
Global Cyber News.Com|Mental itu sikap dan sifat manusia yang cuma mengacu pada akal semata, tidak masuk dalam kontrol rasa atau bathin. Karena mental itu tidak melihat dengan menggunakan mata hati. Sedangkan moral lebih dominan bersandar pada kata hati, hingga agak kurang menggukan akal pikiran. Berbeda lagi dengan nilai spiritual yang dihasilkan oleh olah pikir dan olah rasa (batin). Maka itu mental dan moral masuk dalam wilayah kekuasaan spiritual, tinggal bagaimana orang yang bersangkutan memberi bobot dari mutu muatannya.
Lalu orang acap menyebut pula bila spiritualitas setara bobotnya dengan agama. Jadi kalau cuma bobotnya saja yang sama, tidaklah menjadi soal. Sebab spiritual itu memang sangat dekat dan mesra dengan keberadaan agama yang dianut oleh siapun.
Jadi laku spiritual itu selalu hadir bergandeng mesra beriringan dengan agama. Artinya, bisalah disimpulkan bahwa spiritual itu bukan agama. Karena masing-masing jenis kelaminnya berbeda.
Pertanyaan Dinda Muniroh memang cukup kritis dan menggoda untuk dijawab. Setidaknya dalam persepsi dan perspektif saya pribadi. Sehingga semoga saja pertanyaan itu tak hendak menguji pemahaman saya yang dianggap getol menulis ikhwal spiritual dengan referensi langsung Mas Eko Sriyanto Galgendu sebagai penggagas sekaligus pelopor gerakan revolusi spiritual yang tak melihat cukup bila hanya dilakukan dengan revolusi mental semata tanpa revolusi moral. Lantaran mental dan moral itu lain jenis kelaminnya puls. Sehingga kalau saja dapat dikawinkan, mereka akan melahirkan anak yang berwatak ciamik, dehingga bisa lebih banyak memberi makna dan manfaat bagi orang banyak.
Revolusi mental yang sudah dicanangkan Joko Widodo sejak saat kampanye calon Presiden pada periode pertama berpasangan dengan Jusuf Kalla, revolusi mental itu sudah menjadi seperti trade mark-nya yang kemudian diperkukuh oleh gagasan tentang Nawacita.
Jika pun gagasan revolusi mental dan nawacita itu sudah bisa dikata berhasil, nyata sekali perilaku korupsi justru semakin gila-gilaan dilakukan oleh pejabat negara atau pejabat pemerintah. Jadi memang mental saja tidak cukup untuk mengerem hasrat maling dan keculasan para bedebah itu menilep duitnya rakyat. Termasuk mereka yag tidak bermoral yang menggasak dana bantuan sosial untuk rakyat
Bayangjan saja, betapa tidak bermoralnya mereka yang ngentit duit bantuan sosial itu, karena yang pertama mereka telah melakukan manipulasi ganda atas nama rakyat yang justru tidak pernah menerima secara utuh nilai dana yang mereka klaim hendak dan telah diberikan kepada rakyat. Tapi nyata tidak.
Artinya, moral etika itu adalah produk dari sikap mental dan moral orang yang bersangkutan. Sebab kalau hanya mental yang diandalkan, maka sikap tambeng atau nekat toh sudah dibuktikan oleh keberanian mereka melakukan keculasan dan penyimpangan dari amanah yang harus dilakukan atas dasar sumpah jabatan yang sudah dilafaskan dengan pasih dan merdu bunyinya itu dahulu.
Jadi mental untuk melawan Tuhan seperti yang dikatakan Profesor Salim Said sungguh nyata dan terjadi di Indonesia. Karena para koruptor di negeri kita, toh tidak pernah takut pada Tuhan. Mereka cuma takut pada KPK. Maka itu KPK pun secepatnya terus mereka dikebiri, meski harus dengan ongkos yang mahal.
Paparan tulisan ini sungguh ingin didedikasikan bagi Dinda Munaroh yang — diam-diam tapi serius — memberi suport luar biasa pada kawan- kawan kaum pergerakan untuk meneguk nutrisi yang sehat agar dapat berbuat lebih banyak dalam usaha membangun kesadaran untuk pemberdayaan rakyat yang mandiri serta bermartabat dengan kepribadian yang kukuh dan kuat guna menghadapi terpaan zaman dengan segenap gelombang dan angin puting beliungnya yang memusingkan.(Jacob Ereste)
Banten, 7 Juli 2021
Red.