
Global Cyber News.Com|Revolusi mental bagi warga bangsa Indonesia itu sudah sangat mendesak untuk dilakukan agar semua warga bangsa mampu membentengi diri, masyarakat dan seluruh bangsa Indonesia supaya tak cuma membangun, tapi juga mampu menjaga segenap warga bangsa dan negara Indonesia melakukan kerusakan.
Karenanya dalam semangat untuk membangun tak boleh terjadi kerusakan dalam bentuk apapun juga. Karena dari pembangunan fisik — seperti alam lingkungan hidup — tidak boleh rusak, karena semua itu memiliki keterkaitan yang erat dengan tata kehidupan lainnya. Apalagi untuk pembangunan non fisik, seperti adat kebiasaan yang baik, budaya suku bangsa yang penuh nilai-nilai moral, spiritual dan akhlak mulia yang sudah sejak lama terpelihara dalam komunitas masing-masing suku bangsa kita yang kaya serta beragam nuansa coraknya yang indah.
Agaknya dalam arus serupa inilah Gerakan Rekonsiliasi Moral Indonesia (GRMI) yang dimotori oleh Eko Sriyanto Galgendu dan kawan-kawan mendengungkan revolusi mental dan revolusi spiritual itu sangat penting bagi segenap anak bangsa Indonesia sebagai ekspresi dari komitmen kebangsaan dan gairah ikut membangun bangsa supaya memiliki keteguhan sikap dan sifat dalam kepribadian yang khas dan otentik milik bangsa Indonesia sendiri.
Karena itu, spirit yang perlu dalam membangun jiwa bangsa Indonesia harus tetap berpijak pada UUD 1945 dan Pancasila sebagai acuan dari setiap gerakan dalam membentuk jiwa merdeka. Tidak boleh minder saat bersanding dengan bangsa-bangsa lain dari negeri manapun.
Samangat dari jiwa revolusioner, ketangguhan mental maupun spiritual yang tinggi harus menjadi bagian dari landasan pijak langkah yang berderap menuju masa depan yang lebih baik. Dalam rangkaian gerak inilah integritas, kualitas serta nilai manfaat bagi orang lain dapat terukur dengan tetap menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa termasuk martabat negara dalam pergaulan antar bangsa di dunia. Karena itu kedaulatan rakyat perlu dan penting menjadi perisai dari kedaulatan negara agar tidak sampai menjadi bulan-bulanan oleh bangsa-bangsa asing.
Nilai-nilai luhur spiritual sebagai pendukung semangat bekerja keras dengan karakter yang kukuh dalam satu bingkai kepribadian yang luhur, pasti akan menjadi modal dasar yang tidak mungkin tergoyahkan oleh pihak manapun dalam usaha membangun jiwa bangsa Indonesia yang tangguh. Apalagi semua itu dapat didukung oleh sikap dan sifat dari watak bangsa Indonesia yang ramah, mau saling tolong menolong, saling memberi, enuh cinta dan kasih untuk berbagi serta gemar bergotong royong.
Kesadaran sikap bagi seluruh anak bangsa yang terbingkai dalam bhineka tunggal ika ini menjadi dasar kesadaran dari kebersamaan dan persatuan yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain.
Dari realitas sejarah masa perjuangan kemerdekaan Indonesia pun, kesadaran pada hakikat dari kemerdekaan itu adalah milik bangsa, bukan milik negara. Dan dalam tataran ini, revolusi mental dan revolusi spiritual jelas momentumnya menjadi sangat tepat untuk terus menerus digaungkan, seperti yang telah riuh dicanangkan dan dilakukan oleh GRMI yang dimotori oleh Eko Sriyanto Galgendu. Karena ipaya membangun harus terap berjalan, sementara kerusakan tidak boleh dibiarkan. Maka itu tevolusi mental, moral dan spiritual harus dilakukan dengan serempak tanpa kecuali.
GRMI sendiri menurut Eko Sritanyo Galgendu telah mentemai kader-kader terpilih bersama sejumlah relawan di semua penjuru tanah air. “Mereka siap berbakti demi Ibu Pertiwi”, katanya seusai mengukuhkan para soko guru pendukung sekaligus motor yang memasak program untuk GMRI yang akan terus melakukan pencerahan di daerah’daerah maupun pusat yang tempat kedudukan dari sentral kegiatan di Jakarta.
Program kerja nyata GRMI ini menurut Eko Sriyanto Galgendu akan dilakukan juga dalam bentuk safari keliling ke kantong-kantong budaya di daerah untuk memberi pencerahan sekaligus demi dukungan bagi relawan-relawan GRMI di daerah lain yang tak lelah berbakti demi Ibu Pertiwi.
Jakarta, 26 Juni 2021
Red.