
Global Cyber news.com. -Cirebon – Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyatakan transformasi menuju ekonomi sirkular (circular economy) membuka peluang penciptaan jutaan lapangan kerja baru di Indonesia. Peluang tersebut muncul seiring perubahan model industri dari pola ekonomi linear yang menghasilkan limbah menjadi ekonomi sirkular yang mengoptimalkan pemanfaatan kembali bahan baku dan produk agar memiliki nilai tambah.
“Circular economy ini sebenarnya sudah lama kita dengar. Esensinya adalah bagaimana kita menghilangkan waste atau limbah melalui recycle, reuse, atau intervensi terhadap materialnya sehingga limbah semakin kecil dan semakin sedikit. Ini menjadi peluang,” ujar Yassierli saat menyampaikan keynote speech pada Industrial Engineering Festival of Cirebon (IEFC) ITB 2026, di Kampus ITB Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (7/11/2026).
Menurut Yassierli, potensi ekonomi sirkular di Indonesia cukup besar. Menurutnya, ekonomi sirkular berpotensi menambah 4,4 juta tenaga kerja hingga 2030, serta memberikan tambahan produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp638 triliun. Potensi tersebut terutama berada pada sektor pangan, plastik kemasan, elektronik, konstruksi, dan tekstil.
Ia mencontohkan, berbagai material yang selama ini dianggap sebagai limbah sebenarnya masih dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Salah satunya adalah bagian ikan seperti kepala, sirip, dan ekor yang tidak dimanfaatkan oleh industri pengolahan ikan, tetapi dapat diolah kembali menjadi tepung. Begitu pula berbagai komponen kelapa sawit dan kelapa yang memiliki potensi pemanfaatan lebih luas.
“Orang membuang, tetapi kemudian Anda mengambil. Jadi, Anda tidak perlu bayar. Beberapa hari yang lalu saya datang ke sebuah pabrik pengolahan ikan. Kepala, sirip, ekor itu dibuang. Bagi mereka sampah. Tapi bagi orang lain ini ditampung dan kemudian dari situ bisa dibuat pabrik tepung. Banyak hal sebenarnya yang bisa dilakukan,” jelasnya.
Yassierli menilai peluang tersebut membutuhkan kolaborasi antara pelaku usaha dan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu, terutama dalam pengembangan teknologi pengolahan material. Menurutnya, mahasiswa teknik industri perlu menggandeng bidang keilmuan lain, seperti farmasi dan teknik kimia, agar potensi limbah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang bisnis.
Namun, ia mengingatkan bahwa peluang ekonomi sirkular tidak cukup hanya dilihat dari aspek penciptaan usaha dan lapangan kerja. Pekerjaan yang berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan juga harus memenuhi prinsip pekerjaan layak (decent work), termasuk memberikan upah wajar, perlindungan sosial, serta keselamatan dan kesehatan kerja.
“Green jobs itu tidak hanya hijau, tetapi juga harus layak. Jangan sampai kita membangun ekosistem yang ramah lingkungan, tetapi pekerjaannya tidak terlindungi dan gajinya jauh di bawah upah minimum,” tegasnya.
Ia mencontohkan pekerja pemilah sampah yang selama ini banyak berada di sektor informal. Padahal, mereka memiliki kontribusi penting dalam ekosistem ekonomi sirkular. Karena itu, pemerintah berupaya memperkuat pengakuan profesi pemilah sampah, meningkatkan keterampilan mereka agar mampu mengolah material menjadi produk bernilai tambah, serta memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Untuk menangkap peluang tersebut, Yassierli menekankan pentingnya menyiapkan kompetensi tenaga kerja melalui peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling). Kemnaker menjalankan berbagai program, antara lain Pelatihan Vokasi Nasional dan Pemagangan Nasional (MagangHub), agar tenaga kerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berubah.
“Peluangnya ada di depan mata. Jangan sampai orang Indonesia hanya menjadi pengamat. Kita harus menyiapkan tenaga kerja yang kompeten agar mampu mengambil peluang dari perubahan industri ini. Dan yang tidak kalah penting, kita berkewajiban melindungi mereka dari aspek kesejahteraan, keselamatan dan kesehatan kerja, dan jaminan sosial,” pungkasnya.
Biro Humas
Red










