantara, peranan perempuan dalam perjuangan, peranan perempuan dalam pembangunan bangsa, perdagangan anak dan perempuan, perbaikan gizi, kesehatan ibu dan balita, dan juga pernikahan usia dini. Hasil dari kongres ini antara lain; terbentuknya sebuah organisasi yang bernama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI), kesepakatan untuk mengirimkan mosi kepada pemerintah Kolonial untuk menambah sekolah bagi anak-anak perempuan, meminta pemerintah untuk wajib memberikan surat keterangan pada waktu nikah, dan diadakannya peraturan untuk memberikan tunjangan kepada para janda dan anak-anak pegawai negeri Indonesia. Kemudian, pada tahun 1929, nama organisasi ini berubah menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII).

Setelah Kongres Perempuan I sukses, diadakan lagi Kongres Perempuan II yang dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1935. Kongres ini berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia dan menetapkan fungsi perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa yang berkewajiban menumbuhkan rasa kebangsaan. Dalam kongres ini terbentuk BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan kesepakatan untuk menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang.

Kongres Perempuan Indonesia III dilaksanakan di Bandung pada tanggal 23-28 Juli 1938 yang dipimpin oleh Ny. Emma Puradireja. Selain menghasilkan RUU Perkawinan Modern, pada saat ini pula ditetapkannya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Dan ketetapan ini dikukuhkan lagi secara resmi pada tahun 1959 oleh Pemerintah melalui Dekrit Presiden yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno, dengan No. 316 Tahun 1959. Dengan adanya Surat Keputusan ini Hari Ibu resmi menjadi Hari Nasional serta dirayakan sampai saat ini.

Di masa yang lalu, peringatan Hari Ibu lebih sering diisi dengan kegiatan-kegiatan untuk memperjuangkan dan menyuarakan kepentingan perempuan. Seperti saat peringatan 25 tahun Hari Ibu di Solo, dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan Beasiswa untuk anak-anak perempuan, dan Hari Ibu tahun 1950 dirayakan dengan mengadakan pawai dan rapat yang menyuarakan kepentingan perempuan. Peringatan Hari Ibu selalu berarti untuk mengingat semangat dan perjuangan kaum perempuan dalam upaya memperbaiki kualitas bangsa dan generasi selanjutnya.

Melihat dari peristiwa-peristiwa yang membidani lahirnya Hari Ibu ini, maka dapat kita katakan bahwa sesungguhnya Hari Ibu memiliki makna yang lebih dalam dari hanya sekedar perayaan sentimentil belaka atau penghargaan kepada para perempuan yang telah melahirkan dan peran domestik mereka saja. Hari Ibu ada untuk mengenang kembali semangat nasionalisme dan jiwa patriotik para perempuan sejak jaman sebelum kemerdekaan, memperingati kebangkitan persatuan para perempuan Indonesia, serta sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa para perempuan yang telah memberikan sumbangsih lewat peran mereka masing-masing. Dengan kata lain, Hari Ibu adalah milik semua perempuan dalam berbagai peran yang mereka mainkan.

Pergeseran makna ini, bisa jadi dipengaruhi oleh kata “Ibu” yang tersemat dalam frasa Hari Ibu. Kata Ibu membuat pikiran kita hanya tertuju pada definisi: perempuan yang melahirkan dan merawat anak. Hal ini yang membuat kita menjadi sentimentil sehingga memboikot Hari Ibu menjadi milik perempuan yang masuk di dalam kategori itu saja dan perempuan yang berperan dalam ranah domestik saja. Di luar dari itu, mereka sepertinya tidak berhak merayakan Hari Ibu. Pemaknaan seperti itu seolah-olah mengerdilkan potensi lain dari seorang perempuan sekaligus mengabaikan kenyataan bahwa di era kemerdekaan ini banyak perempuan telah mampu memainkan peran yang lebih kompleks. Mereka mampu bekerja dalam berbagai bidang, bersaing dengan para lelaki. Bahkan untuk pekerjaan-pekerjaan yang dulu dianggap khusus untuk laki-laki, saat ini dapat dikerjakan oleh perempuan dengan sangat baik.

Perempuan-perempuan Indonesia telah menorehkan perjalanan panjang perjuangan mereka. Sejak jaman sebelum kemerdekaan dengan perjuangan secara langsung di daerah-daerah, kemudian mengadakan kongres yang menjadi wadah bagi mereka untuk melibatkan diri dalam gerakan perjuangan secara nasional, lalu pada tahun 1973 Kowani (Kongres Wanita Indonesia), pergantian dari : Kongres Perempuan Indonesia, menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW) yang berperan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan hingga kini tetap diteruskan dengan berbagai kiprah mereka dalam mengisi kemerdekaan. Perempuan Indonesia telah mencapai fase kebangkitan seperti yang dicita-citakan oleh RA. Kartini dan diamanatkan oleh Kongres Perempuan Indonesia I di tahun 1929 itu.

Tercatat dalam sejarah Indonesia kita telah memilki banyak tokoh perempuan, seperti Maria Ulfah yang menjadi Menteri perempuan pertama di era Presiden Soekarno yang diangkat pada tahun 1950, Presiden Megawati presiden ke-5 yang menjabat dari 23 Juli 2001 sampai 20 Oktober 2004, kita memiliki Sri Mulyani Menteri Keuangan yang diakui dunia Internasional, begitu juga Menteri Susi Pujiastuti, Menteri Retno Marsudi, atau di bidang olahraga kita memiliki Susi Susanti legenda Bulutangkis Indonesia yang berhasil mengharumkan nama bangsa berkali-kali dan tentu masih banyak lagi yang lain. Mereka adalah perempuan-perempuan yang memberikan sumbangsih bagi negeri lewat peran non domestik mereka. Harusnya perempuan-perempuan seperti ini pun mendapatkan tempat yang layak untuk dihargai dalam setiap peringatan Hari Ibu.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita memperbaiki pemaknaan Hari Ibu ini. Bukan untuk menafikan peran para ibu dalam ranah domestik, tetapi sebagai tanda kita menghargai sejarah dan perjuangan para perempuan Indonesia, serta menghargai keberadaan seluruh perempuan Indonesia dan berbagai peran yang dijalankan mereka.

Hari Ibu harus kita maknai sebagai momentum mengenang perjuangan para perempuan Indonesia sejak jaman sebelum kemerdekaan dan kebangkitan perjuangan perempuan se-Indonesia, sebagai bentuk penghargaan atas kiprah perempuan-perempuan Indonesia secara menyeluruh dalam mengisi kemerdekaan melalui peran-peran mereka yang kompleks, dan tentu saja sebagai kesempatan untuk menggelorakan kembali semangat para perempuan untuk melakukan peran-peran mereka di masa kini. Hari Ibu harus menjadi milik semua perempuan Indonesia tanpa pengecualian, karena demikianlah yang diinginkan para pendahulu yang menjadikan peringatan itu ada.

Selamat Hari Ibu untuk semua perempuan hebat Indonesia…

Tetaplah bersatu, teruslah berkarya, teruslah merawat generasi bangsa. Dirgahayu perempuan Indonesia!!

Red.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts