
Global Cyber News.Com|Adalah Mas Eko
Galgendu yang as selalu terus mendorong dan memberi semangat agar gairah dan semangat menghatati laku spiritualitad terus bangkit dan dilakukan di Indonesia. Karena masalah yang membuat tatanan disharmoni dan kacau seperti yang sedan dialami bangsa dan negara Indonesia, terus tak kunjung selesai. Mas Eko Galgendu mengisyaratkan akibat nyata dari merosotnya nilai-nilai kualitas dari spiritualitas warga bangsa Indonesia karena terbius oleh nilai-nilai materi dan politik praktis serta budaya yang serba instan.
Pada gilirannya sulit diharap akan muculnya sikap kesadaran dan kecerdasan yang bersifat spiritual untuk hidup lebih bermakna bagi orang banyak. Bukan sekedar untuk diri sendiri.
Memang semakin banyak orang yang percaya pada spiritualitas sebagai salah satu solusi untuk mengatasi masalah hidup dan kehidupan yang semakin kompleks. Namun tidak sedikit pula yang melupkakan atau bahkan sama sekali meninggalkannya, karena semakin asyik bergulat dan mengejar hal-hal yang lebih bersifat duniawi yang diprovokask oleh teknologi modern.
Spiritualisme pada dasarnya senantiasa akan mengajak semua orang untuk terus tak henti mencari keheningan serta ketenteraman bathin atau hati agar bisa lebih menikmati hidup dalam suasana tenteram serta damai dalam pengertian lahir dan bathin.
Badan Kesehatan Dunia WHO (World Health Organization) telah membuat rumusan serta definisi ikhwal dari manusia sebagai makhluk psikologis, sosial, dan spiritual. Sehingga para psikolog percaya bahwa tingkat kecerdasan dari spiritualitas seseorang adalah faktor yang tidak kalah penting bagi kesehatan mental.
Adapun essensi dari kecerdasan spiritual itu bisa dibangun oleh setiap orang yang menaruh minat serta keinginan perhatian untuk mengembangkan potensi spiritual yang dimilkinya sesuai dengan sumber daya yang ada.
Yang dimaksud dari kecerdasan spiritual adalah kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh seseorang terkait dengan potensi intelektualitas dari spiritualitas yang dimilikinya untuk mengekplorasi sumber daya kemampuannya yang berkaitan dengan spiritual guna menata kualitas hidup lebih bermakna.
Pada gilirannya potensi dan sumber daya spiritualitas yang ada dapat didayagunakan secara maksimal untuk dapat meningkatkan kemampuan memadukan impful-imful spiritual yang hidup dalam batin dan jiwa maupun yang ada di luar dirinya juga.
Kecerdasan spiritual memang lebih bersifat pribadi sehingga jarang menjadi bagian dari topik pembicaraan dalam tata hubungan sosial kemasyarakatan pada umumnya. Karenanya kajian yang serius dan mendalam pada nilai-nilai maupun seluk beluk spiritual maupun spiritualitas bisa dikata masih langka. Kecuali oleh kelompok kerja yang gigih dibesut oleh Mas Eko Galgendu bersama kawan-kawannya di kawasan Juanda Jakarta Pusat.
Meski begitu ada catatan menarik dari penelitian yang termuat dalam Journal of Fundamentals of Mental Health, cukup memberi petunjuk adanya kesadaran yang terkait dengan kecerdasan spiritual dalam kehidupan sosial.
Dari studi yang lain ada juga bukti yang cukup memperlihatkan adanya hubungan positif antara kedadaran serta kecerdasan spiritual dengan rasa empati dan kepuasan hidup seseorang yang tekun dan asyik menekuni olah dan laku spiritual.
Syahdan, katanya tipe inteligensi serupa ini dapat disimpulkan — meski masih bersifat sementara — adanya nilai-nilai yang mampu mendorong potensi yang ada pada setiap manusia untuk lebih memiliki kemampuan menghadapi pengalaman sulit, seperti rasa duka dan rasa atas sesuatu yang hilang.
Spiritualitas sesungguhnya merupakan bagian penting dari pengalaman pribadi orang seorang. Karena itu untuk dapat memahami tingkat kualitas dan kecerdasan spiritual seseorang tidak bisa ditakar begitu saja, sehingga lebih dominan untuk diyakini dan dipercayai saja apa adanya. Atau tidak sama sekali untuk dipercaya. Namun saran bisa dicoba bagi yang berminat untuk membangun kesadaran dan kecerdasan spiritual dengan cara melatihnya secara timbal balik. Kesadaran yang membanun kecerdasan, kecerdasan yang bisa membangun kesadaran.
Sebagai manusia yang memang tidak sempurna, setiap orang bisa melakukan usaha perbaikan menuju kesempurnaan. Upaya untuk bisa memperbaiki kesadaran dan kecrdasan hanya mungkin dapat diraih dengan kegigihan yang terus menerus dan intens.
Perenungan dan penghayatan bisa dilakukan dengan cara meditasi. Menurut Mas Eko Galgendu itulah laku yang dikerjakaannya dengan cara mendatangi tempat dianggap “wingit” yang dirasakan oleh “mata batin” memiliki nuansa spirutual. Cara meditasi di tempat-tempat tertentu yang menjadi pilihan akan membantu proses belajar atau untuk meningkatkan great kesadaran dan kecerdasan spiritual. Hingga akhirnya mampu melakukan secara nyata visualisasi dari apa yang tak biasa dialami dan dilakukan oleh orang banyak.(Jacob Ereste)
Jakarta, 5 Juni 2021
Red.








