spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeUncategorisedKendali Ego dan Ambisi Melaluiui Kesadaran Kemampuan dan Kecerdasan Spiritual

Related Posts

Featured Artist


Kendali Ego dan Ambisi Melaluiui Kesadaran Kemampuan dan Kecerdasan Spiritual


Jacob Ereste :

Global Cyber News.Com. -Orang yang sulalu ingin didengarkan komentar dan pendapatnya, tapi ogah untuk mendengar komentar dan pendapat orang lain adalah cermin dari egoisme yang berlebih, tak terkendali, karena memiliki nafsu berlebih untuk tampil dan ingin selalu dianggap penting dan lebih terhormat dari siapapun yang ada di sekelilingnya saat berbicara. Sedangkan orang yang memiliki kemampuan untuk mendengar dan memberi kesempatan berbicara kepada siapapun untuk mengumbar pemikiran dan pendapatnya adalah mereka yang bijak untuk memahami sifat dan sikap dari diri mereka yang mengumbar pendapat maupun gagasannya yang sangat mungkin bisa lebih banyak memetik manfaat tapi juga tidak akan menunjukan kebodohannya yang paling naif dan bisa merendahkan dirinya sendiri.

Dalam konteks inilah. diam itu bisa bermakna emas, tidak saja menutup kemungkinan bagi orang lain untuk tidak mengetahui kekurangan dari diri kita lebih banyak, tetapi juga untuk terus membangun kesabaran dan kesadaran diri bahwa sikap dan sifat ugahari seperti itu senantiasa diperlukan guna memperkukuh sifat dan sikap bijak yang harus terus menerus berada dalam kendali diri yang dapat menjadi bagian dari watak dan kepribadian serta karakter yang konstan dan stabil. Setidaknya, tidak akan menjadi sosok yang munafik, membebek, karena hasrat untuk selalu menyenangkan hati orang lain dalam tampilan yang palsu.

Berbicara, mendengar bahkan menuliskan pikiran secara baik dan runtut adalah keahlian dan kemampuan yang berbeda untuk setiap orang. Karena itu biaa dipercaya sebagai baguan dari anugrah Tuhan ysng patut disyukuri, sehingga tidak perlu membuat kepongahan diri yang tidak baik, baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain.

Sikap pongah yang tumbuh dibawah dasar kesadaran yang tidak terkontrol itu, menurut psikolog akibat dari perasaan yang berlebih dari anggapan telah berjuang keras, merasa lebih banyak berkorban dan merasa sudah memberi perhatian dari siapapun, sehingga merasa lebih berhak medapat keistimewaan dan perlakuan berlebih dari siapapun, sehingga dianggap tidak cukup pantas untuk disandingkan, apalagi hanya ingin diakui untuk lebih berhak atau lebih berjasa dari dirinya yang acap disebut narsisistik oleh para ahli psikoanalisis eksistensialisme.

Pertanyaan tentang manusia begitu cenderung bersifat qmbisius dan egoistik, memang sifat bawaan manusiawi yang harus dikelola agar dapat mesin produksi yang mencetak hasil karya yang posotif dengan mengelola mesin produksi tersebit mampu meberi nilai bagi kemanusiaan yang tidak terbatas untuk dikonsumsi sendiri, tapi juga dapat bermanfaat bagi orang banyal. Maka pada titik persilangan inilah proses pengelolaan memerlukan tata kelola (budaya, etika kerja) moralitas (konsistensi dan keyakinan diri untuk segala sesuatu harus baik dan memberi manfaat bagi orang banyak) sehingga sikap dan sifat kepribadian) dalam satu mekanisme dari sebuah mesin produksi (jiwa dan raga yang menyatu dalam tubuh setiap manusia memiliki nilai-nilai spiritual — unsur ilahiah– yang sangat dibutuhkan sepanjang hidup manusia sampai berakhir ke liang kubur. Inilah bukti nyata dari gerakan kesadaran pemagaman terhadap dimensi-dimensi serta muatan nilai spiritual bagi manusia di penghujung jaman ini sangat mendesak serta dibutuhkan segera untuk manusia agar tidak tergerus nilai-nalai kemusiaannya yang luhur.

Banten, 15 September 2026

Red

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Posts