
global cybernews.com –Kompleks Candi Dieng adalah kelompok kompleks candi Hindu abad ke-7 terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia. Kompleks yang terdiri dari beberapa bangunan ini berasal dari Kerajaan Kalingga:79,90 Kawasan dataran tinggi ini merupakan tempat berdirinya delapan candi Hindu kecil yang merupakan salah satu bangunan keagamaan tertua yang masih bertahan yang pernah dibangun di Jawa.
Nama sebenarnya dari candi tersebut, sejarah, dan raja yang bertanggung jawab atas pembangunan candi-candi ini tidak diketahui. Hal ini dikarenakan kelangkaan data dan prasasti yang menjelaskan terkait pembangunan candi-candi ini. Penduduk Jawa lokal menamakan setiap candi sesuai dengan tokoh wayang Jawa, kebanyakan diambil dari epos Mahabharata.
Sejarah
Kompleks candi ini dibangun pada kisaran pertengahan abad ke-7 sampai akhir abad ke-8 Masehi, namun perkiraan tersebut tidak menjelaskan secara pasti terkait kapan candi-candi tersebut selesai dibangun. Kompleks tersebut merupakan bangunan menhir tertua yang diketahui di Jawa Tengah. Diperkirakan semula terdapat sebanyak 400 candi, tetapi hanya delapan yang tersisa saat ini.
Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya prasasti berangka tahun 808 Masehi yang merupakan prasasti tertua dengan tulisan huruf Jawa kuno di candi tersebut. Dan sampai saat ini prasasti tersebut masih ada.
Sampai saat ini belum ada literatur yang menjelaskan kapan pembangunan candi ini selesai, meskipun para ahli mengatakan bahwa candi ini dibangun berdasarkan perintah raja-raja dari Dinasti Sanjaya. Pembangunan Candi Dieng diperkirakan dilakukan secara dua tahap.
Tahap pertama berlangsung pada akhir abad ke-7 sampai perempat pertama abad ke-8. Pada tahap pertama ini, dilakukan pembangunan candi yaitu Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Semar, serta Candi Gatutkaca. Sedangkan pembangunan keduanya dilakukan setelah tahap pertama selesai dibangun, yaitu sekitar tahun 780 Masehi.
Setelah mempelajari gaya arsitektur candi Jawa, arkeolog mengelompokkan Kompleks Candi Dieng ke dalam gaya arsitektur Jawa Tengah bagian Utara, bersamaan dengan Candi Gedong Songo, Candi Badut di Jawa Timur, serta Candi Cangkuang dan Candi Bojongmenje di Jawa Barat. Selain itu, para arkeolog juga mengemukakan bahwa semua candi pada kompleks ini dibangun dalam periode yang sama, berkisar antara abad ke-7 sampai abad ke-8. Sebuah prasasti bertarikh sekitar tahun 808-809 M yang ditemukan di dekat Candi Arjuna, Dieng, menjadi salah satu contoh aksara Jawa kuno tertua yang masih bertahan. Prasasti tersebut mengungkapkan bahwa Candi Dieng terus dihuni dari pertengahan abad ke-7 sampai awal abad ke-9.
Candi-candi Dieng ditemukan kembali pada 1814 oleh seorang tentara Britania yang berkunjung yang melihat reruntuhan candi berada di tengah danau. Saat itu dataran sekitar Candi Arjuna kebanjiran dan membentuk danau kecil. Pada 1856, Isidore van Kinsbergen memimpin upaya mengeringkan danau untuk mengungkap secara utuh candi-candi tersebut. Pemerintah Hindia Belanda melanjutkan proyek rekonstruksi pada 1864, dilanjutkan dengan studi lebih lanjut dan foto-foto yang diambil oleh Van Kinsbergen. Candi-candi tersebut saat ini diyakini telah dinamai sesuai dengan para pahlawan dari epos Hindu Mahabharata.
Kelompok Candi di Candi Dieng
Di Candi Dieng, terdapat 4 kelompok candi yang terdiri dari:
- Kelompok Arjuna: Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Sembadra, Candi Puntadewa, dan Candi Semar.
- Kelompok Gatutkaca: Candi Gatutkaca, Candi Setyaki, Candi Nakula, Candi Sadewa, Candi Petruk, dan Candi Gareng.
- Kelompok Dwarawati: Candi Dwarawati, Candi Abiyasa, Candi Pandu, dan Candi Margasari.
- Candi Bima yang berdiri sendiri di atas bukit, yang merupakan bangunan terbesar di antara semua kelompok candi.
Arsitektur Candi Dieng
Karena merupakan candi yang berada di Jawa Tengah bagian utara, maka bangunan Candi Dieng cenderung berukuran lebih kecil, sederhana, dan ornamen yang ada terkesan kurang jika dibandingkan dengan candi-candi besar dan banyak dekorasi seperti candi-candi yang berada di Jawa Tengah bagian selatan.
Candi-candi yang berada di Jawa Tengah bagian utara dikelompokkan ke dalam kelompok yang tidak beraturan dengan variasi gaya candi masing-masing, yang berbeda dengan candi-candi di Jawa Tengah bagian selatan dengan desain perwara sebagai candi kecil pelengkap yang seragam.
Di sepanjang relung dan pintu keluar masuk pada candi yang tersisa, digunakan arsitektur topeng kala Jawa paling awal dan dan monster laut Makara. Bangunan-bangunan Candi Dieng cenderung kecil dan sederhana.
Rute Perjalanan ke Candi Dieng
Untuk bisa sampai ke Candi Dieng, kamu membutuhkan waktu sekitar 50 menit dengan jarak 25,6 kilometer dari pusat Wonosobo jika ingin mengunjungi Candi Arjuna. Perjalanannya dapat dilalui dengan melewati Jalan Dieng dan Jalan Kejajar-Dieng.
Sedangkan untuk berkunjung ke Candi Bima, kamu membutuhkan waktu sekitar 52 menit dengam jarak 27,2 kilometer dari pusat Wonosobo.
Perjalanannya juga dapat dilalui dengan melewati Jalan Dieng dan Jalan Kejajar-Dieng, sama dengan rute perjalanan ke Candi Arjuna.
Red









