
globalcybernews.com -Indonesia menang versus Vietnam 3-0. Eforia kemenangan menggema di seluruh Tanah Air. Kemenangan yang diraih setelah 20 tahun lalu di Kandang Lawan, Vietnam. STY mendapat pujian setinggi langit karena mampu mendongkrak ranking Viva menjadi 133 yang sebelumnya menduduki peringkat 173. Bahkan presiden Jokowi ikut berjingkrak kegirangan karena kemenangan timnas.
Namun tidak sedikit yang mencibir. Salah satu pemain Vietnam juga menyindir dengan mengatakan Vietnam melawan Indonesia atau Belanda? Jika hanya merekrut pemain naturalisasi yang sudah matang, siapapun pelatihnya juga bisa menang.
Apa Keuntungan dan Kerugian Pemain Naturalisasi?
Singapura & Philipina pernah merekrut pemain naturalisasi, namun terbukti tidak untuk jangka panjang. Sekarang masa bakti kebugaran fisiknya sudah menurun, lebih ekstrim sudah habis.
Pun, akan dialami oleh timnas Indonesia yg saat ini dikuasai pemain naturalisasi. Sampai kapan mereka mampu membela Indonesia? Seberapa banyak stock calon pemain naturalisasi yang di Belanda atau mungkin di negara lain?
Sementara ini, Liga yg ada juga bnyk pemain Asing (6 pemain Asing tiap klub) sehingga sangat minim atau lebih tegasnya (tidak ada) kontribusinya untuk timnas. Sampai2 STY dan juga pelatih2 sebelumnya kesulitan untuk mencari pemain lokal yang terbaik untuk timnas. Liga hanya sebuah eforia hura2, tanpa ada tujuan jangka panjang. Klub2 liga juga tidak memiliki pembinaan pemain muda. Mengapa tidak mengambil pemain naturalisasi dari Timor Leste misalnya?
Sebenarnya ini bukan tentang Pemain yang berdarah Indonesia yang ada di Luar Negeri, tetapi mutlak terkait pembinaan Pemain Sepakbola antara di Belanda dengan di Indonesia. Mengapa tidak mengadobsi saja Sistem Pembinaan Sepakbola yang sudah dianggap benar, baik, dan maju? Sehingga, PSSI bisa mencangkok sistem kurikulum Pembinaan Sepakbola, tidak hanya mengambil mudahnya saja dengan menaturalisasi pemain yang sudah matang.
PSSI perlu belajar dan introspeksi diri. Masak dengan jumlah penduduk ±275 juta orang tidak mampu membentuk kesebelasan yang baik? Terkait bakat, setiap negara dan bangsa tentu masing memiliki pemain berbakat, tinggal.dibina dan dipoles secara baik, benar, dan profesional pasti bisa.
- PSSI gagal dalam kaderisasi dan pembinaan pemain lokal usia dini, serta tidak punya kurikulum baku yg berkarakter Indonesia. Selama ini Ganti Pelatih Ganti Gaya permainan. Pemain mumet.
2.Belum punya kiblat permainan. Selama ini kebanyakan mengambil pelatih dari Eropa. Pemain2 Eropa yg punya etos kerja time is money, speed n power, dan disiplin tinggi, tidak mampu diikuti oleh pemain2 karakter Indonesia. Mengapa PSSI tidak berkiblat pada Amerika Latin? Secara strata sosial-ekonomi, karakter, dan postur tubuh hampir sama dgn rerata orang Indonesia. Tapi mereka mampu menaklukkan tim2 raksasa dan negara2 sepakbola maju dan modern, seperti Inggris, Jerman, Italia, Perancis, dll. Pele, Lionel Messi, Maradona, Ronaldhino, Robertus Carlos, dll tinggi mereka malah bnyk yg kurang dari 170cm. Namun mereka punya skill di atas rata2. Skill bisa diasah dilatih sejak usia dini, tetapi bersaing dgn postur raksasa pemain2 Eropa adalah mimpi siang bolong. - SSB selama ini tidak memiliki kurikulum dan membina sesuai selera pelatih. Saya pernah menulis ttg TBB Taman Bermain Bola, dgn materi utama adalah Kualitas Skill, bukan Kemenangan yg mnjd target inti. TBB dimulai dari murid usia PAUD (3-5) tahun, 6-7 tahun, 8-9 tahun, dan 10-12 tahun. Untuk menguji skill dan sebagai Rapor para murid TBB, diadakan Lomba Skill: Lomba Jugling. Lomba Dribling. Lomba Shooting. Lomba Bermain: Man to Man, Three on Three, dll.
- Dan lain2 termasuk melibatkan sain dan pakar gizi, juga tes IQ, seperti pada klub2 di LN.
TA. Iriandono
Red









