
globalcybernews.com – ᴰᵃˡᵃᵐ ᴷʳᵒⁿᶦᵏ ʸᶦⁿᵍʸᵃᶦ ˢʰᵉⁿᵍˡᵃⁿ ˡᵃᵖᵒʳᵃⁿ ᴹᵃ ᴴᵘᵃⁿ ᵈᶦʳᶦʷᵃʸᵃᵗᵏᵃⁿ ᵇᵃʰʷᵃ ᴿᵃʲᵃ ˢᵃᵐᵘᵈᵉʳᵃ ⁽ᴾᵃˢᵃᶦ⁾ ⁽蘇門答剌 ⁼ ˢᵘ ᴹᵉⁿ ᵀᵃ ᴸᵃ⁾ ᵖᵉʳⁿᵃʰ ᵈᶦˢᵉʳᵃⁿᵍ ᵒˡᵉʰ ᴿᵃʲᵃ ᴺᵃᵍᵘʳ ⁽ᴺᵃ ᴷᵘ ᴱʳʰ⁾ ᵈᵃⁿ ᵇᵉʳʰᵃˢᶦˡ ᵐᵉᵐᵇᵘⁿᵘʰ ᴿᵃʲᵃ ˢᵃᵐᵘᵈᵉʳᵃ ᵀˢᵃᶦ⁻ⁿᵘ⁻ˡᶦ⁻ᵃ⁻ᵖᶦ⁻ᵗᶦⁿᵍ⁻ᵏᶦ ⁽ˢᵘˡᵗᵃⁿ ᶻᵃᶦⁿᵘˡ ᴬᵇᶦᵈᶦⁿ ᴹᵃˡᶦᵏ ᴬᶻ⁻ᶻᵃʰᶦʳ, ᵃʸᵃʰᵃⁿᵈᵃ ᴿᵃᵗᵘ ᴺᵃʰʳᵃˢᶦʸᵃʰ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ᵖᵃⁿᵃʰ ᵇᵉʳᵃᶜᵘⁿ.
Dalam tahun 1405, 1408, dan 1412, Laksamana Cheng Ho (Zheng He) bersama dua orang penerjemah sekaligus pembantunya yaitu Ma Huan dan Fei Xin berturut-turut datang mengunjungi Samudera. Cheng Ho datang memimpin 208 kapal. Pada saat kunjungan ini, Laksamana Cheng Ho menyerahkan hadiah dari Kaisar China kepada Raja Samudera dan sejak itu pihak Samudera selalu mengirimkan upeti kepada Kaisar China yaitu Lonceng Cakra Donya.
Pada kunjungan ini Ma Huan dan Fei Xin mencatat tentang keberadaan Nagur yang berada di Aceh. Ma Huan dalam laporannya yang dicatat dalam Kronik Yingyai Shenglan diterbitkan tahun 1416 menceritakan bahwa Raja Nagur (那孤兒 = Na Ku Erh) dinamakan Raja Muka Bertato (dalam Bahasa Simalungun disebut Rajah Marhurei) menduduki kawasan sebelah barat Su Men Ta La (Samudera). Sementara di sebelah barat Nagur berbatas dengan Litai (黎代) dan Lambri (南渤利 = Lan Bo Li), jadi posisi Nagur berada di antara Lidai dan Samudera. Wilayah yang mereka duduki hanya terdiri dari satu desa yang berada di pegunungan, penduduknya merajah wajahnya dengan tiga panah hijau, inilah yang melatarbelakangi munculnya sebutan Raja Muka Bertato.
Jumlah penduduknya hanya sekitar seribu keluarga, sistem pertanian yang dikembangkan relatif kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Jenis tanaman pertanian adalah padi gogo, binatang ternak yang mereka usahakan adalah babi, kambing, unggas, dan bebek. Tidak ada produk yang diekspor karena merupakan negeri yang relatif kecil. Bahasa dan busana yang mereka gunakan sama dengan masyarakat di Samudera. Dari pemetaan yang dilakukan oleh penulis letak dari Nagur ini berada di sekitar Pirada (Peudada sekarang) masuk Kabupaten Bireuen hingga Pidie. Litai, oleh pengelana lain sering juga disebut Lide, barangkali yang dimaksud adalah Linge yang berada di Aceh Tengah.
Sedangkan menurut hasil dokumentasi Fei Xin yang dimuat dalam Kronik Xingcha Shenglan yang diterbitkan tahun 1436. Nagur merupakan wilayah Negara Muka Bertato (花面國 = Hua Mian Guo) berbatasan dengan Sumatera (Samudera) dan meluas hingga ke Laut Lambri. Wilayah kedudukannya terletak di daerah pegunungan. Di tengah cuaca yang bervariasi, masyarakat Nagur mampu mengolah sawah mereka dengan baik sehingga mampu menghasilkan beras dengan jumlah memadai. Tidak jauh berbeda dengan keterangan Ma Huan di atas, Fei Xin juga mengatakan bahwa para kaum pria memiliki kebiasaan merajah wajah mereka dengan gambar bunga beserta hewan. Rambut mereka yang panjang dibiarkan terurai, bagian atas tubuh dibiarkan terbuka hanya bagian bawah mengenakan sehelai kain.
Sementara kaum wanita mengenakan sehelai kain berwarna dan rambut bersanggul di belakang. Binatang yang mereka ternakkan diantaranya sapi, kambing, unggas, dan bebek. Kehidupan mereka berlangsung harmonis, tidak pernah ditemukan ada upaya penindasan dari pihak yang kuat terhadap golongan yang lemah. Antara kaum bangsawan dengan rakyatnya tidak dibatasi jurang pemisah, mereka bersama-sama mengolah lahan demi kemajuan daerah mereka. Tidak ada kesombongan dari golongan orang yang kaya terhadap mereka yang miskin sehingga tindakan kriminal seperti pembunuhan dan pencurian sangat jarang terjadi. Selain memproduksi bahan pangan, tanah subur yang mereka duduki juga ditumbuhi sejumlah tanaman wewangian dan bunga teratai (tunjung biru). Di kawasan pegunungan banyak terdapat belerang, selain itu mereka juga mengembangkan budidaya ulat sutera dan industri tembikar, dan lain sebagainya.
- Nagur Aceh Menyerang Samudera
Dalam Yingyai Shenglan juga diriwayatkan bahwa Raja Su Men Ta La (蘇門答剌 = Su Men Ta La) pernah diserang oleh Raja Nagur dan berhasil membunuh Raja Samudera Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki (Sultan Zainul Abidin Malik Az-Zahir, ayahanda dari Ratu Nahrasiyah) dengan panah beracun. Sultan Zainul Abidin memerintah dari tahun 1383 sampai meninggalnya tahun 1394 akibat dibunuh oleh Raja Nagur. Kisah ini kemudian dituangkan dalam buku Tarich Atjeh dan Nusantara karangan H. M. Zainuddin (1961). Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa pada tahun 1394 Laksamana Samudera (Pasai) yaitu Rabath Abdul Kadir Syah dari Nagur di Pedir (Pidie) melakukan kudeta dan menyerang Samudera, ia berhasil membunuh Sultan Zainul Abidin Malik Az-Zahir.
Laksamana Nagur ini kemudian menggantikan kedudukannya sebagai penguasa Kerajaan Samudera bergelar Maharaja Nagur Rabath Abdul Kadir Syah, ia memerintah selama enam tahun (1394-1400). Akibat peristiwa ini, sejumlah keturunan bangsawan Samudera yang enggan tunduk dibawah kekuasaannya kemudian pergi meninggalkan Samudera menuju pesisir barat Aceh, di tempat ini mereka mendirikan sebuah pemukiman bernama Kuala Daya. Zanuddin menyebut setelah sampai di Kuala Daya, mereka tidak mampu meneruskan perjalanan. Mereka tidak berdaya lagi. Karena ketidakberdayaan itu, akhirnya, mereka menyebut wilayah tersebut dengan tidak berdaya. Lama-kelamaan berubah menjadi Daya.
Yingyai Shenglan kembali menceritakan, karena putera Raja Su Men Ta La masih kecil dan belum sah untuk meneruskan tahta, maka Ratu Su Men Ta La lantas bersumpah membalas dendam kematian suaminya. Ia membuat sayembara yang isinya menyatakan bahwa ia bersedia menikah dan memerintah bersama siapa saja yang sanggup membalaskan dendamnya. Seorang nelayan tua (Panglima Laut) bersedia mengemban tugas tersebut, dengan berani ia memimpin pasukan guna membalaskan dendam kepada Raja Nagur. Dengan dibantu prajurit Su Men Ta La, nelayan tua ini berhasil membunuh Raja Nagur, akibatnya pasukan Nagur mundur dan menyerah kalah.
Nelayan ini kemudian menikah dengan Ratu Su Men Ta La, keduanya memerintah bersama dengan gelar Raja Tua. Pada tahun 1409, ia berangkat ke China untuk menyerahkan upeti kepada kaisar China dan kembali ke negerinya pada tahun 1412. Putera raja sebelumnya ternyata tidak setuju dengan pengangkatan Raja Tua sebagai pengganti ayahnya, ia lantas bersekongkol dengan para bangsawan guna menghabisi nyawa Raja Tua. Akibat kematian Raja Tua, kemenakannya bernama Su Gan La (蘇幹剌 = Su Gan La) berniat membalas dendam kematian pamannya, ia kemudian mengumpulkan para pengikut dan melarikan diri ke pegunungan. Tidak lama kemudian pada tahun 1415, Cheng Ho pun datang ke Su Men Ta La dan menangkap Su Gan La. Atas bantuan yang diberikan Cheng Ho, putera raja merasa sangat berterima kasih dan sebagai balas jasa ia kemudian terus menerus mengirim upeti ke Tiongkok.
Ali Hasjmy dalam bukunya berjudul “Wanita Aceh” juga mengisahkan, sang Laksamana Nagur ini kemudian dibunuh oleh perwira bawahannya, Syahbandar Samudera bernama Arya Bakoy. Setelah membunuh Laksamana Nagur, ia lalu meminang janda Sultan Zainul Abidin Malik-Az-Zahir dan menjadi ayah tiri Ratu Nahrasiyah Rawangsa Khadiyu.
- Aceh Menyerang Nagur Simalungun
Ferdinand Mendez Pinto (1509-1583) seorang pengelana berkebangsaan Portugis dalam karyanya berjudul Peregrination, ia mencatat kunjungan delegasi raja Batak tahun 1539 kepada kapten Melaka yang baru, Pedro de Faria. Ia melaporkan bahwa raja ini penganut paganisme dan ibukotanya bernama Panayu. Ia juga mengisahkan tentang peperangan sengit antara Aceh di masa pemerintahan Raja Ali alias Sultan Alauddin Riayat Shah Al-Qahhar (1537-1569) dengan seorang Raja Batak (Tuan Anggi Sri Timur Raja) dibantu oleh iparnya yang tampil sebagai panglima perang bernama Aquarem Dabolay (Anggaraim Nabolon Saragih Garingging) dari Partuanon Raya.
Peperangan ini berlangsung selama dua babak, pada perang pertama dengan mengandalkan ketangguhan panah beracunnya, Nagur berhasil memukul mundur pasukan Aceh dan mengejarnya hingga sampai ke pegunungan yang dinamai Cagerrendan (Cagar Ardan, pen), di sanalah selama 23 hari pasukan Batak mengepung sisa pasukan Aceh yang masih bertahan. Singkat cerita kedua belah pihak sepakat mengadakan perjanjian damai. Namun tidak berselang 2 setengah bulan, Aceh melanggar perjanjian tersebut dan berniat melakukan pembalasan.
Adanya bala bantuan 300 orang Turki menjadikan Aceh semakin bersemangat melawan Raja Batak. Pihak Aceh lalu mensiasati strategi bagaimana agar penyerangan mereka tidak menyebar luas dan diketahui Raja Batak. Lantas dibuatlah suatu dalih bahwa Raja Aceh akan berkunjung ke Pasai, tetapi ternyata ia tidak pergi ke Pasai melainkan menyerang dua buah kampung Batak bernama Jacur (Nagur) dan Lingua (Lingga). Dalam penyerangan itu, Aceh berhasil menewaskan 3 orang putera Raja Batak dan tujuh ratus orang hulubalang yang merupakan prajurit terbaik sekaligus orang yang dimuliakan di Kerajaan Batak.
Foto: Saat saya berada di Kampung Nagur Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara tahun 2016.
Red