
Global Cyber news.com. -Semakin benar seseorang memahami agama, semakin bijaksana ia memandang kesuksesan. Kekayaan, jabatan, dan popularitas bukan lagi tujuan utama, melainkan sarana untuk berbuat kebaikan. Kesuksesan sejati terletak pada ketakwaan, keteguhan beribadah, keikhlasan beramal, dan perjuangan menjaga iman hingga akhir hayat. Sebab, kemenangan terbesar bukanlah pujian manusia, melainkan keridaan Allah dan keselamatan di akhirat.
Perubahan Cara Pandang Tentang Kesuksesan
Ada masa ketika seseorang mengukur keberhasilan hidup dari banyaknya harta, tingginya jabatan, luasnya pengaruh, atau banyaknya orang yang mengenalnya. Ukuran seperti itu begitu kuat dalam kehidupan masyarakat sehingga tidak sedikit orang mengorbankan waktu, kesehatan, bahkan prinsip hidup demi mengejarnya. Namun, ketika seseorang semakin memahami ajaran Islam, ia akan menyadari bahwa dunia bukanlah tujuan akhir perjalanan manusia.
Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya, memiliki jabatan, berprestasi, atau memperoleh penghargaan. Semua itu dapat menjadi nikmat sekaligus sarana untuk menebarkan kemaslahatan. Persoalannya bukan terletak pada banyak atau sedikitnya dunia yang dimiliki, melainkan pada bagaimana seseorang memperoleh, menggunakan, dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh warna kulit, keturunan, kekayaan, atau kedudukan sosialnya. Kemuliaan sejati berkaitan dengan ketakwaan, yakni kesungguhan menaati perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Takwa yang Hidup Dalam Hati
Kesuksesan seorang mukmin bermula dari hati yang senantiasa menyadari kehadiran Allah. Ia berhati-hati ketika berbicara, menjaga kejujuran ketika bekerja, menahan diri dari mengambil hak orang lain, dan tetap berbuat baik meskipun tidak ada manusia yang menyaksikannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
التَّقْوَى هَاهُنَا، وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
Artinya: “Takwa itu di sini.” Beliau menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. (HR. Muslim, no. 2564).
Hadis ini menegaskan pentingnya keadaan hati dalam kehidupan seorang muslim. Namun, ketakwaan bukan sekadar perasaan batin atau pengakuan lisan. Ketakwaan harus tercermin dalam perilaku, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan ketaatan kepada Allah. Hati yang baik semestinya mendorong lahirnya amal yang baik pula.
Karena itu, jangan merasa telah sukses hanya karena hidup berkecukupan, sementara salat sering diabaikan, kejujuran dikorbankan, dan hubungan dengan sesama dipenuhi permusuhan. Sebaliknya, jangan pula menganggap diri gagal hanya karena kehidupan belum mencapai kemewahan yang diimpikan. Selama seseorang berusaha dengan halal, bersabar, memperbaiki diri, dan mendekat kepada Allah, selalu ada kebaikan yang layak disyukuri.
Istiqamah Hingga Akhir Hayat
Salah satu bentuk kesuksesan terbesar adalah memperoleh pertolongan Allah untuk tetap taat sampai akhir kehidupan. Semangat beribadah ketika sehat dan lapang perlu dijaga ketika sakit, menghadapi kesulitan, atau memasuki usia senja. Kita tidak cukup hanya memulai perjalanan dengan baik, tetapi juga perlu memohon agar Allah meneguhkan hati hingga akhir.
Allah berfirman dalam Surah Fussilat ayat 30:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata, ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS. Fussilat: 30).

Istiqamah berarti terus berusaha berada di jalan yang benar, bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan. Ketika tergelincir dalam dosa, seorang mukmin segera bertobat. Ketika semangat melemah, ia berusaha bangkit. Ketika menghadapi ujian, ia bersabar tanpa kehilangan harapan kepada rahmat Allah.
Kesuksesan juga berarti berusaha menghidupkan sunah Rasulullah ﷺ dengan mengikuti petunjuk beliau berdasarkan ilmu, bukan sekadar mengikuti kebiasaan tanpa memahami tuntunannya. Menjaga salat, menyantuni orang miskin, berkata benar, menghormati orang tua, menyayangi keluarga, dan tidak menyakiti sesama merupakan bagian dari amal yang memperindah kehidupan seorang muslim.
Mengharapkan Surga, Menjalani Kehidupan Dengan Amal
Puncak harapan seorang mukmin adalah memperoleh keridaan Allah dan masuk ke dalam surga-Nya. Untuk tujuan itulah kehidupan dunia seharusnya dijalani dengan kesadaran bahwa setiap kesempatan merupakan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari, no. 6018, dan Muslim, no. 47).
Hadis ini memberikan tuntunan sederhana tetapi mendalam. Kesuksesan tidak selalu membutuhkan panggung besar. Terkadang, keberhasilan justru tampak ketika seseorang mampu menahan ucapan yang menyakitkan, memaafkan kesalahan, menolong tanpa mengharapkan pujian, dan menjaga amanah meskipun ada kesempatan untuk berkhianat.
Kita juga perlu menyadari bahwa amal bukanlah harga yang dapat memaksa Allah memasukkan seseorang ke surga. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa tidak seorang pun masuk surga semata-mata karena amalnya, melainkan karena rahmat Allah. (HR. Bukhari, no. 5673, dan Muslim, no. 2816). Karena itu, kita beramal dengan sungguh-sungguh, sekaligus merendahkan hati dan mengharapkan rahmat-Nya.
Marilah kita mengevaluasi kembali ukuran keberhasilan hidup. Apakah bertambahnya usia membuat kita semakin dekat kepada Allah? Apakah bertambahnya harta menjadikan kita semakin dermawan? Apakah ilmu membuat kita semakin rendah hati? Apakah kedudukan menjadikan kita semakin adil dan bermanfaat bagi sesama?
Dunia boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai menguasai hati. Keberhasilan duniawi patut disyukuri, sedangkan kekurangan duniawi tidak seharusnya membuat kita berputus asa. Selama napas masih berembus, kesempatan bertobat, memperbaiki amal, dan menebarkan kebaikan tetap terbuka.
Semoga Allah menganugerahkan hati yang bertakwa, amal yang ikhlas, kehidupan yang bermanfaat, serta keteguhan iman hingga akhir hayat. Semoga kesibukan kita di dunia tidak melalaikan kita dari akhirat, dan semoga pada akhirnya kita dikumpulkan bersama orang-orang saleh dalam surga-Nya. Aamiin.
Red










