Friday, May 31, 2024
HomeRegionalكانغ ماس أبي إيخين:KISAH RASULULLAH ﷺBagian 38

Related Posts

Featured Artist

كانغ ماس أبي إيخين:KISAH RASULULLAH ﷺBagian 38

globalcybernews.com  –Hijrah ke Habasyah
Gangguan terhadap kaum Muslimin dari hari ke hari makin menjai-jadi. Bahkan, beberapa orang dibunuh, disiksa dengan kejam dan sejenisnya. Berdasarkan wahyu dari Allah, Rasulullah pun memerintahkan agar mereka berhijrah.

Kaum muslimin mengadu, “Wahai Rasulullah, ke mana kami akan pergi?”
Rasulullah menasehati agar mereka pergi ke Habasyah yang rakyatnya menganut agama Nasrani.

“Tempat itu diperintah oleh seorang raja dan tidak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi yang jujur, sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua,” demikian sabda Rasulullah.

Mematuhi perintah Rasulullah, berangkatlah rombongan pertama kaum Muslimin ke Habasyah pada bulan Rajab, tahun ke lima kenabian (Tahun 615 M). Rombongan pertama terdiri atas 11 orang pria dan 4 perempuan. Dengan sembunyi-sembunyi, mereka meninggalkan Mekah, menyeberangi laut ke benua Afrika dan tiba di pantai Habasyah.

Sebagaimana yang dikatakan Rasulullah, Najasyi- Raja Habasyah itu, memberi mereka perlindungan dan tempat yang baik.
Setelah mendengar kabar bahwa orang Quraisy tidak lagi menyiksa kaum Muslimin, mereka kembali pulang. Namun, ternyata berita itu tidak benar. Mereka kekerasan yang dilakukan kaum Qurasiy melebihi sebelumnya.

Di Mekah, keadaan justru semakin buruk bagi kaum Muslimin. Mereka pun berangkat kembali ke Habasyah rombongan kedua. Rombongan kali ini jumlahnya lebih besar, terdiri atas 83 orang pria dan 18 wanita dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib.

Penduduk Mekah tidak suka kalau kaum muslimin pergi ke Habasyah, sehingga mereka mengutus ‘Amr bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah untuk menemui raja Najasyi. Mereka menemui pembesar-pembesar istana dengan membawa hadiah-hadiah (upeti) dengan harapan kaum muslimin dapat di kembalikan ke Mekah. Selanjutnya, kedua utusan ini menghadap raja dan menyampaikan bahwa kaum muslimin adalah budak-budak kami yang tidak tahu diri, meninggalkan agamanya dan memeluk agama baru, orang-orang tua. Mereka kelak akan mencemarkan nama baik dan memaki-maki tuan raja. Karena itu, meminta usirlah kaum muslimin dari wilayah raja.

Sebenarnya, kedua utusan sudah sepakat untuk mengusir kaum muslimin setelah menerima hadiah-hadiahnya. Namun, ketika dihadapkan kepada raja Najasyi, ia menolak sebelum mendengar sendiri dari kaum muslimin. Utusan kaum muslimin yang dipanggil raja untuk menghadapnya sebagai juru bicara adalah Ja’far bin Abu Thalib. Setelah raja mendengarkan penjelasan dan dialog dengan Ja’far bin Abu Thalib, lalu raja mengambil kayu dan menggoreskan garis di tanah, lalu berkata, “Antara agama tuan-tuan dan agama kami sebenarnya tidak lebih dari garis ini”. Raja Najasyi ternyata telah memahami bahwa kaum muslimin itu mengakui Isa, mengenal adanya Nasrani dan menyembah Allah. Sejak saat itulah, kaum muslimin hidup di Habasyah merasa lebih aman dan tenteram, meskipun kadang-kadang ada saja orang yang masih mengganggunya.

Habasyah (saat itu) adalah negara yang meliputi bagian selatan Mesir, Erytrea, Ethiopia, dan Sudan. Habasyah artinya ‘persekutuan’. Dahulu Habasyah bersekutu dengan kerajaan Saba atau Himyar. Kaum Muslimin berangkat dari Teluk Syu’aibah, sebelah selatan Jeddah.

Kesedihan Umar
Ummu Abdillah adalah seorang perempuan tua. Ia juga tetangga Umar bin Khattab. Setelah ia sekeluarga memeluk Islam, Umar suka mengganggunya. Padahal sebelum itu, Umar cukup hormat dan bahkan menyayanginya.

Saat itu, Ummu Abdillah tengah membereskan barang-barang untuk dibawa hijrah ke Habasyah. Tiba-tiba, hatinya berdebar. Ia melihat Umar bin Khattab melangkah dengan pedang terhunus! Karena tidak ada waktu lagi untuk lari ke dalam rumah, Ummu Abdillah bersembunyi di balik barang-barangnya. Hatinya berdebar tidak karuan. Tanpa sadar, ia menahan napas ketika Umar semakin mendekat. Akan tetapi, Umar melihatnya dan berhenti.
“Jadi engkau benar- benar akan berangkat, wahai Ummu Abdillah?”
Ummu Abdillah keluar dari tempat persembunyiannya. Ia heran karena suara Umar tidak terdengar marah seperti biasanya.

“Ya, demi Allah. Engkau telah menyakitiku dan menindasku. Aku akan benar-benar pergi ke bumi Allah hingga Allah memberikan jalan keluar bagiku,” sahut Ummu Abdillah.
Sesaat, Umar tampak merenung, “Ini dia tetanggaku, mereka akan pergi juga meninggalkan Mekah.”

Umar berpaling, menatap wajah tua Ummu Abdillah dan berkata dalam hati, “Begitu jauh jalan yang akan ditempuh orang tua ini, begitu sedikit barang yang bisa dibawanya.”
Akhirnya Umar melangkah pergi sambil berkata parau, “Semoga Allah senantiasa menyertaimu.”
Ummu Abdillah terpana. Belum pernah Umar berlaku selembut ini sejak mereka memeluk Islam.

“Tidakkah engkau melihat kelemah-lembutan dan kedukaan Umar terhadap kita?” tanya Ummu Abdillah kepada putranya.
“Apakah Ibu berharap ia akan memeluk Islam?” tanya sang putra. “Dia tidak akan pernah memeluk Islam sebelum keledai bapaknya juga masuk Islam!”

Kemarahan Umar
Umar bin Khattab duduk termenung di rumahnya. Di seluruh Mekah, tidak ada seorang pun yang mampu melunakkan hati Umar. Ia begitu cepat naik pitam dan garang. Ia tidak pernah luluh oleh rayuan gadis-gadis penghibur setiap kali ia mendatangi para penjual khamr. Ia tidak pula pernah terbujuk ikut bergabung dengan para pejalan malam yang bergerombol di halaman rumah sambil mendengarkan para penabuh rebana.
Segalanya tidak mampu melembutkan kekerasan hatinya yang suka bertindak garang dan menakutkan.

Namun kini, ia tengah duduk termenung sendiri.
“Hamzah, apa yang terjadi padamu? Engkau menaklukkan dan mempermalukan Abu Jahal, temanmu sendiri! Apa yang membuatmu jadi seperti ini? Bahkan, engkau berani meninggalkan agama nenek moyang kita dan bergabung dengan Muhammad! Ini jelas akan membuat pengikut agama baru ini jadi sombong dan besar kepala!

Hamzah, bukankah engkau, Abu Jahal, Khalid bin Walid dan aku telah bersama membuat Quraisy jadi suku paling disegani? Semua itu berkat kerja keras dan keuletan kita berempat. Suku-suku yang lain iri kepada Quraisy karena Quraisy memiliki kita. Ini semua gara-gara Muhammad! Hamzah tidak lagi mau minum-minum bersamaku. Betapa sepinya malam-malam tanpa Hamzah!”

“Muhammad, engkau membuat pusing kepala orang-orang miskin, para budak, buruh kasar, dan para perempuan lemah! Engkau membuat mereka berani menentang para majikan! Apa yang engkau sampaikan pasti sebuah sihir.
Muhammad, tegakah engkau melihat para pengikut mu pergi meninggalkan tanah air nya ke Habasyah yang begitu jauh?
Ini benar-benar keterlaluan! Aku harus membunuh Muhammad sekarang juga! Meski aku harus berhadapan dengan Hamzah, aku akan membunuhmu dan membuat Mekah kembali seperti dulu!”

Setelah berpikir begitu, Umar bin Khattab mencabut pedangnya. Amarahnya dengan cepat naik ke ubun-ubun. Dengan langkah-langkah yang tidak bisa dirintangi, Umar berjalan cepat menuju Darul Arqam. Matanya mengandung api dan pedangnya membara! Tidak seorang pun bisa menghalangi Umar, jika ia sudah bertekat dengan sunguh-sunguh!

Bersambung…

Red

Latest Posts